Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang tentu memerlukan hubungan yang sehat dan saling mendukung, baik dengan pasangan, keluarga, maupun teman. Kehadiran orang-orang terdekat yang memberikan rasa nyaman dapat membantu menjaga kesehatan mental dan meningkatkan kualitas hidup.
Namun, tidak semua hubungan memberikan akibat positif. Ada kalanya seseorang justru merasa lelah, tertekan, alias kehilangan kepercayaan diri setelah berinteraksi dengan seseorang yang menunjukkan sikap orang toksik dalam kesehariannya.
Jika dibiarkan, perilaku tersebut bisa membikin seseorang merasa tidak nyaman dan tidak dihargai. Karena itu, krusial untuk mengenali tanda-tandanya sejak awal agar Bunda dapat menjaga batas yang sehat dalam hubungan sosial. Lalu, seperti apa ciri-ciri orang toksik yang perlu diwaspadai? Simak penjelasan lengkapnya dalam tulisan berikut ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara mengenali orang toksik dari sikap sehari-hari
Melansir dari laman Your Tango, seseorang yang mempunyai perilaku toksik umumnya menunjukkan beberapa kebiasaan yang membikin orang lain merasa lebih jelek setelah berinteraksi dengannya. Berikut tanda-tandanya:
1. Terlalu mudah menghakimi dan sering merendahkan orang lain
Salah satu karakter orang toksik adalah doyan memberikan penilaian negatif secara berlebihan. Daripada memberikan dukungan, mereka justru sering mengkritik, mengejek, alias membikin orang lain merasa kurang percaya diri.
Dalam hubungan yang sehat, kawan alias orang terdekat semestinya menjadi sosok yang memberikan semangat dan dorongan positif. Jika seseorang lebih sering membikin Bunda merasa tidak cukup baik, perilaku tersebut patut diwaspadai. Apalagi jika dia juga kerap membicarakan keburukan orang lain di belakang mereka.
Menurut psikolog klinis Dr. Ramani Durvasula, perilaku merendahkan dan terus-menerus mengkritik dapat menjadi corak hubungan yang tidak sehat lantaran berpotensi merusak nilai diri seseorang.
2. Sering mendusta dan susah dipercaya
Setiap orang mungkin pernah mengatakan ketidakejujuran mini dalam situasi tertentu. Namun, orang toksik condong mendusta mengenai hal-hal yang krusial dan dapat merugikan orang lain.
Kebiasaan tidak jujur dapat menimbulkan konflik, kesalahpahaman, hingga hilangnya rasa percaya dalam hubungan. Ketika seseorang terus-menerus menyampaikan info yang tidak benar, hubungan bakal susah berkembang secara sehat lantaran fondasinya tidak lagi dibangun atas kepercayaan.
3. Mengkhianati kepercayaan orang lain
Tanda orang toksik berikutnya adalah suka mengingkari kepercayaan yang telah diberikan. Bentuknya bisa beragam, mulai dari menyebarkan rahasia pribadi, memutarbalikkan cerita, hingga memanfaatkan info yang semestinya dijaga dengan baik.
Padahal, kepercayaan merupakan dasar krusial dalam setiap hubungan. Ketika seseorang berulang kali melanggar kepercayaan tersebut, hubungan bakal dipenuhi rasa berprasangka dan ketidaknyamanan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa kepercayaan menjadi salah satu aspek utama yang mendukung kualitas hubungan interpersonal dan kesejahteraan psikologis.
4. Selalu menjadikan dirinya pusat perhatian
Orang toksik sering kali hanya konsentrasi pada dirinya sendiri. Saat Bunda mencoba bercerita tentang masalah yang sedang dihadapi, mereka justru mengalihkan pembicaraan ke pengalaman alias persoalan pribadi mereka.
Hubungan yang sehat semestinya melangkah dua arah. Setiap pihak perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk didengar dan dipahami. Jika seseorang terus-menerus mendominasi percakapan tanpa menunjukkan empati terhadap orang lain, perihal tersebut dapat menjadi tanda perilaku toksik.
Menurut kitab The Gifts of Imperfection karya Brené Brown, keahlian mendengarkan dan menunjukkan empati merupakan komponen krusial dalam membangun hubungan yang bermakna.
5. Terlalu mengontrol kehidupan orang lain
Ciri lain yang sering muncul adalah kemauan untuk mengatur keputusan dan kehidupan orang lain secara berlebihan. Mereka merasa paling tahu apa yang terbaik dan terus memberikan nasihat, apalagi ketika tidak diminta.
Orang seperti ini dapat membikin seseorang kehilangan kebebasan dalam mengambil keputusan. Padahal, hubungan yang sehat tetap menghormati pilihan, batasan, serta kemandirian masing-masing individu.
Teman yang baik bakal memberikan masukan saat diperlukan tanpa memaksakan kehendaknya. Mereka mendukung tanpa menghakimi dan menghormati keputusan yang diambil orang lain.
Jika Bunda menyadari ada seseorang yang terus-menerus membikin stres, kehilangan energi, alias merasa tidak dihargai, tidak ada salahnya untuk menetapkan batas yang sehat.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·