Ciri Kepribadian Orang yang Suka Oversharing di Media Sosial/Foto: Pexels.com/ Dương Nhân
Beauties, media sosial memang menjadi tempat yang menyenangkan untuk berbagi banyak hal, mulai dari foto liburan, makanan favorit, pencapaian kecil, sampai cerita keseharian yang terasa menarik untuk dibagikan. Namun, ada orang yang hampir selalu menceritakan setiap detail hidupnya secara online, terlebihlagi hal-hal yang sebenarnya cukup pribadi dan tidak perlu diketahui banyak orang.
Menurut YourTango, kebiasaan membagikan terlalu banyak hal di media sosial dapat berhubungan dengan sejumlah karakter tertentu, seperti keinginan mendapatkan validasi, terlalu memperhatikan deskripsi diri, hingga kesulitan mengendalikan reaksi emosional.
Meski begitu, karakter-karakter ini tidak berarti setiap orang yang aktif mengunggah sesuatu pasti memiliki sifat tersebut, karena konteks dan kebiasaan setiap pelanggan media sosial tentu berbeda. Yuk, cari tahu selengkapnya!
1. Cenderung Ceroboh

Cenderung Ceroboh/Foto: Pexels.com/ cottonbro studio
Beauties, orang yang gemar oversharing terkadang terlalu spontan ketika membagikan sesuatu di media sosial. Mereka bisa mengunggah lokasi, masalah pribadi, maupun perselisihan dengan orang lain tanpa memikirkan dampaknya lebih jauh.
Keinginan untuk segera bercerita membikin mereka lupa memungut selang sebelum menekan tombol unggah. Akibatnya, keterangan yang sebenarnya berkarakter pribadi bisa diketahui terlalu banyak orang.
2. Suka Membangun Koneksi

Suka Membangun Koneksi/Foto: Pexeles.com/ Mikhail Nilov
Bagi sebagian orang, media sosial adalah metode untuk merasa terhubung dengan kelompok dan menemukan orang-orang yang memiliki pengalaman serupa. Karena itu, mereka merasa betah menceritakan banyak hal tentang kehidupannya.
Kebutuhan untuk diterima dan memiliki tempat untuk berbagi memang sangat manusiawi. Namun, Beauties statis perlu berjaga-jaga agar keterbukaan tidak membikin orang lain memanfaatkan kerentanan kita.
3. Cenderung Suka Mengontrol

Cenderung Suka Mengontrol/Foto:Pexels.com/ cottonbro studio
Orang yang gemar membagikan kehidupannya juga bisa sangat memperhatikan sepertiapa dirinya kelihatan di mata orang lain. Mereka mungkin merasa tidak betah ketika ada foto maupun cerita yang tidak sesuai dengan deskripsi yang mau ditampilkan. Keinginan mengendalikan image tersebut dapat membikin seseorang sulit menerima hal-hal yang eksis di luar kendalinya. Padahal, tidak semua penilaian orang lain perlu kita atur.
Menurut psikoterapis Sharon Martin, perilaku mau memegang kendali sering kali berakar pada kecemasan dan ketakutan. Saat situasi terasa di luar kendali, wajar jika kita mau mengendalikannya demi merasa aman.
Namun, tentu saja, kita tidak bisa mengendalikan orang lain ataupun situasi yang ada. Jadi, upaya kita pada akhirnya tidak membikin kita merasa lebih baik. Justru, perilaku mau memegang kendali biasanya justru menimbulkan masalah dalam hubungan serta membikin kita merasa frustrasi dan stres.
4. Suka Bersosialisasi

Suka Bersosialisasi/Foto: Pexels.com/ RDNE Stock project
Beauties, orang yang outgoing biasanya memang menikmati interaksi, pengalaman baru, dan aktivitas berbareng banyak orang. Media sosial kemudian menjadi ruang tambahan untuk membagikan keseruan tersebut.
Mereka mungkin bahagia mengunggah aktivitas berbareng teman, perjalanan, hingga momen spontan yang menurut mereka menarik. Bagi mereka, berbagi cerita bisa menjadi bagiankecil dari kesenangan bersosialisasi.
5. Cenderung Perfeksionis

Cenderung Perfeksionis/Foto: Pexels.com/ cottonbro studio
Menariknya, oversharing tidak selalu berarti seseorang memberitahu seluruh sisi kehidupannya apa adanya. Mereka justru bisa memilih bagiankecil tertentu yang dianggap paling menarik untuk membentuk kesan hayat yang sempurna.
Foto terbaik, pencapaian, liburan, maupun momen ceria lebih sering ditampilkan daripada sisi hayat yang berantakan. Keinginan mempertahankan deskripsi sempurna ini dapat membikin media sosial terasa seperti panggung pribadi. Sayangnya, menurut riset dari Journal of Social & Clinical Psychology, perfeksionisme dapat memicu depresi, keterasingan sosial, dan hilangnya rasa memiliki.
6. Kurang Menyadari Batas Diri

Kurang Menyadari Batas Diri/Foto: Pexels.com/ Nam Phong Bùi
Orang yang terlalu sering berbagi terkadang kurang menyadari bahwa tidak semua cerita cocok dikonsumsi publik. Mereka mungkin merasa sebuah pengalaman biasa saja, padahal bagi orang lain keterangan tersebut sudah tergolong sangat pribadi.
Kurangnya kesadaran terhadap batas ini dapat membikin seseorang menyesal setelah unggahannya mendapatkan respons tertentu. Karena itu, kapasitas selesai sebentar dan mempertimbangkan akibat menjadi penting.
7. Sangat Memperhatikan Image

Sangat Memperhatikan Image/Foto: Pexels.com/ Q. Hưng Phạm
Beauties, media sosial membikin kita semakin sadar terhadap penampilan dan sepertiapa hayat kita kelihatan dibandingkan dengan orang lain. Seseorang yang sangat memperhatikan image bisa terdorong untuk terus memberitahu sisi terbaik dirinya.
Tanpa disadari, kebiasaan membandingkan diri dengan unggahan orang lain juga bisa memengaruhi rasa percaya diri. Karena itu, sesekali memungut rentang dari media sosial dapat membantu menjaga ketenangan diri.
8. Mudah Merasa Khawatir

Mudah Merasa Khawatir/Foto: Pexels.com/ EGO AGENCY EGO AGENCY
Orang yang gampang cemas terkadang menggunakan media sosial sebagai tempat meluapkan beragam keresahan. Hal kecil seperti masalah pekerjaan, hubungan, maupun insiden sehari-hari bisa menjadi bahan unggahan ketika pikirannya sedang penuh.
Membagikan kecemasan mungkin membikin mereka merasa lebih lega untuk sementara. Namun, jika setiap masalah selalu dibawa ke media sosial, kebiasaan tersebut justru bisa membikin seseorang semakin sulit memproses emosinya secara pribadi.
9. Suka Mencari Validasi

Suka Mencari Validasi/Foto: Pexels.com/ 小和尚 温柔的
Beauties, likes, komentar, dan respons dari followers memang bisa memberikan rasa senang. Bagi orang yang membutuhkan validasi, perhatian tersebut terlebihlagi dapat menjadi karena utama kenapa mereka terus membagikan cerita pribadi.
Masalahnya, rasa percaya diri bisa ikut fluktuatif mengikuti jumlah respons yang diterima. Jika sudah terlalu sering mengecek engagement, mungkin sudah waktunya memungut selang dan balik mendengarkan penilaian dari diri sendiri.
Pada akhirnya, aktif di media sosial bukan sesuatu yang buruk selama kita statis memiliki kendali atas apa yang dibagikan dan karena di baliknya. Kalau mulai merasa setiap momen mesti diposting atau setiap unggahan membutuhkan validasi, mungkin ini saat yang tepat untuk memungut selang dan balik menikmati hayat tanpa selalu melihatnya melalui layar.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)