tingkatan tauhidKincai Media – Hati adalah salah satu organ tubuh manusia yang paling sensitive. Memang tak kasat mata, namun pengaruhnya sangat menentukan gimana organ yang lain bergerak dan melangkah. Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ mengingatkan:
أَلاَ وَإِنَّ فِيْ الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Jika dia baik maka baik pula seluruh jasad. Jika dia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa dia adalah hati (jantung).” (HR Bukhari dan Muslim)
Hati yang sehat bakal memudahkan setiap insan dalam menjalankan tugasnya, secara jasmani ataupun rohani. Karenanya kita perlu menjaga dan merawat hati sebaik mungkin. Ibnu Hajar memaparkan dalam kitab Munabbihât ‘ala Isti‘dâdi li Yaumil Mî‘âd, bahwa Hasan Al Bashri menjelaskan enam perihal yang dapat merusak hati seseorang.
Pertama, melakukan dosa dengan angan dia bisa bertaubat di kemudian hari. Seseorang yang sadar bakal perbuatan dosanya dan tetap berambisi bakal kembali ke jalan Tuhan pada waktunya adalah sebuah kesombongan. Ia terlalu percaya diri bahwa Allah tetap memberikan waktu untuk bertaubat, padahal kesempatan itu belum tentu dia miliki di lain waktu. Perbuatan dosa yang dilakukan dengan unsur kesengajaan (bukan aspek ketidaktahuan ) berpotensi menjadikan hati semakin gelap.
Kedua, mempunyai pengetahuan namun tidak mengamalkannya. Pepatah kata yang sangat terkenal “ilmu tanpa kebaikan ibaratkan pohon yang tak berbuah” memang betul nyatanya. Karena sejatinya tujuan dari sebuah pengetahuan adalah pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mengamalkan pengetahuan disini bisa saja dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan pengetahuan yang dimilikinya, alias juga bisa hanya dengan mendiamkan ilmunya sebagai koleksi dalam kepala saja.
Ketiga, tidak tulus dalam beramal. Setelah pengetahuan diamalkan, urusan belum sepenuhnya beres. Sebab manusia tetap dihinggapi hawa nafsu dari mana-mana. Ia mungkin saja melakukan baik banyak sekali, namun sia-sia belaka lantaran tidak ada ketulusan melakukan baik. Ikhlas adalah perihal yang cukup berat karena meniscayakan kerelaan hati meskipun ada yang dikorbankan.
Keempat, tidak berterima kasih dalam menikmati reaeki yang diberikan Allah. Bersyukur adalah pilihan sikap yang wajib. Orang yang tak mau berterima kasih adalah orang yang tidak memahami prinsip rezeki. Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nashaihul ‘Ibad mengartikan syukur dengan ijrâ’ul a‘dlâ’ fî mardlâtillâh ta‘âlâ wa ijrâ’ul amwâl fîhâ (menggunakan personil badan dan kekayaan barang untuk sesuatu yang mendatangkan ridha Allah). Artinya, selain ucapan “alhamdulillah”, kita dianggap berterima kasih jika tingkah laku kita, termasuk dalam penggunaan kekayaan kita, bukan untuk jalan maksiat kepada Allah ﷻ.
Kelima, tidak ridha dengan ketetapan Allah. tidak hanya tidak mau bersyukur, melainkan selalu mengeluh dan merasa kurang atas ketetapan yang ada. Bisa jadi dia protes kepada Allah tentang kondisinya. Tidak ada hubungan langsung bahwa yang kaya adalah mereka yang paling disayang Allah, sementara yang miskin adalah mereka yang sedang dibenci Allah. Bisa jadi justru apa yang kita sebut “kurang” sebenarnya adalah kondisi yang paling pas agar kita selamat dari tindakan melampaui batas.
Keenam, mengubur orang meninggal namun tidak mengambil pelajaran darinya. Peristiwa kematian adalah nasihat yang lebih gamblang daripada pidato-pidato dalam panggung ceramah. Ketika ada orang meninggal, kita disajikan kebenaran yang jelas bahwa kehidupan bumi ini fana. Liang kuburan adalah momen perpisahan kita dengan seluruh kekayaan, jabatan, status sosial, dan ketenaran yang pernah dimiliki. Selanjutnya, orang meninggal bakal berhadapan dengan semua pertanggungjawaban atas apa yang dia perbuat selama hidup di dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اْلقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَر مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجَ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ
“Sungguh liang kubur merupakan awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari (siksaan)-nya maka perjalanan selanjutnya bakal lebih mudah. Namun jika dia tidak selamat dari (siksaan)-nya maka (siksaan) selanjutnya bakal lebih kejam.” (HR Tirmidzi)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·