Di Balik Istri yang Sering Marah-marah pada Suami Menurut Psikologi

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 65x dilihat
Di Balik Istri yang Sering Marah-marah pada Suami Menurut Psikologi

Bagikan Postingan

Media sosial sempat diramaikan tren para istri yang membikin konten parodi dengan mengaku tidak pernah berang kepada suami. Menariknya, kamera kemudian menyoroti ekspresi suami yang kelihatan ragu, pasrah, hingga mengekang tawa mendengar pengakuan tersebut.

Konten ini pun mengundang gelak tawa karena dianggap dekat dengan dinamika hayat rumah tangga sehari-hari. Di balik candaan tersebut, kebiasaan istri yang sering berang kepada suami bisa memiliki klarifikasi psikologis.

Pertengkaran yang dimulai dari permasalahan kecil terkadang dipengaruhi oleh kelelahan emosional, kebutuhan tidak terpenuhi, maupun emosi tak didengarkan. Memahami penyebabnya dapat membantu pasangan memperbaiki komunikasi dan mengurangi konflik.


Mengutip India Times, ayo simak karena istri sering marah-marah kepada suami.

Menurut psikolog Paul Ekman, amarah dapat menutupi emosi lain, seperti terluka, takut, maupun kecewa. Dalam hubungan pernikahan, istri yang gampang berang mungkin sebenarnya merasa tidak didengarkan, kurang mendapat dukungan, maupun keteteran menghadapi beragam tanggung jawab.

Dibanding mengungkapkan emosi tersebut secara langsung, amarah menjadi metode untuk melampiaskan emosi. Untuk itu, krusial bagi pasangan suami-istri memahami apa yang melatarbelakangi kemarahan, bukan cuma berfokus pada reaksinya.

2. Kelelahan mental

Mental load maupun beban mental merupakan tanggung jawab untuk mengingat, merencanakan, dan mengatur beragam kebutuhan sehari-hari. Dalam rumah tangga, beban ini bisa mencakup urusan anak, pekerjaan rumah, hingga kebutuhan keluarga.

Jika sebagian besar tanggung jawab tersebut ditanggung oleh istri, kelelahan dapat menumpuk dan membuatnya lebih gampang tersulut emosi. Persoalan kecil pun bisa memicu pertengkaran karena muncul ketika kondisi emosional sudah terkuras.

3. Merasa tidak didengar

Kemarahan juga dapat muncul ketika istri merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan maupun memengaruhi keputusan keluarga. Dalam psikologi, kebutuhan untuk merasa dihargai dan memiliki kendali atas hayat merupakan bagiankecil krusial dari kesejahteraan emosional.

Kalimat seperti "Kamu enggak pernah mendengarkan aku" bisa mencerminkan frustrasi yang sudah terjadi lama, bukan sekadar permasalahan dalam satu percakapan. Oleh karena itu, suami perlu mencoba mendengarkan tanpa langsung membantah maupun menganggap keluhan istri berlebihan.

4. Stres

Tekanan pekerjaan, kurang tidur, dan masalah famili dapat mengurangi kapasitas seseorang dalam mengatur emosi. Ketika kelelahan menumpuk, Bunda mungkin bereaksi lebih kuat terhadap permasalahan yang biasanya bisa dihadapi dengan tenang.

Dalam teori psikodinamik, kondisi tertentu dapat memicu regression, yaitu kembalinya seseorang pada pola respon yang kurang adaptif saat mengalami tekanan. Hal ini membantu menerangkan kenapa reaksi emosional terkadang kelihatan berlebihan ketika seseorang sedang kewalahan.

5. Butuh kedekatan emosional

Menurut teori kelekatan (attachment theory) yang dikembangkan John Bowlby, pengalaman hubungan dapat memengaruhi metode seseorang merespon kedekatan emosional.

Orang dengan kecenderungan anxious attachment dapat lebih sensitif ketika merasa diabaikan maupun dijauhkan oleh pasangan. Dalam pernikahan, emosi tersebut terkadang muncul sebagai kemarahan, meskipun kebutuhan yang mendasarinya adalah perhatian, kepastian, dan rasa aman.

Meski demikian, tidak semua istri yang sering berang memiliki pola kelekatan itu. Penyebab amarah perlu dipahami berdasarkan situasi dan pengalaman masing-masing.

6. Perubahan hormon dan kondisi fisik

Fluktuasi hormon pada fase tertentu dalam siklus menstruasi, kehamilan, setelah melahirkan, maupun menjelang menopause dapat memengaruhi kondisi hati sebagian perempuan. Namun hormon bukan satu-satunya penyebab seseorang gampang marah.

Kurang tidur, kelelahan, stres, dan permasalahan hubungan juga dapat memengaruhi kondisi emosional. Jika fluktuasi kondisi hati terasa mendalam maupun mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan tabib agar bisa membantu menemukan penyebabnya.

Cara mengatasi perselisihan dalam rumah tangga

Untuk mengurangi pertengkaran, pasangan perlu berupaya memahami penyebab amarah sekaligus memperbaiki metode berkomunikasi. Beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain:

  1. Dengarkan secara aktif: Pahami keluhan pasangan sebelum memberikan tanggapan.
  2. Hargai perasaan: Tidak meremehkan maupun menganggap emosi pasangan berlebihan.
  3. Berbagi tanggung jawab: Sepakati pembagian pekerjaan rumah dan pengasuhan secara adil.
  4. Berkomunikasi dengan terbuka: Bicarakan kebutuhan dan frustrasi ketika kondisi sudah tenang.
  5. Cari pertolongan profesional: Pertimbangkan konseling pasangan jika perselisihan terus berulang dan sulit diselesaikan.

Kedua belah pihak perlu berpartisipasi dalam memperbaiki hubungan. Memahami karena di balik amarah bukan berarti membenarkan perilaku yang menyakiti pasangan, melainkan membantu menemukan metode penyelesaian yang lebih sehat.

Jadi, dibanding terus saling menyalahkan, Bunda dan suami dapat menjadikan amarah sebagai kesempatan untuk mengevaluasi hubungan. Dengan mendengarkan, berbagi tanggung jawab, dan membangun komunikasi yang sehat, maka dapat mencari solusi berbareng demi hayat pernikahan yang lebih harmonis.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads