Ciri Kepribadian Orang yang Sering Membukakan Pintu untuk Orang Lain, Ternyata Tak Sekadar Sopan

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 506x dilihat
Ciri Kepribadian Orang yang Sering Membukakan Pintu untuk Orang Lain, Ternyata Tak Sekadar Sopan

Bagikan Postingan

Bunda pernah memperhatikan orang yang nyaris selalu membukakan pintu untuk orang lain? Misalnya saja saat keluar dari gedung, seseorang memandang ada orang di belakangnya lampau sengaja menahan pintu agar orang tersebut tak perlu membukanya sendiri.

Sebenarnya, seperti apa karakter kepribadian orang yang sering membukakan pintu untuk orang lain?

Sekilas, tindakan ini mungkin terlihat sebagai corak sopan santun. Tapi, kebiasaan mini tersebut juga bisa berangkaian dengan langkah seseorang berinteraksi dan memperhatikan orang lain. Jadi, enggak sekadar sopan, Bunda.


Psikolog Art Markman, Ph.D., menjelaskan bahwa ada beberapa kemungkinan argumen seseorang menahan pintu untuk orang lain. Salah satunya berangkaian dengan kepribadian, termasuk sifat conscientiousness alias kecenderungan untuk teliti dan bertanggung jawab.

"Orang yang mempunyai sifat teliti (conscientious) mungkin lebih condong menahan pintu untuk orang di belakang mereka. Kemungkinan lain adalah adanya aspek sosial," tulis Markman melansir dari PsychologyToday.

Namun, perilaku tersebut tidak selalu bisa dijelaskan hanya dari kepribadian. Faktor sosial, kebiasaan, hingga situasi saat itu juga dapat berperan.

Ciri kepribadian orang yang sering membukakan pintu untuk orang lain

Kebiasaan membukakan pintu memang tidak bisa dijadikan "tes kepribadian". Namun, tindakan mini ini dapat menjadi salah satu contoh perilaku prososial, ialah perilaku yang dilakukan dengan tujuan memberikan faedah alias membantu orang lain.

Berikut beberapa karakter yang dapat berangkaian dengan kebiasaan tersebut.

1. Tidak mementingkan diri sendiri

Melansir Your Tango, orang yang nyaris selalu membukakan pintu untuk orang lain dapat mempunyai sejumlah kecenderungan, seperti tidak mementingkan diri sendiri, prososial, percaya diri, dan tenang.

Namun, ciri-ciri tersebut bukan berfaedah dapat digunakan untuk menentukan kepribadian seseorang hanya dari kebiasaan membukakan pintu.

Tindakan ini sebenarnya sederhana. Ia hanya perlu menahan pintu beberapa detik lebih lama agar orang di belakangnya bisa masuk alias keluar dengan lebih mudah.

Kecenderungan untuk mempertimbangkan kenyamanan orang lain dapat menjadi bagian dari perilaku altruistis alias tidak terlalu berpusat pada kepentingan diri sendiri.

2. Memiliki perilaku prososial

Perilaku prososial mencakup beragam tindakan yang dilakukan untuk membantu alias memberikan faedah untuk orang lain. Seperti menolong, berbagi, memberikan dukungan, alias menunjukkan kepedulian.

Membukakan pintu tentu merupakan corak yang sangat sederhana. Namun, kebiasaan memperhatikan orang lain dalam situasi sehari-hari dapat menjadi salah satu contoh perilaku prososial.

Penelitian terbaru juga menunjukkan adanya hubungan positif antara perilaku prososial dan kesehatan mental. Dalam meta-analisis yang diterbitkan pada 2026, peneliti menganalisis 366 effect sizes dari 121 studi dengan total 222.866 partisipan.

Hasilnya menunjukkan hubungan positif antara perilaku prososial dan kesehatan mental, meski kekuatan hubungan tersebut dapat berbeda berasas budaya, parameter kesehatan mental, perangkat ukur, dan kreasi penelitian.

3. Peka terhadap keberadaan orang lain

Orang yang membukakan pintu untuk seseorang di belakangnya perlu menyadari bahwa ada orang lain yang sedang mendekat.

Hal sederhana ini menunjukkan adanya perhatian terhadap lingkungan sekitar. Ia tidak hanya berfokus pada tujuannya sendiri, tetapi juga memperhatikan apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

Meski begitu, kepekaan seperti ini tidak otomatis berfaedah seseorang mempunyai kepribadian tertentu. Bisa saja dia melakukannya lantaran sudah terbiasa alias lantaran mengikuti norma kesopanan yang berlaku.

4. Cenderung mempertimbangkan kenyamanan orang lain

Menahan pintu selama beberapa detik berfaedah seseorang bersedia mengubah sedikit perilakunya agar orang lain tidak perlu melakukan upaya yang sama.

Kecenderungan untuk mempertimbangkan kenyamanan orang lain dapat terlihat dalam beragam corak perilaku prososial sehari-hari, termasuk membantu, berbagi, alias memberikan support kepada orang lain.

Namun, satu tindakan saja tentu tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan kepribadian seseorang.

5. Memiliki kecenderungan kooperatif

Membukakan pintu rupanya juga dapat dilihat sebagai corak kerja sama sederhana antara orang yang berada di depan dan orang yang mengikutinya.

Ketika seseorang menahan pintu, orang di belakang biasanya tidak perlu membuka pintu sendiri. Penelitian tentang perilaku membukakan pintu menunjukkan bahwa orang yang berada di belakang juga condong mempercepat langkah ketika pintu ditahan untuknya.

Ini artinya bahwa tindakan mini tersebut melibatkan kontribusi dari kedua pihak. Satu orang menahan pintu, sementara orang lain menyesuaikan langkah agar upaya yang dikeluarkan berbareng menjadi lebih kecil.

Mengapa orang membukakan pintu untuk orang lain?

Membukakan pintu buat orang lain rupanya tidak selalu lantaran sopan santun. Penelitian Joseph Santamaria dan David Rosenbaum yang diterbitkan dalam Psychological Science pada 2011 mengawasi perilaku orang ketika mendekati pintu dan memandang apakah mereka menahannya untuk orang yang berada di belakang.

Dalam penelitian tersebut, peneliti mengawasi 148 orang. Hasilnya menunjukkan bahwa keputusan menahan pintu juga berangkaian dengan upaya meminimalkan keseluruhan upaya yang diperlukan oleh orang-orang dalam situasi tersebut.

Ketika ada orang di belakang, orang yang berada di depan menahan pintu sehingga orang berikutnya tidak perlu membuka pintu sendiri. Sebaliknya, orang yang berada di belakang juga condong mempercepat langkah ketika memandang pintu sedang ditahan untuknya.

Dengan kata lain, tindakan tersebut menciptakan kerja sama mini antara dua orang yang apalagi mungkin tidak saling mengenal.

Peneliti juga menekankan bahwa kita kemungkinan besar tidak melakukan kalkulasi tersebut secara sadar. Kebiasaan menunjukkan kesopanan dalam kehidupan sehari-hari dapat membikin hubungan sederhana menjadi lebih mudah bagi semua pihak.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads