Dahsyatnya Kekuatan Tafakur

Jan 19, 2026 04:22 AM - 5 bulan yang lalu 163183

Kincai Media , JAKARTA -- Merenung alias berpikir merupakan makna yang disematkan pada kata tafakur. Dalam Islam, kegiatan ini sangat dianjurkan. Muslim memikirkan tanda-tanda alam dan kejadian di sekitarnya. Merenung sesaat, ujar Rasulullah, lebih besar nilainya daripada amal-amal amal yang dikerjakan dua jenis makhluk hidup, ialah manusia dan jin.

Pernyataan Rasulullah itu tertulis dalam sabda yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Allah SWT juga menegaskan, sesungguhnya dalam pembuatan lagit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda orang yang berakal, ialah orang-orang yang mengingat Allah sembari berdiri, duduk, alias dalam keadaan berbaring.

Ensiklopedi Islam menyebut bahwa merenung atau memikirkan kejadian alam dan segala fenomenanya bisa menuntun Muslim mengetahui semua pertanda keberadaan pencipta. Bagi para sufi, bertafakur tak hanya dijadikan sebagai sarana untuk mengetahui keberadaan Tuhan.

Lebih dari itu, mereka menelisik nilai dan rahasia dari sesuatu yang mereka renungkan. Kemudian menyadarkan mereka bahwa objek itu diciptakan bukan dalam kesia-sian. Kalangan sufi menyimpulkan, tafakur adalah jalan yang berfaedah untuk memperoleh pengetahuan asasi tentang Tuhan.

Menurut ustadz besar Al-Ghazali, perenungan dimulai dari hati yang berpusat di dada, bukan dari logika yang berpusat di kepala. Hati, jelas dia, ibaratkan cermin yang bisa menangkap sesuatu yang ada di luarnya. Agar bisa menjalankan fungsinya itu, hati kudu bersih dari beragam dosa.

Dalam pandangan Abu al-Qasim Abdil Karim al-Qusyairi-seorang sufi, perangkat untuk meraih pengetahuan asasi dia namakan sirr. Ada perbedaan pandang antara sufi dan orang-orang kebanyakan. Bagi orang kebanyakan, tafakur dianggap sebagai kegiatan untuk mengenal Tuhan melalui akal. Sedangkan, sufi melakukannya melalui hati.

Menurut ustadz besar, Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya, Alquran Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, puluhan ayat Makkiyah maupun Madaniyah dalam Alquran mendorong manusia untuk berpikir. Ia mengutip pemikiran Raghib al-Ashfahani yang menyatakan, pemikiran adalah kekuatan yang berupaya menggapai pengetahuan pengetahuan.

Tafakur dimaknai oleh al-Ashfahani sebagai bekerjanya kekuatan itu dengan pengarahan akal. Al-Qaradhawi mengatakan, dengan kelebihan itulah manusia berbeda dengan hewan. Banyak kalangan terdahulu yang membiasakan diri bertafakur. Mereka merenungi apa yang telah mereka perbuat dan merancang perbaikan di masa depan.

Seorang laki-laki bertanya kepada Ummu Darda setelah wafatnya Abu Darda, mengenai ibadahnya. Ummu Darda berkata, "Hari-harinya diisi dengan tafakur." Tentang tafakur, Al-Fudhail mengungkapkan, itu cermin yang bakal memperlihatkan pada seseorang kebaikan dan keburukannya.

Selengkapnya