Jakarta -
Bunda, metode seseorang dibesarkan di famili dapat memengaruhi metode mereka berkomunikasi hingga dewasa. Salah satunya kelihatan dari kebiasaan dalam menyampaikan keinginan dan meminta sesuatu kepada orang lain.
Pada famili yang terbiasa terbuka, seseorang cenderung berani mengutarakan apa yang diinginkan meski ada kemungkinan ditolak.
Sebaliknya, mereka yang tumbuh dalam lingkungan yang mengharuskan banyak menebak emosi orang lain bisa menjadi lebih takut untuk meminta maupun mengungkapkan kebutuhannya.
Pola tersebut dapat terbawa hingga dewasa dan membikin seseorang lebih berjaga-jaga dalam berkomunikasi.
Lantas, seperti apa ciri khas kepribadian orang yang tumbuh dengan rasa takut? Yuk, simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Ciri kepribadian orang yang tumbuh dengan rasa takut
Melansir dari Your Tango, orang yang tumbuh dengan rasa takut untuk meminta apa yang mereka butuhkan biasanya memiliki kepribadian berikut ini:
1. Bersikap pasif-agresif
Orang yang tumbuh dengan rasa takut mungkin terbiasa menyampaikan sesuatu secara tidak langsung. Mereka bisa mengatakan satu hal tetapi sebenarnya mengharapkan orang lain memahami maksud yang berbeda.
Sejak kecil, mereka tidak terbiasa meminta pertolongan secara terang-terangan. Karena itu, mereka lebih sering memberikan kode maupun instruksi dengan harapan orang lain akan menyadari kebutuhannya.
Masalahnya, orang lain tidak selalu bisa membaca pikiran. Akibatnya, mereka bisa merasa kecewa ketika tidak ada yang membantu, padahal tidak pernah benar-benar meminta.
2. Sulit mengatakan “tidak”
Mereka mungkin tidak terbiasa dengan permintaan langsung karena permintaan tersebut membikin orang lain eksis dalam posisi mesti menjawab “ya” maupun “tidak”.
Akibatnya, ketika dewasa, mereka bisa merasa sangat bersalah saat menolak permintaan orang lain. Mereka akhirnya sering mengatakan “iya” meskipun sebenarnya tidak mau maupun sedang tidak mampu.
Hal ini tentu pada akhirnya membikin mereka kewalahan, lelah, terlebihlagi menyimpan rasa jengkel karena kesulitan memperjuangkan kebutuhan sendiri.
3. Sering merasa seperti dimanfaatkan
Sejak kecil, mereka mungkin belajar bahwa mengabaikan kebutuhan sendiri terasa lebih gampang daripada meminta sesuatu yang berisiko membikin orang lain tidak nyaman.
Kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga dewasa. Mereka cenderung mendahulukan orang lain, mengatakan “iya” ketika sebenarnya mau menolak, dan jarang mengungkapkan apa yang mereka butuhkan.
Akibatnya, mereka bisa merasa seperti orang yang selalu mengalah maupun membiarkan dirinya diperlakukan sesuka orang lain.
4. Takut ditolak secara langsung
Bagi orang yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini, mendengar balasan “tidak” bisa terasa jauh lebih menyakitkan daripada seharusnya. Mereka mungkin menganggap penolakan sebagai sesuatu yang personal.
Karena itu, mereka cenderung cuma meminta sesuatu ketika sudah merasa hampir pasti akan mendapatkan balasan “iya”.
Padahal, penolakan sebenarnya merupakan hal yang normal dalam hayat dan tidak selalu berarti seseorang tidak menyukai kita.
Orang yang terbiasa berkomunikasi secara terbuka biasanya lebih bisa memahami bahwa ketika mereka meminta sesuatu, orang lain memang bebas menjawab “ya” maupun “tidak” tanpa mesti ada drama emosional.
5. Tidak tahu metode meminta bantuan
Semua orang sesekali membutuhkan pertolongan dan dukungan. Namun, bagi orang yang tumbuh dengan rasa takut, terbiasa menunggu orang lain memahami kebutuhannya, meminta pertolongan secara langsung bisa terasa sangat sulit maupun memalukan.
6. Terlalu banyak memikirkan sebelum meminta sesuatu
Kebiasaan ini muncul karena sejak kecil mereka tidak terbiasa membikin permintaan secara sederhana, kemudian menerima balasan apa pun.
Akibatnya, ketika dewasa mereka bisa terus-menerus overthinking sebelum meminta sesuatu. Hal tersebut dapat membikin mereka sulit memungut keputusan dan semakin frustrasi.
7. Sering merasa tidak dimengerti
Ketika orang lain tidak memahami maksudnya, rasa frustrasi pun muncul. Padahal, orang lain memang sulit mengetahui apa yang dibutuhkan mereka jika semuanya disampaikan secara samar.
Karena itu, kebiasaan berkomunikasi secara tidak langsung justru dapat membikin kebutuhan dan emosi mereka semakin sulit dipahami.
Nah, itulah beberapa kepribadian yang mungkin dimiliki oleh orang yang tumbuh dengan rasa takut. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)