Ciri Orang Tidak Enakan, Sulit Bilang "Tidak" dan Sering Mendahulukan Orang Lain

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 3 menit 24x dilihat
Ciri Orang Tidak Enakan, Sulit Bilang "Tidak" dan Sering Mendahulukan Orang Lain

Sering mendahulukan orang lain bisa menjadi tanda seseorang mempunyai sifat tidak enakan. Mereka condong susah tidak enakan ini apalagi rela mengesampingkan kebutuhannya sendiri, Bunda.

Dalam psikologi, kecenderungan ini dikaitkan dengan kebutuhan yang kuat bakal persetujuan dan pengakuan. Seseorang melakukannya lantaran mungkin mau menjaga keselarasan dan menghindari penolakan.

Hal tersebut sejalan dengan Self-Determination Theory, yang menekankan kebutuhan manusia bakal keterhubungan dan kemauan untuk merasa diterima. Melansir laman The Economic Times, konsep kunci yang menjelaskan perilaku ini apalagi dikaitkan dengan respons menjilat, sebuah istilah yang dipopulerkan oleh terapis Pete Walker. Menjilat dianggap sebagai respons stres selain melawan, melarikan diri, dan membeku.


Dalam respons ini, seseorang mengatasi ancaman yang dirasakan dengan menjadi terlalu setuju, patuh, alias akomodatif. Alih-alih menghadapi alias menghindari stres, mereka berupaya menyenangkan orang lain untuk menghindari bentrok alias bahaya.

Ciri orang tidak enakan

Ada beberapa karakter orang tidak enakan hingga susah mengatakan 'tidak'. Simak ciri-cirinya berikut ini:

1. Sulit mengatakan 'tidak' lantaran sensitif dengan emosi orang lain

Dikutip dari Times of India, sebelum kata 'tidak' keluar dari mulut, kita biasanya sudah membayangkan ekspresi kecewa di wajah orang lain. Itu bukan lantaran kita terlalu banyak berpikir, tapi bisa jadi sesuatu yang berangkaian dengan gender.

Sebuah studi jangka panjang yang diterbitkan dalam The Spanish Journal of Psychology menemukan bahwa wanita secara konsisten lebih baik daripada laki-laki dalam membaca dan memahami emosi orang lain. Itulah kenapa mengatakan 'tidak' bagi wanita bisa terasa seperti menyakiti seseorang.

2. Sering tidak percaya diri

Permintaan maaf yang terus-menerus terkadang menandakan keraguan diri. Alih-alih dengan percaya diri berbagi ide, orang-orang yang suka mengatakan 'tidak' mungkin berkata, 'maaf' sebelum berbicara.

Seiring waktu, permintaan maaf yang tidak perlu dapat secara tidak sengaja mengurangi akibat dari apa yang dikatakan seseorang, apalagi ketika mereka mempunyai ide-ide yang berharga. Psikolog yang mempelajari nilai diri mencatat bahwa orang dengan kepercayaan diri yang rendah lebih condong mencari penegasan dan meremehkan diri mereka sendiri dalam percakapan.

3. Lebih sadar diri daripada kritis terhadap diri sendiri

Sering mengucapkan 'tidak' alias 'maaf' tidak selalu menunjukkan rendahnya nilai diri. Beberapa orang memang sangat sadar bakal gimana mereka dipandang.

Mereka memperhatikan isyarat sosial, mengenali ketika mereka betul-betul melakukan kesalahan, dan sangat peduli untuk memperlakukan orang lain dengan hormat. Tantangannya muncul ketika kesadaran ini berubah menjadi permintaan maaf pada hal-hal yang tidak perlu, seperti meminta support alias mengungkapkan pendapat.

Psikolog sering merekomendasikan untuk mengganti permintaan maaf yang tidak perlu dengan pengganti yang lebih percaya diri. Alih-alih mengatakan, 'Maaf atas keterlambatannya', Bunda dapat mengatakan 'Terima kasih atas kesabaran kamu'. Hal itu dapat mengalihkan konsentrasi dari rasa bersalah ke rasa syukur tanpa terdengar kurang sopan.

4. Sering mengalami kecemasan

Para psikolog juga menghubungkan perilaku susah mengatakan 'tidak' dengan Attachment Theory. Individu dengan style keterikatan resah sering mencari kepastian dan persetujuan terus-menerus dalam hubungan.

Dalam budaya kolektivis, di mana harmoni diprioritaskan, mengatakan 'tidak' dapat dianggap tidak sopan. Hal ini menciptakan tekanan tambahan untuk patuh, apalagi dengan mengorbankan kesejahteraan pribadi.

5. Suka mengerjakan tugas orang lain

Mereka yang susah mengatakan 'maaf' sering kali dimanfaatkan oleh orang lain. Misalnya, mereka pada akhirnya mengerjakan tugas orang lain yang bukan menjadi job desk-nya.

Psikolog organisasi apalagi menyebut perihal ini sebagai 'tugas yang tidak dapat dipromosikan'. Penelitian dari Carnegie Mellon University menunjukkan bahwa wanita jauh lebih sering menerima tugas tersebut dibandingkan laki-laki. Bagi mereka, mengatakan 'tidak' rasanya nyaris mustahil, lantaran menolak sama saja dengan tidak diterima oleh tim.

Demikian karakter orang yang tidak enakan hingga susah mengatakan 'tidak'. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.

(ank/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan