Menjadi pendengar yang baik berfaedah bisa memberi perhatian penuh pada apa yang disampaikan orang lain. Sikap sederhana ini dapat membikin seseorang merasa dihargai dan didengarkan, Bunda.
Ya, menjadi pendengar yang baik bukan hanya soal tak bersuara ketika orang lain berbicara, tetapi juga tentang gimana seseorang memahami musuh bicara. Kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik bisa jadi susah dimiliki oleh seseorang. Pada banyak kasus, kita mendengarkan tanpa sepenuhnya menghargai alias memaknai maknanya.
"Seringkali, kita secara refleks membangun solusi alias mengabaikan ketika merasa 'sudah pernah mendengar semuanya', sehingga kita melewatkan nuansa penting," kata master percakapan dan penulis kitab The Fine Art of Small Talk, Debra Fine.
"Sebaliknya, latihlah diri untuk tetap datang sepenuhnya agar dapat menyerap setiap kata," sambungnya, dilansir laman Reader's Digest.
Menjadi pendengar yang baik bisa membangun komunikasi yang efektif, Bunda. Sebaliknya, Jika kita tidak betul-betul mendengarkan, kemungkinan besar orang lain juga enggan untuk berbagi info penting.
Menurut sebuah studi tahun 2022, seseorang lebih mungkin membikin orang lain menerima ide-idenya, apalagi ketika mereka tidak setuju, jika kita menunjukkan bahwa kita aktif mendengarkan dan bersedia terlibat dengan pandangan mereka.
Mendengarkan secara aktif adalah sebuah keterampilan, yang berfaedah Bunda dapat meningkatkannya dengan berlatih. Di sisi lain, kita juga dapat mengenali orang bisa menjadi pendengar yang baik dari kebiasaannya.
Cara mengenali pendengar yang baik dari kebisaan
Nah, berikut telah Kincai Media rangkum, beberapa langkah untuk mengenali orang yang bisa menjadi pendengar baik dari kebiasaannya:
1. Suka memberikan isyarat verbal
Orang bisa menjadi pendengar yang baik ketika dia terbiasa memberikan isyarat verbal ketika berkomunikasi. Isyarat verbal ini dapat berupa respons positif dan mengungkapkan rasa empati.
"Jaga agar percakapan tetap mengalir dengan penegasan verbal singkat. Menggunakan frasa seperti 'benar', 'uh-huh', alias 'ceritakan lebih lanjut' dapat memberikan lampu hijau sosial, membuktikan bahwa seseorang terlibat dan konsentrasi pada pesan yang disampaikan orang lain," ungkap Fine.
2. Suka mengulangi apa yang dikatakan pembicara
Seorang pendengar yang baik sangat memperhatikan apa yang dikatakan orang lain padanya. Oleh lantaran itu, dia sering kali menunjukkan kebiasaan mengulangi omongan tersebut, Bunda.
Kebiasaan ini tak hanya memberi tahu pembicara bahwa kita mendengar dan memahami mereka, tapi juga membantu otak untuk mengingat percakapan tersebut. Sebagai bingkisan tambahan, kita kemudian dapat menggunakan info yang diingat tersebut di kemudian hari dalam percakapan, yang memperkuat bahwa kita telah mendengarkan.
3. Tidak berupaya memenangkan percakapan
Dikutip dari Your Tango, banyak orang kesulitan menjadi pendengar yang baik lantaran mereka tidak percaya diri secara emosional. Mereka mendekati percakapan sebagai kompetisi, dengan tujuan bawah sadar untuk menang dan merasa dibenarkan serta merasa baik tentang diri mereka sendiri.
Seorang pendengar yang baik mempunyai pola pikir kebalikan. Alih-alih memandang percakapan sebagai kejuaraan yang kudu dimenangkan, mereka memandangnya sebagai tindakan pelayanan yang sama sekali bukan tentang diri mereka. Pendengar yang baik mempunyai kesadaran bahwa tidak semua inti pembicaraan adalah tentang mereka.
4. Fokus pada orang, bukan masalah
Pendengar yang baik membantu orang lain untuk memahami bahwa 'hanya lantaran mereka mempunyai masalah bukan berfaedah mereka adalah masalah'. Cara mereka melakukannya adalah dengan menahan kemauan untuk menyelesaikan masalah alias memberikan nasihat sama sekali. Mereka berada di sana hanya mendengarkan serta menawarkan dukungan.
Tindakan tersebut nyatanya dianggap membantu orang lain merasa didengar dan memahami bahwa mereka mungkin bukanlah masalah. Untuk menjadi pendengar yang lebih baik, fokuslah pada orangnya, bukan masalahnya.
5. Memvalidasi emosi orang lain
Pendengar yang baik tidak pernah memperlakukan emosi sebagai masalah. Mereka bakal berempati dan memvalidasi emosi orang lain ketika mengungkapkan keluh kesah.
Seorang pendengar yang baik kerap membantu orang yang sedang berjuang untuk menyadari bahwa apa pun yang mereka rasakan adalah valid, tidak peduli sungguh menyakitkan alias sungguh tidak rasionalnya. Pendengar yang betul-betul berbakat bakal datang untuk berempati, bukan melakukan sesuatu hanya lantaran dianggap tindakan yang rasional.
6. Sangat menyadari emosi mereka sendiri
Pendengar yang betul-betul baik tidak mementingkan diri sendiri dalam percakapan. Tetapi satu-satunya langkah untuk menahan tarikan emosi sendiri dan tetap konsentrasi pada orang lain adalah kesadaran diri.
Untuk menahan pengaruh jelek dari sikap defensif, orang-orang ini kudu bisa mengakui dan memvalidasi emosi dan emosi diri mereka sendiri, Bunda. Pendengar yang baik mempunyai rasa empati terhadap diri sendiri sama seperti terhadap orang lain.
7. Suka mengusulkan pertanyaan
Sering mengusulkan pertanyaan juga merupakan kebiasaan dari seorang pendengar yang baik. Hal itu dilakukan untuk menjelaskan apa yang dikatakan pembicara dan menunjukkan bahwa dia mau tahu lebih banyak tentang perihal itu.
Selain itu, pertanyaan juga diajukan untuk mengembangkan buahpikiran dan memandang ke masa depan. Mereka mungkin mengusulkan pertanyaan yang mendalam untuk membantu pembicara mendapatkan solusi dari masalahnya.
Demikian beberapa langkah mengenali orang yang bisa menjadi pendengar baik dari kebiasaannya. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/som)