Cara Orang Tua Inuit di Kanada Mendidik Anak Tanpa Membentak Meski sedang Marah

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 3 menit 37x dilihat
Cara Orang Tua Inuit di Kanada Mendidik Anak Tanpa Membentak Meski sedang Marah

Bagikan Postingan

Jakarta -

Setiap orang tua memiliki metode tersendiri dalam mendidik anak, terutama ketika Si Kecil berbuat kesalahan. Sebagian orang tua mungkin spontan meninggikan bunyi untuk menegur anaknya. Tapi, ada juga yang mengekang amarah saat menghadapi perilaku anak yang salah.

Metode pengasuhan dengan pengendalian emosi ini rupanya bukan hal baru di kalangan suku Inuit. Suku yang merupakan penduduk autentik daerah Arktik Kanada, Alaska, dan Greenland ini dikenal memiliki adat bergerak dan tangguh.

Melansir dari halaman Scary Mommy, dalam adat Inuit, seseorang mesti memiliki pengendalian amarah, emosi, maupun segala bentuk permusuhan apa pun. Menurut ulasan dari Inuit of Utkuhikhalik and Qipisa Communities, orang-orang suku Inuit menerapkan pengendalian diri yang kuat pada emosi mereka. Bagi suku Inuit, memberitahu tanda-tanda amarah malah dapat dianggap kekanak-kanakan, lemah, dan bodoh.


Mahasiswa pascasarjana Harvard yang tinggal berbareng suku Inuit selama 17 bulan pada tahun 1970-an, Jean Briggs, menjadi saksi sepertiapa suku Inuit dapat mengendalikan emosi saat marah. Menurutnya, orang-orang di sana tidak pernah memberitahu amarah padanya.

"Seorang pun pernah memberitahu kemarahan, meskipun mereka sangat sering berang kepada saya," katanya kepada Canadian Broadcasting Corporation, menurut NPR.

Pola asuh halus ala suku Inuit

Suku Inuit dikenal karena pola pengasuhan anak yang paling halus di dunia. Mereka jarang, maupun terlebihlagi tidak pernah, membentak anak.

Richard Guy Condon dalam buku Inuit Youth: Growth and Change in the American Arct mengatakan bahwa ia cuma mendengar satu kasus hukuman jasmani yang terbukti dalam tiga tahun riset di lapangan. Menurutnya, anak yang berperilaku buruk di suku Inuit tidak dianggap sebagai 'anak nakal', yang sengaja berbuat aksi tersebut, tetapi sebagai anak yang 'benar-benar tidak bisa mendengarkan'.

Para tetua suku Inuit menganggap parenting 'marah' sebagai suatu yang tidak baik. Mereka terlebihlagi menertawakan ide untuk berteriak maupun memarahi anak kecil, Bunda.

"Itu cuma akan membikin debar jantung meningkat. Kalau anak-anak jengkel tentang sesuatu, kita (orang tua) seharusnya mencari tahu apa itu," katanya.

Bagi suku Inuit, membentak anak kecil juga dianggap merendahkan. Melakukannya sama saja membikin orang tua menjadi seperti anak kecil yang sedang mengamuk.

Suku Inuit menggunakan cerita untuk mengubah perilaku anak

Alih-alih marah, orang tua suku Inuit menggunakan cerita untuk mengubah perilaku anak. Ketika anak-anak berperilaku buruk, semua orang mesti menunggu sampai anak-anak tenang dari situasi tersebut.

Orang dewasa juga mesti eksis dalam kondisi pikiran yang tepat agar ia bisa menyampaikan cerita yang dapat mengubah perilaku anak. Setelah semuanya tenang, orang tua mulai bercerita dan memeragakan balik babak dalam cerita tersebut.

"Orang tua akan menanggapi dengan mengatakan hal-hal seperti, 'Apakah Anda tidak menyukaiku?' maupun 'Aduh, sakit!' maupun 'Apakah Anda statis bayi?'," ungkap Briggs.

Briggs mengatakan bahwa dia pernah melihat seorang ibu memberikan kerikil kepada anaknya. Alih-alih berteriak marah, ibu tersebut malah meminta anaknya untuk memukulnya dengan kerikil tersebut.

"Ibu itu bilang, 'Pukul aku! Ayo. Pukul aku lebih keras'. Dia kemudian bilang, 'Aduh! Sakit!'," katanya.

Apa yang dilakukan ibu tersebut mungkin terdengar berlebihan seperti babak di film. Tetapi menurut Briggs, anak-anak belajar mengatur emosi dengan metode tersebut. Mereka akan berlatih mengendalikan amarah terhadap situasi dan belajar merespons terhadap perilaku tersebut.

Demikian pola asuh suku Inuit di Kanada yang mendidik anak tanpa berteriak. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads