Cara Mengenali Pengaruh Tinggi dan Berat Orang Tua pada Pertumbuhan Janin

Jun 13, 2026 06:20 PM - 1 bulan yang lalu 55005

Banyak aspek yang memengaruhi pertumbuhan janin, salah satunya aspek genetik dari orang tua. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tinggi dan berat badan orang tua dapat berangkaian dengan pertumbuhan bayi sejak dalam kandungan.

Tak hanya ibu, kondisi kesehatan dan status gizi ayah juga turut berkedudukan dalam perkembangan janin. Lantas, seberapa besar pengaruh tinggi dan berat badan orangtua terhadap pertumbuhan janin?

Tinggi dan berat badan orangtua dapat mempengaruhi pertumbuhan janin

Menurut sebuah penelitian, tinggi dan berat badan orang tua berangkaian dengan berat dan panjang badan anak sejak dalam kandungan, saat lahir, hingga masa kehidupan berikutnya


Studi yang dilakukan Hirabai Cowasji Jehangir Medical Research Institute di Pune, India, menemukan bahwa tinggi dan berat badan orangtua berangkaian dengan pertumbuhan bayi selama kehamilan, saat lahir, apalagi hingga masa kehidupan berikutnya. 

Penelitian ini merupakan bagian dari proyek berjulukan MAI (Mother and Infant Study). Proyek ini melibatkan wanita pada awal kehamilan dan mengikuti perkembangan mereka hingga setelah melahirkan.

Sebagian dari proyek ini dilakukan di daerah pedesaan sekitar 50 km dari Pune, di mana prevalensi kekurangan gizi tinggi.

Penelitian melibatkan 134 triad ibu, ayah, dan anak tersebut. Dalam temuan itu terungkap bahwa setiap kenaikan 1 kg berat badan ibu selama kehamilan, berat bayi dalam kandungan meningkat 21 gram.

Tak hanya itu, tinggi badan orang tua juga berasosiasi dengan ukuran tubuh bayi saat lahir. Tinggi badan ibu berpengaruh terhadap panjang badan bayi laki-laki saat lahir, sedangkan tinggi badan ayah berangkaian dengan panjang badan bayi wanita saat lahir.

Menurut Wakil Direktur Hirabai Cowasji Jehangir Medical Research Institute, Dr. Anuradha Khadilkar, status gizi orang tua berkedudukan krusial terhadap kesehatan anak sejak dalam kandungan. "Status gizi orang tua berakibat pada kesehatan anak," ujar Khadilkar, dikutip dari Times of India.

Pengaruh ayah mulai terlihat pada trimester ketiga

Kebanyakan orang berpikir kesehatan ibu menjadi aspek utama yang mempengaruhi pertumbuhan janin. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kondisi ayah juga berperan.

Khadilkar menjelaskan dalam studi itu ditemukan pengaruh ayah dalam pertumbuhan janin mulai terlihat setelah 28 minggu kehamilan. "Dengan setiap penambahan 1 cm pada ukuran tinggi badan ayah, berat bayi dalam kandungan meningkat sebesar 19 gram," katanya menambahkan.

Secara rata-rata, bayi dari ayah yang lebih tinggi condong mempunyai berat badan lebih besar dibandingkan bayi dari ayah yang lebih pendek. Namun, hubungan ini tidak berkarakter absolut lantaran pertumbuhan janin juga dipengaruhi aspek genetik, status gizi, dan kondisi kesehatan Bunda dan Ayah.

"Dengan demikian, ayah yang lebih bergizi bakal mempunyai bayi yang lebih sehat," katanya. 

Temuan ini menunjukkan bahwa aspek genetik dan status gizi ayah dapat berkontribusi terhadap perkembangan bayi selama kehamilan.

Para peneliti juga menegaskan bahwa temuan tersebut bukan berfaedah orang tua yang mempunyai berat badan berlebih bakal otomatis mempunyai bayi yang lebih sehat.

"Kami tidak menyarankan bahwa orang tua yang kelebihan berat badan alias obesitas bakal mempunyai bayi yang lebih sehat," tambah Khadilkar.

Alasan nutrisi ibu krusial bagi pertumbuhan janin

Tak hanya aspek genetik, kecukupan nutrisi selama kehamilan juga menjadi salah satu aspek terpenting yang mendukung pertumbuhan janin.

Menurut studi tersebut, bayi dari ibu yang mengalami kenaikan berat badan yang cukup selama kehamilan condong mempunyai kondisi kesehatan yang lebih baik dibandingkan bayi dari ibu yang tidak mengalami kenaikan berat badan sesuai rekomendasi.

“Jika para ibu mendapatkan nutrisi yang cukup pada dan setelah usia kehamilan enam bulan, kesehatan bayi mereka bakal jauh lebih baik. Studi ini menggarisbawahi perlunya intervensi sebelum kehamilan dan selama kehamilan untuk memastikan penambahan berat badan yang optimal (tidak terlalu sedikit, dan tidak terlalu banyak),” kata Khadilkar.

Namun jika ibu mengalami kekurangan gizi, kata Khadilkar, dapat berakibat antar generasi. Ibu yang mengalami kekurangan gizi berisiko melahirkan bayi dengan kondisi kesehatan yang kurang optimal, dan kondisi tersebut dapat bersambung pada generasi berikutnya.

"Jika seorang ibu tidak cukup gizi, dia seringkali bakal melahirkan bayi dengan kesehatan yang buruk. Anak ini kemungkinan besar bakal membesarkan anak yang juga kemungkinan besar tidak cukup gizi," kata Khadilkar. 

Demikian ulasan mengenai tinggi dan berat badan orang tua pada pengaruh tumbuh kembang janin. Semoga informasinya bisa menjadi gambaran untuk para bumil ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Selengkapnya