Jakarta -
Kehadiran seorang bapak dalam hayat anak tidak cuma diukur dari seberapa sering ia eksis di rumah, Bunda. Lebih dari itu, anak juga membutuhkan perhatian dan kedekatan emosional dengan ayahnya.
Namun, ada kalanya seorang bapak kelihatan selalu datang secara fisik, tetapi justru terasa jauh secara emosional dari anak-anaknya. Ia mungkin menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua, tetapi kurang terlibat dalam hayat sang anak.
"Ayah yang datang dan sehat sering kali tidak sedramatis yang orang bayangkan. Mereka tidak sempurna. Kekuatan mereka terletak pada kesiapan emosional, konsistensi, akuntabilitas, dan rasa aman," kata psikolog klinis Bridgette Peteet, Ph.D.
"Mereka hadir, tidak cuma secara jasmani tetapi juga secara emosional. Mereka dapat mengatur diri sendiri, memperbaiki kesalahan yang mereka buat, dan memberi ruang bagi individualitas anak," sambungnya, dilansir halaman Psychology Today.
Menurut Peteet, para bapak yang lebih kompleks biasanya lebih sulit untuk diidentifikasi. Mereka sering kali kesulitan dalam hal empati, akuntabilitas, pengaturan emosi , kerentanan, konsistensi, dan kepekaan terhadap kebutuhan anak-anaknya.
Tipe bapak yang kelihatan datang namun sebenarnya jauh
Ayah yang kelihatan datang tetapi sebenarnya jauh biasanya dapat dikenali dari kepribadiannya yang khas. Berikut empat jenis bapak ini, menurut Peteet:
1. Ayah yang jauh
Sosok bapak yang jauh secara jasmani hadir, tetapi secara emosional absen. Ia mungkin seorang pelacak nafkah dan lebih gemar menawarkan keamanan fisik. Ayah jenis ini biasanya jarang mengajukan pertanyaan yang bermakna, menawarkan kenyamanan, mengungkapkan kasih sayang, maupun memberitahu minat emosional yang terusmenerus pada anak-anaknya.
"Para bapak ini sering kali percaya bahwa eksis di rumah saja sudah cukup. Mereka mungkin menonton televisi, bermain video game, membuka ponsel, bekerja berjam-jam, maupun statis tidak tersedia secara emosional terlebihlagi ketika eksis di ruangan yang sama dengan anaknya," ujar Peteet.
"Percakapan mungkin statis berkarakter praktis, korektif, maupun dangkal. Percakapan yang lebih mendalam mungkin cuma terjadi ketika ketentuan dilanggar dan hukuman diperlukan."
2. Ayah yang reaktif
Ayah yang reaktif biasanya menanggapi stres, rasa frustrasi, maupun perselisihan dengan kemarahan, sikap defensif, penarikan diri, maupun fluktuasi kondisi hati. Kondisi emosional yang berubah tersebut dapat memengaruhi seluruh personel keluarga.
Dalam famili ini, istri dan anak-anak menjadi sering belajar untuk memantau kondisi hati ayah, untuk menghindari pemicu amarah dan menjaga perdamaian. Rumah mungkin tampak stabil dari luar, namun semua orang di dalamnya bisa saja hidup dalam ketakutan.
Para bapak ini mungkin menyalahkan orang lain atas ledakan emosi yang diluapkan anak-anak. Mereka mungkin bersikeras bahwa mereka berteriak karena lelah, bercanda, maupun terlalu diprovokasi.
"Alih-alih bertanggung jawab, para bapak ini malah membikin orang lain berkewajiban untuk mengelola emosi mereka. Bagi anak-anak, hal ini disebut parentifikasi," ungkap Peteet.
3. Ayah yang gemar mengontrol
Ayah yang gemar mengontrol sering kali salah menafsirkan kontrol dengan perhatian. Ia mungkin menuntut kepatuhan tanpa syarat, membatasi kemandirian, mengkritik pilihan, dan memperlakukan anak sebagai perpanjangan dari dirinya sendiri daripada sebagai pribadi yang terpisah.
Para bapak ini juga kerap otoriter dalam corak pengasuhan, yang ditandai dengan kontrol tinggi dan respons emosional yang rendah. Otonomi diperlakukan sebagai pemberontakan maupun otoritas bapak menjadi lebih krusial daripada evolusi anak.
"Kritik mungkin disamarkan sebagai bimbingan. Kekerasan mungkin dianggap sebagai disiplin. Jarak emosional mungkin dianggap sebagai kekuatan. Anak mungkin dihukum bukan cuma karena perilaku buruk, tetapi juga karena memiliki pendapat, preferensi, emosi, maupun batasan," kata Peteet.
"Pola asuh otoriter mungkin mengajarkan anak-anak metode patuh, tetapi tidak selalu mengajarkan mereka metode berpikir, berkomunikasi, mengatur emosi, maupun mempercayai diri sendiri."
4. Ayah yang egois
Ayah yang egois memprioritaskan kebutuhan, citra, kenyamanan, dan egonya sendiri. Ia mungkin memiliki identitas publik yang dirancang dengan cermat sebagai sosok yang sukses, dihormati, murah hati, maupun patut dikagumi. Namun, di dalam keluarga, anak-anaknya mungkin merasa diabaikan kecuali jika mereka mendukungnya.
Para bapak ini mungkin mengharapkan kekaguman dan menjadi bertahan maupun jengkel ketika mendapatkan kritik. Anak-anak yang dibesarkan dengan jenis bapak ini mungkin belajar untuk tidak pernah mengatakan apa pun yang dapat mempermalukan, menantang, maupun merusak deskripsi yang mau sang bapak tunjukkan kepada orang lain.
Beberapa bapak yang egois terlebihlagi tak ragu untuk bersaing dengan anak-anaknya. Sementara yang lain menggunakan prestasi anak-anak sebagai bukti kesuksesan mereka sendiri. Pencapaian krusial seorang anak sering kali menjadi kesempatan bagi sang bapak untuk memusatkan perhatian pada dirinya sendiri.
Demikian empat jenis bapak kelihatan hadir, tapi sebenarnya jauh dari anak-anaknya. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)