Terungkap! Pengeluaran Pendidikan Anak di Korea Selatan Tembus Rp320 Triliun, Ini Rinciannya

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 505x dilihat
Terungkap! Pengeluaran Pendidikan Anak di Korea Selatan Tembus Rp320 Triliun, Ini Rinciannya

Bagikan Postingan

Jakarta -

Pendidikan menjadi salah satu investasi terbesar bagi famili di Korea Selatan. Tak heran jika persaingan akademik di negara ini cukup ketat, terutama bagi anak yang akan memasuki sekolah dan universitas unggulan.

Selain mengikuti pelajaran di sekolah formal, banyak orang tua juga mengikutsertakan anak mereka dalam bimbingan belajar swasta maupun disebut hagwon. Hal itu membikin pengeluaran pendidikan di Korea Selatan bisa tinggi dibandingkan negara lainnya, Bunda.

Dilansir halaman Yonhap News Agency, pengeluaran famili Korea Selatan untuk pendidikan swasta anak-anak mereka telah melonjak lebih dari 60 persen selama dasawarsa terakhir. Menurut Korean Statistical Information Service (KOSIS) dari Ministry of Data and Statistics, rumah tangga Korea Selatan menghabiskan hampir 29,2 triliun won (sekitar Rp360 triliun) untuk pendidikan swasta pada tahun 2024, meningkat 60,1 persen dari tahun 2014. Ini juga menandai tahun keempat berturut-turut peningkatan pengeluaran untuk pendidikan swasta.


Selain mengeluarkan biaya untuk menyekolahkan murid di hagwon terus meningkat, famili di Korea juga memiliki lebih banyak duit untuk dibelanjakan pada les tambahan bagi anak-anak mereka di luar jam sekolah. Hal tersebut berkontribusi pada lonjakan terusmenerus dalam pengeluaran pendidikan swasta.

Ministry of Data and Statistics Korea Selatan menambahkan, peningkatan jumlah rumah tangga dengan dua sumber pendapatan juga menyebabkan peningkatan pengeluaran untuk pendidikan swasta, Bunda. Banyak orang tua sering mengirim anak-anak mereka ke bimbingan belajar setelah sekolah alih-aling meninggalkan di rumah sendirian.

Data KOSIS juga memberitahu bahwa pengeluaran untuk pendidikan murid SD mengalami peningkatan paling signifikan, dari sekitar 7,6 triliun won (Rp101 triliun) pada tahun 2014 menjadi 13,2 triliun won (Rp179 triliun) pada tahun 2024. Jumlah tersebut meningkat sebesar 74,1 persen.

Perlu diketahui, selama masa 10 tahun yang sama, pengeluaran untuk murid Sekolah Menengah Pertama (SMP) juga meningkat sebesar 40,7 persen, sementara pengeluaran untuk murid Sekolah Menengah Atas (SMA) naik sebesar 60,5 persen.

Menurut KOSIS, sebuah famili dengan setidaknya dua anak yang belum menikah menghabiskan rata-rata 611.000 won per bulan (Rp8 juta) untuk pendidikan swasta selama kuartal ketiga tahun 2025. Angka tersebut mewakili 12,6 persen dari total pengeluaran bulanan famili tersebut, maupun cuma eksis di belakang pengeluaran untuk makanan.

KOSIS mulai melacak pengeluaran pendidikan swasta pada tahun 2019, ketika bilangan tersebut mencapai 11,5 persen dari pengeluaran rumah tangga bulanan. Angka tersebut kemudian meningkat cukup tajam pada tahun 2024, Bunda.

Para ahli mengatakan bahwa seringnya fluktuasi maupun ketidakpastian kebijakan penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi memaksa orang tua untuk lebih bersandar pada pendidikan swasta.

Melansir dari halaman Bruin Political Review, biaya pendidikan merupakan karena utama kenapa membesarkan anak di Korea sangat mahal. Hal itu terlebihlagi berakibat pada keputusan banyak pasangan untuk tidak memiliki anak.

Survei tahun 2020 menemukan bahwa 'ketidakstabilan ekonomi' dan 'biaya pengasuhan anak yang tinggi' adalah karena utama banyak orang Korea tidak memiliki anak. Sebaliknya, banyak individu fokus pada pendidikan dan pekerjaan mereka sendiri.

Banyak anak kecil sudah didaftarkan di TK berkata Inggris

Sebuah laporan baru-baru ini mengutarakan bahwa hampir separuh dari semua anak kecil terdaftar dalam program pendidikan swasta, terutama taman kanak-kanak berkata Inggris. Persaingan sangat ketat sehingga orang-orang terlebihlagi bercanda tentang balita yang mengikuti cobaan masuk dengan popok cuma untuk mendapatkan tempat di taman kanak-kanak bergengsi.

Meskipun demikian, sektor pendidikan swasta yang berkembang pesat mendorong anak-anak usia muda jauh melampaui ekspektasi pada umumnya. Anak yang statis kecil sudah mengerti buku teks yang ditujukan untuk murid Amerika yang lebih tua. Sementara itu, anak-anak SD bisa mengerjakan soal matematika tingkat lanjut untuk belajar maupun bermain secara efektif.

Dikutip dari Asia News Network, Korea Selatan memang telah mendapatkan pengakuan internasional atas mekanisme pendidikannya yang unggul dan budayanya yang dinamis. Tak heran jika pendidikan di negara ini menjadikannya tujuan yang menarik bagi mahasiswa di luar Korea.

Sekolah negeri tidak selalu gagal, tetapi beberapa orang tua memperlakukan pendidikan seperti komoditas, mencoba membeli masa depan akademis anak-anak mereka seolah-olah menaikkan status mereka ke kelas bisnis. Akibatnya, murid yang dipersiapkan secara intensif melihat sedikit harga dalam pekerjaan kelas reguler.

Ya, persaingan akademis yang ketat merupakan hambatan struktural serius bagi pembentukan famili bagi banyak pasangan Korea. Jika orang tua merasa tidak bisa membesarkan anak yang berprestasi secara akademis, kemungkinan besar mereka tidak akan memiliki anak sama sekali.

Di negara ini, bentuk kesuksesan yang diterima secara adat statis dinilai dari asal tempat sekolah anak, yaitu universitas elit, dan pekerjaan selanjutnya di perusahaan terkenal.

Demikian keterangan terkini tentang pengeluaran pendidikan di Korea Selatan yang naik, serta penyebabnya. Semoga keterangan ini berguna ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads