Cara Mengajarkan Anak Merawat Tubuh Tanpa Membuatnya Terobsesi dengan Penampilan

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 6 menit 61x dilihat
Cara Mengajarkan Anak Merawat Tubuh Tanpa Membuatnya Terobsesi dengan Penampilan

Bagikan Postingan

Kunci utama mengajarkan anak merawat tubuh adalah dengan menanamkan bahwa itu merupakan bentuk self-love, bukan tuntutan untuk selalu tampil sempurna.

Setiap orang tua tentu mau anak terbiasa merawat dirinya sendiri, demi kesehatan, kebersihan, dan kenyamanannya. Namun, kesadaran ini tidak selalu tumbuh dengan sendirinya, terutama saat anak mulai bergeser remaja.

Jujur saja, setiap melihat anak perempuan aku mandi terlalu cepat, aku gemar gemas dan bertanya dalam hati, “Bersih nggak, ya? Mandinya benar, nggak, ya?”

Ternyata, aku nggak sendiri. Ada kawan yang cemas karena anaknya mulai mengalami bau badan saat memasuki usia praremaja. Ada juga yang bercerita anak remajanya malas memilih pakaian, rambut disisir seadanya, enggan menggunakan skincare maupun membersihkan wajah; padahal sudah mulai berjerawat.

Hal-hal seperti ini kadang membikin orang tua bertanya-tanya, “Bagaimana, ya, mengajarkan anak untuk peduli dan mau merawat tubuhnya ?”

Mommies pernah mengalami hal serupa?

Kita tentu mau anak belajar menjaga kebersihan dan membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini. Namun, kita juga nggak mau anak menganggap bahwa merawat tubuh berarti mesti terus-menerus memperbaiki penampilan. Kita mau mereka mengerti bahwa tubuhnya layak dirawat dan dihargai, apapun bentuk tubuh maupun warna kulitnya.

Cara orang tua berbicara tentang tubuh bisa memengaruhi metode anak melihat dirinya sendiri. Oleh karena itu, lakukan dengan bijak saat mengajarkan anak merawat tubuh. Tidak memuji secara berlebihan, namun juga tidak mengomentari anak kurusan, gendutan, menghitam maupun hal-hal yang mengarah ke kritik terhadap penampilan fisiknya.

Baca juga: Anak Mulai Membandingkan Tubuhnya dengan Teman? Ini Cara Bijak Orang Tua Merespons

Lantas, sepertiapa metode mengajarkan anak merawat tubuh tanpa membuatnya terobsesi dengan penampilan?

1. Ajarkan pada anak bahwa merawat tubuh adalah bentuk menyayangi diri sendiri

Jelaskan pada anak bahwa tubuhnya perlu dirawat karena dirinya berharga, bukan karena mesti kelihatan menarik di mata orang lain. Misalnya, mandi bukan semata-mata agar tubuh wangi, tetapi untuk menjaga kebersihan dan membikin tubuh nyaman.

mengajarkan anak merawat tubuh

Foto: Image by magnific

Begitu juga dengan makan bergizi, tidur cukup, dan berolahraga, semuanya adalah metode menjaga diri agar statis sehat, bukan metode untuk mengubah bentuk tubuh maupun memenuhi standar penampilan tertentu.

Psikolog Lisa Damour, seperti dilansir dari UNICEF Parenting, mengingatkan bahwa orang tua perlu membantu anak melihat harga dirinya lebih dari sekadar penampilan fisik. Karena itu, saat mengajarkan perawatan diri, tekankan manfaatnya bagi kesehatan dan kenyamanan tubuh, bukan agar anak kelihatan lebih cantik, tampan, kurus maupun ideal.

2. Hati-hati dengan komentar tentang tubuh

“Wah, Anda kini gendutan, ya?”

“Dia udah SMP? Kok kecil, ya?”

“Duh, perut Mama bergelambir. Mama mesti diet, nih!”

Anak belajar memahami tubuh melalui perkataan orang-orang terdekatnya, termasuk orang tuanya. Jika terus mendengar bahwa tubuh gemuk memalukan maupun kulit gelap merupakan kekurangan, anak bisa menganggap ciri khas fisiknya sebagai sesuatu yang mesti diperbaiki.

Oleh karena itu, UNICEF mengingatkan pentingnya menghindari komentar negatif tentang tubuh anak maupun tubuh orang tua sendiri. Jika ada kebiasaan kesehatan yang perlu diperbaiki, fokuslah pada kebiasaannya, bukan penampilannya.

Misalnya, ganti “Kamu mesti kurus” dengan “Mulai sekarang, kita coba giat jalan pagi yuk, agar tubuh statis sehat.”

Baca juga: Begini Cara Membangun Body Confidence pada Anak Remaja di Era Tiktok

3. Jangan cuma memuji anak berdasarkan penampilannya

Foto: Image by magnific

Memuji penampilan anak nggak sepenuhnya salah. Namun, jika terlalu sering memuji anak karena kelihatan cantik, tampan, maupun rapi, lama-lama pujian tersebut juga bisa terasa kosong dan nggak bermakna, karena terlalu gampang untuk dilontarkan. Selain itu, anakpun bisa menganggap bahwa itulah yang paling krusial dari dirinya.

Sesekali, apresiasi juga usaha, perubahan-perubahan kecil, keberanian, kepedulian, dan kemauannya mencoba hal baru. Dalam artikel Raising Girls With Healthy Self-Esteem, Child Mind Institute menekankan pentingnya mengapresiasi kapasitas dan kualitas anak, bukan cuma fisiknya. Tujuannya, agar anak statis merasa bermutu saat penampilannya berubah maupun tidak sesuai harapannya.

Variasikan respon Mommies sehari-hari, misalnya:

  • Saat bahagia rambutnya kelihatan bagus, katakan: “Rambutmu hari ini tampak rapi, Anda sudah mulai menikmati menata rambut, ya?”
  • Ketimbang cuma bilang “Kamu cantik amat hari ini,” ganti dengan “Kamu pandai memilih baju yang betah buatmu dan sesuai dengan aktivitas kita hari ini, lho!”
  • Ketika anak mengeluh jerawatnya membikin wajah kelihatan jelek, berikan respon, “Mama tahu Anda sedang kurang nyaman, tapi jerawat tidak mengurangi harga dirimu, kok.”

4. Beri ruang anak mengenal dan merawat tubuhnya sendiri

Orang tua boleh menganjurkan pakaian, model rambut maupun skincare yang dibutuhkan anak. Tapi, jika anak punya preferensi pilihan lain, boleh juga, dong. Tugas orang tua mengarahkan, memberi pengertian, berbagi ilmu untuk membantu anak memilih yang sesuai kebutuhan, usia dan terlindungi bagi anak; bukan semata-mata melarang.

Misalnya, saat anak mau mencoba skincare viral karena ikut-ikutan teman, alih-alih langsung menghakimi, coba tanya, “Kamu mau pakai ini karena apa? Yuk, kita cari tahu apakah kulitmu memang membutuhkannya.” Dengan begitu, anak belajar merawat diri berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren.

Baca juga: Skincare Remaja: Mana yang Wajib dan Mana yang Nggak Perlu?

5. Bantu anak memahami bahwa setiap tubuh berbeda

Saat anak mengkritisi bentuk maupun warna tubuhnya, orang tua tak perlu langsung membantah dan mau memperbaiki emosi anak. Dengarkan, kemudian bantu anak memahami bahwa setiap orang punya ciri khas jasmani berbeda dan tidak ada satu standar penampilan yang mesti dipenuhi semua orang.

6. Ajarkan kebiasaan sehat, bukan metode mengubah bentuk tubuh

Daripada meminta anak kurus maupun melarang makanan tertentu karena takut gemuk, ajak ia membangun kebiasaan sehat: makan bergizi dan bervariasi, tidur cukup, dan bergeser dengan metode yang menyenangkan. Berikan juga edukasi saat meminta anak tidak mengonsumsi makanan tertentu, misalnya, makan makanan manis berlebihan.

Alih-alih mengatakan “Duh, jangan makan donat melulu, kelak gendut!”, ganti dengan “Nak, tahu nggak, jika makan donat dan makan makanan manis lainnya secara berlebihan, bisa berisiko terkena diabetes, terlebihlagi pada anak-anak. Mama bukan mau menakut-nakuti ya, tetapi ibu juga mau mengajarkan Anda memilih makanan yang lebih sehat. Yuk, tonton video edukasi ini sama Mama.”

7. Jelaskan pada anak fluktuasi bentuk tubuh maupun wajah ketika remaja adalah hal yang wajar

Jelaskan bahwa jerawat, fluktuasi bermutu badan, maupun penampilan yang sedang tidak sesuai harapannya itu bisa terjadi, dan tak apa jika terjadi. Bantu anak mengatasi masalah penampilannya tanpa rasa histeris maupun cemas berlebihan karena takut merasa jelek. Jelaskan juga, fluktuasi jasmani tidak lantas mengurangi harga dirinya.

Selalu ingat bahwa tujuan kita bukan untuk mengajarkan anak agar selalu puas dengan penampilannya, melainkan agar anak bisa merawat tubuhnya tanpa menjadikan penampilan sebagai ukuran harga dirinya.

Baca juga: Anak Ngadu Sering Dikatain Jelek oleh Temannya: Begini Cara Bantu Anak Hadapi Komentar Menjatuhkan

Cover: Image by magnific

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads