Siapa yang tidak senang ketika dipuji? Hampir setiap orang merasa senang saat mendengar kata-kata penghargaan, sanjungan, alias pengakuan dari orang lain. Namun, seorang mukmin tidak hanya memandang pujian sebagai sesuatu yang menyenangkan. Ia juga melihatnya sebagai ujian yang dapat mengangkat derajatnya alias justru menjerumuskannya ke dalam kesombongan.
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mengalami kondisi ketika ada orang yang memuji dan menyanjung kita serta menganggap kita sebagai sosok orang yang baik. Lalu, apa yang semestinya kita ucapkan saat itu dan gimana sikap kita andaikan mengalami kondisi tersebut? Mari perhatikan dan simak atsar berikut ini.
Dari Adi bin Arthaah, dia bercerita,
كان الرجل من أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا زُكِّي، قال :اللَّهُمَّ لا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، واغْفِر لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ
“Dulu ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika dia dipuji, dia mengucapkan, ‘Allahumma la tu-akhizni bima yaqulun, waghfirli mala ya’lamun, waj’alni khoiron mimma yadzunnun.’ (Wahai Allah, janganlah Engkau siksa hamba-Mu ini dengan karena pujian yang mereka ucapkan, ampunilah hamba-Mu ini dari perbuatan dosa yang tidak mereka ketahui, dan jadikanlah hamba lebih baik dari perkiraan mereka).” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, no. 761 dan dalam Shahihul Adabil Mufrad, no. 585. Syekh Al-Albani rahimahullah menilai sanad sabda ini sahih. Potongan terakhir dari atsar ini merupakan tambahan dalam riwayat Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman, 4: 228)
Dari atsar yang mulia ini, terdapat beberapa pelajaran berharga.
Pertama, waspadalah dari kesombongan ketika dipuji
Pujian sering kali menjadi pintu masuk bagi penyakit hati yang sangat berbahaya, ialah kesombongan. Ketika seseorang terus-menerus mendengar dan menerima sanjungan, dia bisa mulai mengagumi dirinya sendiri, merasa lebih baik dari orang lain, dan lupa bahwa seluruh kebaikan yang ada padanya adalah karunia Allah semata.
Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا يدخلُ الجنةَ مَن كان في قلبه مِثقال ذرةٍ من كِبر
“Tidak bakal masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim no. 91)
Seorang mukmin memahami bahwa manusia hanya memandang sebagian mini dari dirinya. Mereka memandang kebaikan yang tampak, sementara beragam kekurangan, dosa, dan kejelekan yang tersembunyi hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.
Oleh lantaran itu, semakin banyak pujian yang diterima, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga hati agar tidak tertipu oleh penilaian manusia.
Baca juga: Larangan Berlebihan dalam Memuji
Kedua, beristigfar dan menyadari kekurangan diri dapat mengobati kesombongan
Perhatikan angan para sahabat, “Ampunilah dosa-dosaku yang tidak mereka ketahui.”
Kalimat ini menunjukkan sungguh dalamnya pengenalan mereka terhadap diri sendiri. Ketika orang lain memandang kelebihan mereka, mereka justru mengingat dosa-dosa, aib, dan kekurangan yang tersembunyi.
Inilah salah satu obat paling efektif untuk menghancurkan kesombongan ialah dengan mengingat dosa-dosa diri sendiri. Allah Ta’ala berfirman,
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Seseorang yang mengenal dirinya dengan baik, dia bakal sadar bahwa amalnya tetap sedikit, ilmunya tetap kurang, ibadahnya tetap jauh dari sempurna, dan dosanya banyak yang tidak diketahui manusia. Oleh karena itu, ketika dipuji, hendaknya dia memperbanyak istigfar dan menyadari bakal kekurangan dirinya yang tidak nampak dari pandangan orang lain.
Ketiga, rajinlah bermohon agar dijadikan sebagai orang yang baik
Bagian terakhir dari angan sahabat tersebut sangat menyentuh, “Jadikanlah saya lebih baik dari apa yang mereka sangkakan.”
Ini menunjukkan bahwa ketika dipuji, seorang mukmin hendaknya memohon kepada Allah Ta’ala agar betul-betul memperbaiki dirinya. Sering kali manusia menilai kita lebih baik daripada realita yang sebenarnya. Mereka memandang sisi luar, sementara Allah Ta’ala mengetahui keadaan hati dan kebaikan kita yang sesungguhnya.
Oleh lantaran itu, ketika dipuji, jadikanlah pujian tersebut sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jika orang lain menganggap kita sebagai orang yang saleh, maka berusahalah agar kita betul-betul menjadi saleh di sisi Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
“Dan orang-orang yang mendapat (mau menerima) petunjuk, Allah bakal menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan ketakwaan kepada mereka.” (QS. Muhammad: 17)
Pujian bukanlah tanda bahwa kita telah sempurna. Pujian adalah ujian yang menguji keikhlasan dan kerendahan hati kita. Ketika orang lain memuji kita, janganlah hati menjadi tinggi, tetapi tundukkanlah diri di hadapan Allah Ta’ala.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba yang rendah hati, tidak tertipu oleh pujian manusia, dan senantiasa berupaya memperbaiki diri di hadapan Allah Ta’ala. Aamiin.
Baca juga: Ketika Kita Ingin Dilihat
***
Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·