Curhatan Ayah Tak Suka Main Dengan Anak Picu Pro-kontra, Psikolog Angkat Bicara

May 09, 2026 06:40 PM - 1 jam yang lalu 13

Jakarta -

Baru-baru ini, sebuah curhatan seorang Ayah viral di media sosial lantaran mengaku tidak menikmati waktu bermain dengan anaknya. Unggahan tersebut pun cukup menyita perhatian dari netizen.

Dalam ceritanya, Ayah tersebut mencoba jujur tentang perasaannya sebagai orang tua dalam keseharian. Ia  mengungkapkan bahwa dirinya kerap merasa tidak nyaman saat kudu bermain terlalu lama dengan anak.

Meski terdengar cukup sensitif, curhatan ini pun langsung menarik perhatian banyak orang lantaran dianggap dirinya yang jujur. Hal ini yang membikin unggahan ini langsung ramai di media sosial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dari situ, muncul beragam pandangan tentang emosi orang tua dalam menjalani proses mendampingi anak. Berikut ini ulasan selengkapnya, Bunda.

Curhatan Ayah yang mengaku tak nyaman bermain dengan anak

Curhatan tersebut diketahui telah dilihat lebih dari 16 juta kali dan mendapat lebih dari 7 ribu komentar. Mengutip dari akun X @jmrphy, seorang laki-laki berjulukan Murphy mengungkapkan perasaannya tentang pengalamannya sebagai Ayah.

"Sudah 4 tahun sejak saya menjadi seorang Ayah dan saya mulai takut dengan jiwa saya sendiri. Jujurnya, saya memang tidak terlalu suka berada di sekitar anak-anak dalam waktu yang lama," tulisnya.

Ia juga menjelaskan bahwa waktu yang dia inginkan untuk bermain dengan anak tidak terlalu lama setiap minggunya. Menurutnya, cukup sekitar 70-140 menit dalam seminggu.

"Waktu ideal yang mau saya habiskan untuk bermain dengan anak-anak mungkin sekitar 70-140 menit per minggu, kurang lebih 10 menit setiap hari, mungkin dua kali sehari saat jarak dari pekerjaan," katanya.

Setelah itu, dia mengaku tetap mempunyai rasa sayang kepada anaknya. Namun, dia merasa kurang nyaman jika kudu menemaninya bermain dalam waktu yang lebih lama.

"Perasaan sayang saya kepada mereka sebenarnya sangat kuat, tetapi jika saya kudu menjaga alias menghibur mereka lebih dari sekitar 10 menit, saya mulai merasa tidak nyaman. Saya hanya mau bekerja alias melakukan sesuatu yang produktif. Saya mencoba untuk bersyukur, tapi itu tidak berhasil," tuturnya.

"Saya tidak punya masalah menjadi Ayah yang baik dan penuh kasih, masalahnya hanya saya tidak menikmatinya. Bukan lantaran saya mau mengejar kesenangan pribadi, tetapi rasanya asing saja ketika saya nyaris tidak merasakan kebahagiaan," sambungnya.

Beragam reaksi dari orang tua

Curhatan yang viral tersebut memunculkan beragam reaksi di media sosial, Bunda. Ada yang mencoba memahami, tetapi ada juga yang memberikan penilaian cukup keras terhadap dirinya.

"Perasaan ini berada dalam kendalimu untuk diubah. Ini bukan sifat kepribadian mendasar yang tidak dapat Anda perbaiki, tetapi berasal dari langkah Anda menyesuaikan sikap dan pandangan terhadap dirimu sendiri," tulis akun X @tea****.

Namun, ada juga yang menyayangkan perihal tersebut dibagikan ke ruang publik. Mereka menilai cerita seperti itu sebaiknya tidak disebarkan secara luas lantaran dapat memicu reaksi negatif.

"Sungguh sadis sekali mengunggah ini ke internet dan dilihat oleh jutaan orang asing," balas pengguna @wit****.

Psikolog jelaskan pentingnya peran orang tua dalam mengasuh anak

Menanggapi cerita Ayah tersebut, seorang psikolog anak asal Amerika Serikat, Scott A. Roth, Psy.D., turut memberikan pandangannya. Ia menjelaskan bahwa bermain memang bukan satu-satunya corak kedekatan orang tua dan anak, tetapi tetap punya peran yang penting.

Menurutnya, ketika orang tua menolak untuk bermain berbareng anak, mereka bisa saja melewatkan pengalaman yang memang dibutuhkan untuk perkembangan anak.

"Ketika orang tua menolak bermain alias tidak terlibat dalam permainan, mereka mungkin menolak memberikan pengalaman perkembangan krusial ini kepada anak mereka," kata Roth, dikutip dari laman Parents.

Ia menyampaikan bahwa lewat bermain, anak bakal mulai mengenal hubungan sosial di sekitarnya. Roth juga mencontohkan bahwa orang tua bisa membujuk anak mencoba perihal lain dengan langkah yang lembut.

"Dengan anak Anda, tidak apa-apa untuk mengatakan sesuatu seperti, 'Kita sudah bermain boneka cukup lama, kenapa kita tidak pergi ke ruang bermain dan memilih sesuatu yang lain untuk dilakukan,'" kata Roth.

"Ini mencontohkan keahlian hidup krusial seperti mempertimbangkan emosi orang lain dan menghadapi perubahan, serta kemungkinan rasa kecewa," sambungnya.

Itulah curhatan Ayah yang mengaku tidak terlalu menikmati waktu bermain dengan anaknya yang memicu pro dan kontra, serta tanggapan dari psikolog.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Selengkapnya