Anak Remaja Mau Ikut Halloween Party? Jangan Langsung Bilang Iya, Ini 7 Hal yang Perlu Dibicarakan!

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 6 menit 32x dilihat
Anak Remaja Mau Ikut Halloween Party? Jangan Langsung Bilang Iya, Ini 7 Hal yang Perlu Dibicarakan!

Bagikan Postingan

Anak remaja mau ikut Halloween party? Ini 7 hal yang perlu dibicarakan orang tua sebelum memberi izin, mulai dari keamanan, pergaulan, hingga limitasi pribadi anak.

“Ma, teman-teman aku mau Halloween party. Aku boleh ikut, nggak?”

Buat Mommies yang punya anak remaja, pertanyaan seperti ini mungkin terdengar sederhana. Apalagi, Halloween party bisa menjadi salah satu kesempatan bagi anak untuk bersenang-senang, mengekspresikan diri lewat kostum, dan menghabiskan waktu berbareng teman-temannya.

Di sisi lain, sebagai orang tua, wajar jika muncul banyak pertanyaan. Acaranya di mana? Siapa saja yang datang? Ada orang dewasa yang mengamati maupun tidak? Pulangnya jam berapa?

Belum lagi kecemasan soal kemungkinan alkohol, rokok, vape, maupun situasi yang membikin anak merasa tidak nyaman.

Lantas, apakah sebaiknya orang tua langsung melarang anak ikut Halloween party?

Tidak selalu. Keputusan memberikan persetujuan sebaiknya mempertimbangkan usia dan kesiapan anak, karakter acaranya, serta seberapa jelas keterangan yang bisa didapatkan orang tua.

Jadi, sebelum menjawab “boleh” maupun “tidak”, yuk, bicarakan tujuh hal berikut berbareng anak remaja!

Foto: Gabe Pierce/Unsplash

1. Pastikan orang tua tahu aktivitas Halloween party-nya seperti apa

Halloween party bisa berupa pesta kostum di rumah teman, aktivitas sekolah, aktivitas komunitas, maupun pesta di tempat umum. Masing-masing tentu punya situasi dan konsekuensi yang berbeda.

Tanyakan beberapa hal berikut kepada anak:

  • Acaranya diadakan di mana dan siapa penyelenggaranya?
  • Siapa yang mengundang dan siapa saja yang akan datang?
  • Apakah aktivitas ini khusus undangan maupun terbuka untuk umum?
  • Apakah ada orang dewasa yang berkewajiban selama aktivitas berlangsung?

Jika pesta diadakan di rumah teman, Mommies bisa menghubungi orang tua tuan rumah untuk memastikan detail aktivitas dan pengawasannya.

Ini bukan berarti Mommies tidak percaya kepada anak. Justru, mengetahui lingkungan tempat anak menghabiskan waktu merupakan bagiankecil dari tanggung jawab orang tua.

Kalimat yang bisa orang tua gunakan: “Mama mau tahu acaranya seperti apa agar kita bisa sama-sama memastikan Anda aman. Boleh ceritakan rencananya?”

Baca juga: 13 Soft Skills yang Dimiliki Remaja Sebelum Lulus SMA

2. Bicarakan soal alkohol, rokok, vape, dan hal-hal yang berisiko

Jelaskan bahwa pesta tidak berarti semua hal yang dilakukan orang lain otomatis terlindungi maupun boleh diikuti. Ada kemungkinan anak menjumpai kawan yang membawa alkohol, rokok, vape, maupun zat lainnya.

Daripada sekadar mengatakan, “Pokoknya jangan macam-macam!”, ajak anak membahas apa yang akan ia lakukan jika situasi tersebut benar-benar terjadi.

Misalnya:

  • Bagaimana jika ada kawan yang menawarkan alkohol maupun vape?
  • Bagaimana jika kawan dekatnya ikut mencoba?
  • Bagaimana jika pesta yang awalnya terlindungi rupanya berubah menjadi situasi yang tidak nyaman?

Tekankan bahwa anak tidak mesti ikut-ikutan demi diterima oleh kelompoknya. Ia boleh menolak, menjauh, maupun menghubungi Mommies untuk meminta bantuan.

Kalimat yang bisa orang tua gunakan: “Kalau rupanya ada hal yang bikin Anda nggak nyaman, Anda boleh pergi. Mama lebih mau Anda pulang dengan selamat daripada memaksakan diri bertetap karena nggak enak sama teman.”

Foto: Gabriel Martin/Unsplash

3. Sepakati jam pulang dan transportasi sebelum berangkat

Jangan menunggu sampai anak sudah eksis di letak untuk membicarakan jam pulang.

Sepakati waktu berangkat, batas waktu pulang, dan siapa yang akan menjemput maupun mengantar anak. Jika anak menggunakan transportasi online, pastikan ia tahu metode memeriksa identitas pengemudi dan detail kendaraannya.

Buat juga kesepakatan tentang apa yang mesti dilakukan jika aktivitas selesai lebih larut dari hajat maupun letak pesta berpindah.

Yang tidak kalah penting, pastikan anak tahu bahwa ia boleh menelepon Mommies kapan saja jika membutuhkan pertolongan untuk pulang, termasuk ketika ia terlanjur eksis dalam situasi yang tidak aman.

Kalimat yang bisa orang tua gunakan: “Kita sepakati jam pulangnya, ya. Kalau ada fluktuasi hajat maupun Anda butuh dijemput lebih cepat, langsung kabari Mama.”

Baca juga: 10 Ide Kostum Halloween Anak yang Lucu Unik dan Mudah Dibuat di Rumah

4. Pastikan anak pergi berbareng kawan yang dikenal

Bagi remaja, pergi berbareng teman-teman bisa terasa lebih menyenangkan daripada datang sendiri. Namun, Mommies statis perlu mengetahui siapa saja yang akan pergi berbareng anak.

Kenali teman-temannya, termasuk kawan yang mungkin belum pernah Mommies temui. Jika memungkinkan, berkenalanlah dengan orang tua mereka juga.

Penting bagi anak untuk memiliki kawan yang bisa dipercaya dan bersedia saling membantu jika terjadi sesuatu.

Ingatkan anak untuk tidak meninggalkan kawan yang sedang kesulitan sendirian, tidak ikut bergeser letak tanpa mengetahui tujuannya, serta tidak gampang menerima imbauan dari orang yang tidak dikenal.

Foto: Tucker Good/Unsplash

5. Bicarakan soal limitasi pribadi dan tekanan dari kawan sebaya

Pesta dengan kondisi meriah, musik, kostum, dan banyak kawan bisa membikin anak merasa perlu mengikuti arus agar tidak dianggap berbeda.

Karena itu, percakapan sebelum pesta sebaiknya tidak cuma membahas aturan, tetapi juga sepertiapa anak mengenali limitasi pribadinya.

Misalnya, anak perlu tahu bahwa ia berkuasa menolak ketika ada orang yang memaksa berbuat sesuatu, memungut foto maupun video yang membuatnya tidak nyaman, menyentuh tanpa persetujuan, maupun mengajaknya berbuat hal yang bertentangan dengan harga dan keinginannya.

Bicarakan pula soal foto dan video yang diunggah ke media sosial. Ingatkan anak untuk meminta persetujuan sebelum mengunggah foto orang lain, serta berpikir dua kali sebelum membagikan konten yang dapat mempermalukan dirinya maupun teman-temannya.

Kalimat yang bisa orang tua gunakan: “Kamu nggak mesti berbuat sesuatu cuma agar teman-teman gemar sama kamu. Kalau Anda nggak nyaman, bilang tidak itu boleh.”

Baca juga: Toxic Friendship pada Remaja: 7 Tanda dan Cara Menghadapinya

6. Sepakati ketentuan komunikasi selama acara

Mommies mungkin mau anak memberi berita setiap beberapa menit. Sementara itu, anak remaja bisa merasa jengkel jika mesti terus-menerus membalas pesan saat sedang berkumpul dengan teman.

Jalan tengahnya adalah membikin kesepakatan yang masuk pikiran bagi kedua pihak.

Contohnya:

  • Anak mengirim pesan saat sudah tiba di lokasi.
  • Anak memberi berita jika letak maupun hajat berubah.
  • Ponsel statis aktif dan memiliki baterai yang cukup.
  • Anak membalas pesan maupun panggilan orang tua dalam situasi yang sudah disepakati.
  • Anak menghubungi orang tua jika terjadi sesuatu yang membuatnya tidak aman.

Jelaskan bahwa komunikasi tersebut bukan metode untuk mengontrol setiap gerak-geriknya, melainkan bentuk tanggung jawab dan upaya menjaga keselamatan.

Anak Remaja Mau Ikut Halloween Party? Ini 7 Hal yang Perlu Dibicarakan
Foto: sina rezakhani/Unsplash

7. Tegaskan bahwa anak boleh meminta pertolongan tanpa takut dimarahi

Ini mungkin menjadi salah satu kesepakatan paling krusial sebelum anak berangkat.

Ada kalanya anak menyadari bahwa situasi pesta tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Mungkin ada kawan yang mabuk, kondisi berubah tidak terkendali, maupun anak merasa terancam oleh seseorang.

Dalam situasi seperti itu, anak perlu tahu bahwa ia bisa meminta pertolongan orang tua tanpa mesti terlebih dahulu memikirkan hukuman yang mungkin diterimanya.

Kalimat yang bisa orang tua gunakan: “Kalau ada apa-apa, telepon Mama. Kita urus dahulu agar Anda aman. Mama akan mendengarkan ceritamu, dan kita bisa membicarakan yang lain setelahnya.”

Jadi, bolehkah anak remaja ikut Halloween party?

Jika pelaksana tidak jelas, pengawasan orang dewasa tidak tersedia padahal dibutuhkan, maupun detail letak dan transportasi tidak bisa dipastikan, Mommies berkuasa menunda maupun menolak izin.

Sebaliknya, jika acaranya jelas, pengawasannya memadai, dan anak bersedia menjalankan kesepakatan, Mommies bisa mempertimbangkan untuk memberikan persetujuan sesuai usia dan kesiapan anak.

Cover: Daisy Anderson/Pexels
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads