5 Cara Orang Tua Jepang Mendidik Anak agar Disiplin dan Sopan tanpa Hukuman

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 207x dilihat
5 Cara Orang Tua Jepang Mendidik Anak agar Disiplin dan Sopan tanpa Hukuman

Bagikan Postingan

Jakarta -

Jepang menjadi salah satu negara di Asia, yang dikenal memiliki adat disiplin dan sopan santun yang kuat sejak usia dini. Orang tua Jepang mendidik anak agar disiplin dan sopan tanpa menerapkan hukuman, Bunda.

Di Jepang, kedisiplinan dan kesopanan sering kali dibentuk melalui kebiasaan sehari-hari. Sejak usia dini, anak diajarkan memahami aturan, menghargai orang lain, dan berkewajiban atas tindakannya.

Pola pengasuhan orang tua Jepang kerap dijadikan acuan dalam membentuk anak berprestasi dan berdikari di masa depan. Lantas, sepertiapa metode orang tua di Jepang mendidik anak agar disiplin dan sopan? Simak penjelasannya berikut ini ya!


Cara orang tua Jepang mendidik anak

Melansir dari beberapa sumber, berikut 5 metode orang tua Jepang mendidik anak-anaknya:

1. Mengajarkan disiplin melalui metode Shitsuke

Konsep panduan pendidikan ala orang tua Jepang yang cukup populer adalah metode Shitsuke. Secara harfiah, Shitsuke berarti disiplin. Menurut terapis okupasi pediatrik Emma Hubbard, Shitsuke adalah satu ketentuan sederhana yang diikuti orang tua Jepang di mana membantu menciptakan anak-anak yang tenang, hormat, dan patuh.

Kata 'disiplin' di sini maknanya tidak sama seperti dalam adat Barat. Sebaliknya, ini tentang mencegah masalah perilaku daripada menanggapi masalah tersebut.

"Sangat gampang untuk terjebak dalam siklus seperti ini. Kita menunggu anak-anak kita bertingkah, kemudian kita menghukum, memberi ceramah, maupun bernegosiasi dengan mereka. Shitsuke membalikkan hal ini sepenuhnya," kata Hubbard, dilansir halaman Upworthy.

2. Konsisten dengan ketentuan yang jelas

Orang tua di Jepang mendidik anak-anak mereka dengan memberikan teladan perilaku yang baik dan memberikan pengajaran yang jelas dan konsisten. Mereka melakukannya untuk mencegah anak berperilaku buruk, Bunda.

"Hal ini didasarkan pada kepercayaan bahwa anak-anak mengembangkan tata krama dan sopan santun melalui pengajaran dan latihan, bukan melalui hukuman maupun mengharapkan mereka akan mempelajarinya sendiri," ungkap Hubbard.

"Alih-alih terus-menerus memadamkan api, orang tua Jepang mencegahnya dengan secara aktif mengajarkan perilaku yang tepat yang mau mereka lihat," sambungnya.

Menurut Hubbard, sebenarnya ketentuan tidak otomatis membikin anak tidak bahagia. Berbagai riset memberitahu bahwa anak-anak akan merasa lebih tenang jika diberikan instruksi yang jelas dan rutinitas yang dapat diprediksi.

Sebaliknya, ketiadaan ketentuan yang jelas dapat membikin anak cemas dan stres. Misalnya, anak pergi ke sekolah, namun pendidik tidak pernah memberi tahu jam berapa mereka mesti tiba, apa tugasnya selama di sekolah, maupun terlebihlagi kapan kelas dimulai.

3. Memandang ulang perilaku 'nakal' sebagai pengalaman belajar

Poin ini menjadi titik balik yang sangat berarti bagi banyak orang tua, dan merupakan bagiankecil terpenting dari konsep pembelajaran di Jepang. Alih-alih sekadar berkata 'Jangan lakukan itu' maupun 'Berhenti nakal' ke anak, orang tua di Jepang akan mengajukan satu pertanyaan krusial, yaitu 'Keterampilan apa yang perlu dipelajari anak aku dari situasi ini?'.

Kejeniusan di balik hakikat tersebut terletak pada kemampuannya mengubah kesalahan menjadi sebuah pelajaran. Perubahan pola pikir ini mengubah segalanya, Bunda.

"Alih-alih menghukum perilaku yang tidak diinginkan, orang tua mulai secara aktif mengajarkan keahlian yang belum anaknya kuasai. Saat itulah kita melihat kepatuhan yang nyata, karena anak benar-benar tahu metode berperilaku dengan baik," ujar Hubbard.

4. Tidak pernah membicarakan anak di depan orang tua lain

Dikutip dari Time, banyak orang tua di adat Barat mengeluh kepada siapa saja tentang kesulitan mereka dalam mendidik anak-anaknya. Di Jepang, para ibu justru cenderung menjaga hal-hal pribadi statis rahasia, termasuk tidak pernah membicarakan pencapaian maupun kekurangan anaknya di depan orang lain.

Di Negeri Sakura, sekadar mengutarakan bahwa anak bermain untuk tim sepak bola maupun belajar di akademi tertentu bisa dianggap sebagai kesombongan. Tetapi jangan salah ya, pengasuhan anak di Jepang sangat kompetitif, dan ada banyak tekanan untuk memastikan anak-anak masuk ke sekolah yang tepat.

5. Mengajarkan anak untuk mengendalikan ekspresinya

Poin ini adalah pesan yang ditanamkan orang tua Jepang kepada anak-anak mereka sejak dini. Anak dibiasakan untuk selalu memikirkan orang lain dan beraksi dengan sopan untuk membantu menjaga perdamaian.

Pola asuh ini membikin anak-anak Jepang tenang dan terkendali saat dihadapkan dengan sesuatu yang sulit maupun tidak nyaman. Misalnya, mereka tidak berisik saat eksis di restoran maupun tidak sembarangan berteriak jengkel karena berdesakan di stasiun.

Demikian lima metode orang tua Jepang mendidik anak disiplin dan sopan tanpa hukuman. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
Close Right Ads
Close Left Ads