Ciri Kepribadian Orang yang Suka Sarapan dengan Menu yang Sama Setiap Hari Menurut Ilmu Psikologi

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 4 menit 505x dilihat
Ciri Kepribadian Orang yang Suka Sarapan dengan Menu yang Sama Setiap Hari Menurut Ilmu Psikologi

Sarapan dengan menu yang sama setiap hari mungkin menjadi kebiasaan bagi sebagian orang. Misalnya, selalu memilih roti, telur, alias nasi dengan lauk yang sama tanpa merasa bosan. Kebiasaan sederhana ini rupanya dapat berangkaian dengan kecenderungan seseorang menyukai rutinitas, perihal yang sudah dikenal, hingga kemauan untuk mengurangi pilihan.

Dalam psikologi, kebiasaan makan dapat dipengaruhi oleh beragam faktor, termasuk pengalaman, emosi, dan preferensi terhadap makanan tertentu.

Lantas, apa saja karakter kepribadian yang mungkin terlihat dari kebiasaan sarapan dengan menu yang sama setiap hari? Yuk, Bunda, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!


Mengutip dari laman Times Entertainment dan Scandinavia Standard, berikut beberapa karakter kepribadian yang mungkin terlihat dari kebiasaan seseorang memilih menu sarapan yang sama setiap hari.

1. Menyukai stabilitas dan kepastian

Orang yang memilih menu sarapan yang sama setiap hari bisa jadi mempunyai kecenderungan menyukai rutinitas dan sesuatu yang sudah familiar. Dalam ilmu jiwa makanan, perihal ini berangkaian dengan food neophobia, ialah kecenderungan menghindari makanan yang belum dikenal.

Psikolog Kanada Patricia Pliner, guru besar di University of Toronto, berbareng Karen Hobden, mengembangkan Food Neophobia Scale dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Appetite pada 1992. Skala tersebut digunakan untuk mengukur seberapa besar seseorang bersedia mencoba makanan yang tidak familiar.

Temuan mereka menunjukkan bahwa sebagian orang memang lebih nyaman dengan makanan dan rutinitas yang sudah dikenal. 

2. Tidak terlalu mencari pengalaman baru

Kebiasaan memilih menu yang sama juga dapat menunjukkan bahwa seseorang tidak terlalu terdorong untuk mencoba hal-hal baru. Psikolog Marvin Zuckerman, yang dikenal melalui teori sensation seeking, menjelaskan bahwa setiap orang mempunyai tingkat kebutuhan terhadap sensasi, tantangan, dan pengalaman baru yang berbeda.

Dalam Handbook of Behavior, Food and Nutrition, Thomas Alley dan Kathleen Potter membahas hubungan dengan food neophobia, ialah keengganan mencoba makanan yang belum dikenal.

Sejumlah penelitian yang mereka ulas menunjukkan bahwa orang yang lebih suka mencari pengalaman baru condong terbuka mencoba makanan yang berbeda. Sebaliknya, mereka yang tidak terlalu suka mencari pengalaman baru biasanya lebih nyaman memilih makanan yang sudah familiar dan terbukti cocok.

3. Cenderung lebih berhati-hati

Studi Patricia Pliner berbareng Nancy Melo pada 1997 yang diterbitkan dalam Physiology & Behavior menemukan bahwa orang dengan kecenderungan mencari sensasi tinggi lebih terbuka mencoba makanan baru.

Keengganan mencoba makanan yang belum dikenal diduga berangkaian dengan kecenderungan manusia sejak masa perkembangan untuk menghindari makanan yang berpotensi berbahaya.

Saat ini, sikap tersebut bisa terlihat dari kebiasaan memilih menu yang sama setiap kali makan.

4. Menyukai perihal yang praktis dan minim pilihan

Penelitian tentang perilaku mencari ragam menunjukkan bahwa tidak semua orang menyukai banyak pilihan. Sebagian justru lebih nyaman mengurangi keputusan dengan memilih makanan yang sudah diketahui sesuai selera.

Psikolog Paul Rozin dari University of Pennsylvania, salah satu master terkemuka dalam ilmu jiwa makanan dalam karyanya berjudul Towards a Psychology of Food and Eating serta sejumlah ulasan mengenai preferensi makanan, menunjukkan bahwa rasa familiar berkedudukan besar dalam membentuk kebiasaan makan.

Bagi sebagian orang, memilih menu yang sama merupakan langkah praktis lantaran menghemat waktu dan mengurangi kemungkinan menyesal dengan pilihan makanan.

5. Merasa nyaman dengan perihal yang familiar

Makanan mempunyai kaitan erat dengan emosi dan kenangan. Sejumlah studi menunjukkan bahwa makanan yang sudah dikenal dapat memberikan rasa nyaman dan aman, terutama ketika seseorang sedang menghadapi masa penuh tekanan.

Penelitian Paul Rozin mengenai ilmu jiwa makanan juga menekankan bahwa kebiasaan makan tidak hanya dipengaruhi aspek biologis, tetapi juga budaya, emosi, dan pengalaman masa lalu. 

6. Suka mengurangi beban pikiran di pagi hari

Memilih menu sarapan yang sama setiap hari dapat menjadi langkah seseorang mengurangi keputusan yang perlu dibuat sejak pagi. Menurut peneliti kebiasaan Wendy Wood, sekitar 43 persen kegiatan yang dilakukan seseorang setiap hari merupakan perilaku yang berulang dalam situasi yang sama dan dilakukan nyaris secara otomatis.

Sarapan dengan menu tetap bisa menjadi salah satu kebiasaan yang membikin rutinitas pagi terasa lebih sederhana. Dengan tidak perlu memikirkan makanan yang bakal disantap setiap hari, seseorang dapat menghemat waktu dan daya untuk kegiatan lainnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan