Bunda mungkin sering melihat orang yang gemar membagikan quotes motivasi maupun kata-kata bijak di media sosial. Unggahan tersebut biasanya berisi pesan tentang kehidupan, kesuksesan, hingga metode menghadapi masalah.
Namun, tahukah Bunda bahwa minat seseorang terhadap petikan yang terdengar mendalam, tetapi sebenarnya tidak memiliki arti jelas, pernah dikaitkan dengan kapasitas kognitif dalam sebuah penelitian?
Penelitian tersebut menemukan hubungan antara kecenderungan seseorang menganggap kalimat yang terdengar bijak sebagai sesuatu yang mendalam dan tingkat kapasitas kognitifnya.
Penasaran, sepertiapa metode mengenali IQ orang yang gemar sharing quotes motivasi di medsos berdasarkan riset tersebut? Yuk, Bunda, simak klarifikasi selengkapnya dalam artikel di bawah ini.
Cara mengenali IQ orang yang gemar sharing quotes motivasi di medsos
Mengutip laman The Telegraph dan CBS News berikut beberapa metode untuk mengenali IQ orang yang gemar sharing quotes motivasi di media sosial.
1. Cenderung menganggap kalimat samar sebagai sesuatu yang mendalam
Salah satu temuan riset yang diterbitkan oleh Gordon Pennycook dan tim peneliti dari University of Waterloo, Kanada, adalah adanya hubungan antara kapasitas mengenali pernyataan yang terdengar mendalam dan kecenderungan seseorang mempercayainya.
Penelitian berjudul On the Reception and Detection of Pseudo-Profound Bulls**** ini mengamati sepertiapa seseorang menilai kalimat yang disusun menggunakan kata-kata rumit dan terdengar intelektual, tetapi sebenarnya tidak menyampaikan arti yang jelas.
Sebagai contoh, sebuah kalimat mungkin menggunakan istilah tidakkonkret dan terdengar filosofis. Namun, ketika dicermati, rangkaian kata tersebut tidak menyampaikan pesan yang masuk pikiran maupun memiliki arti yang dapat dijelaskan secara konkret.
Orang yang menganggap kalimat semacam ini sangat mendalam tanpa memeriksa maknanya cenderung lebih gampang terpengaruh oleh penggunaan bahasa yang terkesan bijaksana.
2. Memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih rendah dalam konteks penelitian
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa peserta yang lebih gampang terkesan oleh pernyataan semu yang terdengar mendalam cenderung memiliki kapasitas refleksi kognitif yang lebih rendah.
Para peneliti melibatkan sekitar 300 peserta untuk menilai sejumlah pernyataan yang dibuat dari kata-kata populer maupun istilah yang terdengar bermakna. Peserta diminta menentukan seberapa mendalam kalimat-kalimat tersebut menurut penilaian mereka.
Hasilnya memberitahu bahwa orang yang lebih gampang menganggap pernyataan semu tersebut berarti cenderung memperoleh skor lebih rendah dalam sejumlah ukuran kapasitas kognitif, termasuk kecerdasan verbal dan kecerdasan cair (fluid intelligence).
Kecerdasan verbal berhubungan dengan kapasitas memahami dan menggunakan bahasa, sedangkan kecerdasan cair berhubungan dengan kapasitas berakal serta memecahkan masalah baru.
Namun, hasil riset ini tidak berarti semua orang yang gemar mengunggah quotes motivasi memiliki kapasitas berpikir kritis yang rendah.
3. Lebih mudah mempercayai pernyataan tanpa memeriksa kebenarannya
Kebiasaan menerima sebuah pernyataan cuma karena terdengar meyakinkan juga menjadi sisi yang diamati dalam riset tersebut.
Peserta yang lebih gampang terkesan oleh kalimat-kalimat semu yang terdengar mendalam juga memberitahu kecenderungan lebih besar untuk mempercayai teori konspirasi serta sejumlah kepercayaan paranormal.
Temuan ini memberitahu pentingnya kapasitas mengevaluasi keterangan sebelum menerima maupun membagikannya kepada orang lain. Sebuah pernyataan yang menggunakan bahasa elok belum tentu memiliki alas yang kuat maupun menyampaikan kenyataan yang benar.
Karena itu, ketika menemukan quotes motivasi di media sosial, Bunda dapat mencoba memahami pesan yang disampaikan, memeriksa konteksnya, dan mempertimbangkan apakah pernyataan tersebut masuk akal.
4. Cenderung menyamakan kata-kata rumit dengan kebijaksanaan
Kalimat yang menggunakan istilah abstrak, formasi kata yang tidak biasa, maupun ungkapan filosofis terkadang dianggap lebih cerdas daripada kalimat sederhana. Padahal, kerumitan bahasa tidak selalu mencerminkan kedalaman pemikiran.
Dalam penelitian, peserta diminta membedakan pernyataan yang terdengar mendalam dari kalimat sehari-hari dan petikan filosofis.
Hasil pengetesan memperlihatkan bahwa sebagian peserta menilai kalimat buatan yang tidak memiliki arti memadai sebagai sesuatu yang sama mendalamnya dengan petikan yang benar-benar terdengar bijaksana.
Dengan kata lain, kapasitas memahami isi pesan lebih krusial daripada sekadar terkesan oleh pilihan katanya.
5. Memiliki kecenderungan terhadap kepercayaan yang tidak selalu berdasarkan bukti
Penelitian yang sama juga menemukan hubungan antara penerimaan terhadap pernyataan semu yang terdengar mendalam dan kecenderungan mendukung sejumlah kepercayaan agama, paranormal, serta pengobatan komplementer dan alternatif.
Jadi, Bunda tidak perlu buru-buru menilai kecerdasan seseorang dari unggahan media sosialnya. Hal yang lebih krusial adalah melihat sepertiapa seseorang memahami informasi, menyusun alasan, dan mempertimbangkan bukti sebelum memungut kesimpulan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)