Ciri Kepribadian Anak dari Jumlah Teman yang Dimiliki Menurut Ilmu Psikologi

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 5 menit 506x dilihat
Ciri Kepribadian Anak dari Jumlah Teman yang Dimiliki Menurut Ilmu Psikologi

Memiliki banyak kawan alias hanya beberapa sahabat dekat merupakan perihal yang berbeda pada setiap anak. Ada Si Kecil yang mudah berbaur dan senang berada di tengah banyak orang, sementara lainnya lebih nyaman bermain dengan satu alias dua kawan dekat.

Jumlah kawan yang dimiliki anak rupanya dapat memberikan gambaran mengenai karakter kepribadian anak, seperti sifat ekstrovert, introvert, hingga kebutuhannya terhadap hubungan yang lebih dekat. Namun, banyak alias sedikitnya kawan bukan berfaedah menunjukkan bahwa seorang anak lebih baik daripada yang lain.

Lingkaran pertemanan juga dapat berangkaian dengan langkah anak beradaptasi, menghadapi situasi sosial, dan mendapatkan support emosional. Mengutip dari laman Times of India, berikut penjelasan mengenai karakter anak dengan lingkaran pertemanan yang besar maupun kecil.


Ciri kepribadian anak dari jumlah kawan yang dimiliki

Lingkaran pertemanan anak, baik besar maupun kecil, dapat memberikan gambaran mengenai kepribadian, pilihan, dan kebutuhannya. Berikut beberapa perihal yang dapat diketahui dari jumlah serta kualitas pertemanan anak.

1. Punya banyak teman: condong ekstrovert dan percaya diri

Anak yang mempunyai lingkaran pertemanan lebih luas biasanya lebih nyaman berada dalam kelompok. Mereka dapat menunjukkan rasa percaya diri, keahlian beradaptasi, dan komunikasi yang baik.

Tinjauan terhadap beragam penelitian selama beberapa dasawarsa menunjukkan bahwa sifat ekstrovert berangkaian dengan keahlian memimpin dalam lingkungan sosial dan penerimaan dari kawan sebaya di sekolah.

Menurut studi tahun 2006 yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology, anak ekstrovert lebih mungkin mempunyai jaringan pertemanan yang luas. Lingkaran tersebut juga memberi mereka lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan keahlian sosial.

Sementara itu, studi tahun 2012 dalam Journal of Personality menemukan bahwa anak ekstrovert condong mencari jaringan kawan sebaya yang lebih luas. Kondisi ini memberi lebih banyak kesempatan untuk belajar bersosialisasi, meski terkadang juga meningkatkan akibat mendapat pengaruh dari kawan sebaya.

Namun, mempunyai banyak kawan tidak selalu berfaedah semua hubungan yang dimiliki berbobot baik. Studi tahun 2011 dalam Journal of Youth and Adolescence menemukan bahwa anak terkenal dengan golongan kawan yang sangat besar lebih sering terpapar pengaruh negatif dari teman, termasuk perilaku yang berisiko.

Studi tahun 2013 dalam Developmental Psychology juga menemukan bahwa anak dengan jaringan pertemanan yang besar, tetapi kurang dekat condong mengalami tingkat stres lebih tinggi dan mendapat support emosional yang lebih sedikit.

Hal serupa terlihat dalam studi tahun 2015 di Developmental Psychology, yang mengawasi bahwa jaringan pertemanan yang sangat besar dapat membikin hubungan terasa lebih dangkal sehingga support emosional yang diterima tidak sebanyak dalam persahabatan yang lebih dekat.

2. Punya sedikit teman: lebih mengutamakan kedekatan

Memiliki satu alias dua kawan dekat sering kali dikaitkan dengan sifat introvert, penuh pertimbangan, alias kecenderungan membangun hubungan emosional yang lebih dalam.

Mengutip studi tahun 2012 dalam Journal of Applied Developmental Psychology melaporkan bahwa anak yang mempunyai satu alias dua persahabatan kuat menunjukkan penyesuaian emosional yang lebih baik dibandingkan anak yang mempunyai banyak kenalan.

Kemudian, studi tahun 2014 The Child Development Journal menunjukkan bahwa anak dengan jumlah kawan lebih sedikit tetapi mempunyai kualitas persahabatan yang baik, melaporkan kepuasan hidup lebih tinggi dan rasa kesenyapan yang lebih rendah dibandingkan mereka yang mempunyai banyak hubungan pertemanan yang dangkal.

Studi tahun 2015, jurnal Merrill-Palmer Quarterly juga menemukan bahwa anak introvert yang berinvestasi dalam beberapa persahabatan dekat, mendapatkan support kawan sebaya yang lebih kuat. Dukungan tersebut dapat membantu mereka menghadapi tekanan di sekolah.

Meski begitu, mempunyai terlalu sedikit kawan juga dapat berangkaian dengan penarikan diri dari lingkungan sosial. Sebagian anak memang merasa nyaman dengan lingkaran pertemanan kecil, tetapi dapat menjadi tanda adanya kekhawatiran alias kesulitan bersosialisasi.

Melansir dari studi tahun 2005 dalam Journal of Abnormal Child Psychology menemukan bahwa penolakan kawan sebaya yang berjalan terus-menerus alias tidak mempunyai persahabatan dekat dapat memprediksi tingkat depresi dan kesenyapan yang lebih tinggi ketika memasuki masa remaja.

Hal tersebut didukung studi berikutnya pada 2016 dalam jurnal yang sama. Penelitian tersebut melaporkan bahwa penarikan diri dari lingkungan sosial yang terus berjalan pada anak dapat memprediksi akibat kekhawatiran dan depresi yang lebih tinggi pada masa remaja jika tidak mendapat support dari family alias mentor.

Selain itu dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry tahun 2019 juga mencatat bahwa anak yang terus-menerus mempunyai jaringan pertemanan yang sangat mini alias tidak mempunyai kawan sebaya lebih rentan mengalami perundungan. Kondisi tersebut dapat memperbesar akibat terhadap kesehatan mental.

3. Kualitas pertemanan lebih krusial daripada jumlahnya

Kualitas hubungan pertemanan yang ditandai dengan kepercayaan, empati, dan support menjadi kesejahteraan jangka panjang yang lebih kuat dibandingkan jumlah teman.

Penelitian dalam Journal of Early Adolescence tahun 2018 menunjukkan bahwa siswa yang mempunyai persahabatan dengan kualitas tinggi, lebih jarang menjadi korban perlakuan jelek alias perundungan dari kawan sebaya dan mempunyai keterlibatan akademik yang lebih tinggi, terlepas dari jumlah kawan yang mereka miliki.

Karena itu, jumlah kawan dan kualitas hubungan perlu melangkah seimbang. Memiliki banyak kawan dapat memberikan lebih banyak kesempatan bersosialisasi, tetapi juga berisiko membikin hubungan menjadi dangkal alias meningkatkan paparan terhadap tekanan kawan sebaya.

Sementara itu, mempunyai sedikit kawan dapat memberikan hubungan yang lebih dekat, tetapi juga berisiko menimbulkan kesenyapan jika tidak ada ikatan pertemanan yang kuat.

Karena itu, orang tua tidak perlu memaksa anak untuk mempunyai lebih banyak alias lebih sedikit teman. Bunda dapat membantu Si Kecil membangun hubungan pertemanan yang berbobot dan memberikan support yang mereka butuhkan. 

Demikian karakter kepribadian anak yang mempunyai banyak kawan dan gimana kualitas persahabatan tersebut memengaruhi hidup Si Kecil.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan