Cara Mengenali Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI di Masa Depan, Cek Daftarnya!

Aug 04, 2026 08:40 PM - 6 jam yang lalu 57

Khawatir AI mengganti pekerjaan Bunda? Kenali pekerjaan yang susah digantikan AI di masa depan.

Perkembangan kepintaran buatan alias artificial intelligence (AI) telah mengubah langkah banyak industri bekerja. Berbagai tugas yang sebelumnya dilakukan manusia sekarang mulai dibantu apalagi digantikan oleh teknologi yang bisa bekerja lebih sigap dan efisien.

Kondisi ini membikin banyak orang, termasuk para lulusan baru dan orang tua yang sedang membantu anak memilih karier, bertanya-tanya pekerjaan seperti apa yang bakal tetap dibutuhkan di masa depan?


Meski AI terus berkembang, para mahir menilai tidak semua pekerjaan bakal mudah tergantikan. Pekerjaan yang mengandalkan empati, kreativitas, keahlian praktis, hingga keahlian mengambil keputusan kompleks tetap memerlukan sentuhan manusia.

Untuk itu, memahami karakter pekerjaan yang lebih tahan terhadap disrupsi AI menjadi bekal krusial dalam merencanakan pekerjaan jangka panjang. 

Cara mengenali pekerjaan yang susah digantikan AI

Berikut daftar bagian pekerjaan yang dinilai lebih susah digantikan AI menurut para pakar.

1. Tenaga kesehatan

AI memang mulai dimanfaatkan di bumi kesehatan, terutama untuk membantu pekerjaan administratif seperti memproses resep, memeriksa blangko pasien, hingga menjawab pertanyaan umum. Menurut Hira Malik, apoteker sekaligus salah satu pendiri Oushk Pharmacy, pekerjaan yang berkarakter rutin dan berbasis informasi mempunyai kesempatan lebih besar untuk diotomatisasi.

Profesi seperti dokter, perawat, apoteker, dan tenaga medis yang mempunyai kewenangan menentukan pemeriksaan maupun pengobatan tetap bakal sangat dibutuhkan.

"AI dapat membantu mengatur info dan menandai potensi risiko, tapi AI tidak dapat memutuskan apakah suatu pengobatan kondusif alias tepat untuk diberikan kepada pasien," ujar Malik dilansir dari The Guardian.

Di sisi lain, master bedah plastik dan rekonstruksi Dr. Riaz Agha mengatakan beberapa spesialisasi medis juga lebih tahan terhadap AI lantaran setiap pasien mempunyai kondisi yang unik. Menurutnya, AI dapat menjadi perangkat pendukung dalam menganalisis kasus-kasus sebelumnya, namun keputusan akhir tetap berada di tangan dokter.

"Bedah plastik terlalu spesifik dan sangat individual. Setiap pasien mempunyai kondisi yang berbeda," kata Agha.

2. Guru dan pengasuh anak

Di bumi pendidikan, AI diperkirakan lebih banyak membantu pekerjaan administratif serta tugas pendukung pembelajaran dibanding menggantikan pembimbing sepenuhnya. Hubungan antara pembimbing dan siswa dinilai tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Pendiri Generational Success Lab di Universitas Oxford, Sharath Jeevan, mengatakan pekerjaan pembimbing tetap menjadi pilihan pekerjaan yang menjanjikan. Menurutnya, siswa bakal selalu memerlukan sosok orang dewasa yang dipercaya untuk membimbing proses belajar, memberi motivasi, sekaligus membangun karakter.

Hal serupa bertindak pada pekerjaan pengasuh anak. Pendiri sekaligus CEO agensi penitipan anak Tiney, Brett Wigdortz, mengatakan orangtua tetap menginginkan manusia untuk merawat anak-anak mereka.

AI memang dapat membantu komunikasi dan pengelolaan administrasi, tetapi tidak bisa menggantikan kehangatan dan perhatian seorang pengasuh. Selain menjadi pengasuh anak, kesempatan pekerjaan lain di bagian ini juga mencakup pengelola tempat penitipan anak, pembimbing pendidikan usia dini, tutor privat, hingga pengasuh ahli dengan jasa premium.

3. Pengacara

Di bagian hukum, pekerjaan yang berkarakter rutin seperti meninjau dokumen, menyusun draft awal, mengisi formulir, dan mengumpulkan info menjadi bagian yang paling mudah dibantu AI. CEO Lawhive, Pierre Proner, menjelaskan bahwa posisi paralegal maupun pengacara junior kemungkinan bakal mengalami perubahan terbesar lantaran sebagian tugas administratif dapat diselesaikan AI dengan cepat. Meski demikian, dia menegaskan pekerjaan tersebut tidak bakal hilang.

"Peran itu bakal tetap ada, hanya saja corak pekerjaannya bakal berubah," kata Proner.

Menurut Proner, pengacara masa depan justru bakal lebih banyak mengembangkan keahlian berpikir kritis, memberikan pertimbangan hukum, membangun hubungan dengan klien, sekaligus mengawasi hasil kerja AI. Ia menilai keahlian menggunakan AI sekarang mulai menjadi keahlian penting, sebagaimana penggunaan Microsoft Word alias Excel pada era sebelumnya.

Wakil Presiden Law Society of England and Wales, Brett Dixon, juga menilai otomatisasi pekerjaan rutin justru memberi kesempatan lebih besar bagi pengacara muda untuk mempelajari persoalan norma yang lebih kompleks dan meningkatkan kualitas kajian mereka.

4. Pekerja perhotelan

Industri perhotelan juga diprediksi mengalami perubahan akibat AI. Namun pekerjaan yang mengutamakan pelayanan langsung kepada pengguna dinilai tetap memerlukan manusia.

Direktur akademik Westmont Institute of Tourism and Hospitality di Nova School of Business and Economics, Prof. Graham Miller, mengatakan AI sebaiknya digunakan untuk menangani pekerjaan rutin, seperti membalas e-mail alias administrasi. Dengan begitu, staf hotel mempunyai lebih banyak waktu membangun hubungan hangat dengan tamu.

"Saya baru saja menginap di sebuah hotel di Barcelona dan stafnya luar biasa hangat, ramah, dan manusiawi. Mereka apalagi duduk berbareng saya sembari membuatkan secangkir kopi. Tidak mungkin AI melakukan pekerjaan seperti itu," ujarnya.

Ia juga menilai pekerjaan imajinatif seperti jurumasak mempunyai kesempatan memperkuat lebih besar dibanding pekerjaan operasional yang sifatnya berulang. AI tetap belum bisa menciptakan penemuan kuliner yang betul-betul orisinal, meski beberapa proses memasak sederhana berpotensi diotomatisasi di masa depan.

5. Pekerja terampil

Profesi yang mengandalkan keahlian bentuk dan keahlian langsung, seperti tukang batu, tukang kayu, hingga tukang plester, termasuk pekerjaan yang diperkirakan tetap mempunyai prospek cerah.

Chief Executive Federation of Master Builders, Brian Berry, mengatakan AI memang mulai memengaruhi sektor konstruksi. Namun dampaknya belum merata, terutama pada pekerjaan lapangan yang memerlukan skill praktis.

Berry menilai kesempatan kerja di perusahaan bangunan lokal tetap sangat menjanjikan lantaran pekerjaan tersebut memerlukan ketelitian, pengalaman, serta keahlian menyesuaikan kondisi di lapangan yang susah dilakukan AI.

Ia juga menyoroti tetap rendahnya minat orangtua mendorong anak bekerja di sektor konstruksi. Padahal kebutuhan tenaga kerja terampil terus meningkat dan pekerjaan ini termasuk yang relatif handal menghadapi perkembangan AI.

6. Spesialis informasi dan teknologi di sektor keuangan

Sektor perbankan menjadi salah satu industri yang paling aktif memanfaatkan AI. Posisi seperti jasa pelanggan, pusat panggilan, pegawai operasional, hingga support teknologi info diperkirakan bakal semakin banyak dibantu sistem otomatis.

Meski begitu, analis senior perbankan Bloomberg Intelligence, Tomasz Noetzel, mengatakan permintaan terhadap pekerjaan yang berangkaian dengan informasi dan teknologi justru bakal meningkat. Contohnya intelektual informasi (data scientist), insinyur AI, serta developer perangkat lunak.

Selain itu, pekerjaan yang memerlukan pertimbangan profesional, seperti analis risiko, auditor internal, analis kepatuhan, peneliti investasi, hingga ahli pemodelan akibat dinilai lebih tahan terhadap AI lantaran tetap memerlukan pengawasan dan penilaian manusia.

"Hanya sedikit pekerjaan di sektor perbankan yang betul-betul tidak bakal terdampak AI, tetapi posisi yang memerlukan pertimbangan ahli dan skill unik tampak lebih handal menghadapi perubahan," ucapnya.

Dari beragam pendapat para master di atas terlihat bahwa AI bukan sepenuhnya menggantikan manusia, melainkan mengubah langkah seseorang bekerja. Profesi yang hanya berisi tugas-tugas berulang memang lebih rentan diotomatisasi.

Sebaliknya, pekerjaan yang memerlukan empati, kreativitas, komunikasi, keahlian fisik, dan pengambilan keputusan kompleks tetap mempunyai prospek yang kuat. Untuk itu, selain menguasai bagian skill masing-masing, calon pekerja juga disarankan mulai memahami langkah memanfaatkan AI sebagai perangkat pendukung.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Selengkapnya