Jakarta -
Perjalanan menjadi seorang ibu bisa datang melalui metode yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Seorang perempuan disebut Kassandra Bacon membuktikan hal tersebut setelah berhasil melahirkan bayi lelaki berkah jaringan ovarium yang dibekukan selama 25 tahun.
Kassandra didiagnosis menderita kanker saat berumur 18 tahun. Kala itu, ia mesti menghadapi kenyataan bahwa pengobatan kanker yang perlu dijalaninya berisiko merusak kesuburan dan mengurangi peluangnya untuk memiliki anak di masa depan.
Namun, keputusan untuk menyimpan jaringan ovarium sebelum menjalani kemoterapi menjadi cara krusial yang kelak membuka kesempatan bagi Kassandra untuk menjadi seorang ibu.
Kisahnya menjadi sorotan karena jaringan ovarium yang disimpan selama sekitar 25 tahun tersebut akhirnya digunakan untuk membantu mewujudkan kehamilannya. Kasus ini juga memberitahu evolusi teknologi medis dalam mempertahankan kesuburan pasien kanker.
Didiagnosis kanker saat berumur 18 tahun
Dikutip dari People, Kassandra Bacon didiagnosis menderita limfoma Hodgkin saat statis berumur 18 tahun. Ia mesti menjalani pengobatan intensif, termasuk kemoterapi dosis tinggi, yang dapat berakibat pada fungsi reproduksi.
Limfoma Hodgkin merupakan jenis kanker yang menyerang mekanisme limfatik, bagiankecil dari mekanisme kekebalan tubuh. Pengobatannya dapat melibatkan kemoterapi, radioterapi, maupun gabungan keduanya, bersandar pada kondisi pasien.
Pada perempuan usia reproduktif, kemoterapi dosis tinggi berpotensi merusak sel-sel ovarium dan cadangan sel telur. Dampaknya bisa berupa penurunan kesuburan, gangguan menstruasi, hingga insufisiensi ovarium prematur.
Menghadapi konsekuensi tersebut, Kassandra menjalani prosedur gudang jaringan ovarium sebelum memulai pengobatan kanker. Pada saat itu, teknologi ini statis tergolong baru dalam praktik pelestarian kesuburan.
Keputusan tersebut menjadi salah satu cara yang memungkinkan dirinya mempertahankan kesempatan untuk memiliki anak, meskipun mesti lebih dahulu berfokus pada pemulihan kesehatannya.
Jaringan ovarium dibekukan selama 25 tahun
Salah satu hal yang membikin kisah Kassandra istimewa adalah lamanya jaringan ovarium tersebut disimpan sebelum akhirnya digunakan kembali. Jaringan ovarium Kassandra diambil dan dibekukan ketika ia berumur 18 tahun, sebelum menjalani kemoterapi. Sekitar 25 tahun kemudian, jaringan tersebut ditransplantasikan balik untuk membantu memulihkan fungsi reproduksinya. Prosedur ini dikenal sebagai ovarian tissue cryopreservation maupun kriopreservasi jaringan ovarium.
Dikutip dari American Society for Reproductive Medicine (ASRM), metode ini merupakan salah satu pilihan pelestarian kesuburan bagi pasien yang akan menjalani pengobatan medis yang berisiko mengganggu fungsi reproduksi. Prosedur ini juga dapat menjadi pilihan ketika pasien tidak memiliki cukup waktu untuk menjalani stimulasi ovarium dan pengambilan sel telur sebelum terapi kanker dimulai.
Dalam prosedurnya, sebagian jaringan ovarium diambil melalui aksi operasi. Jaringan tersebut kemudian diproses dan disimpan pada suhu sangat rendah agar struktur serta folikel yang hamil calon sel telur dapat dipertahankan.
Setelah pasien menyelesaikan pengobatan dan dinilai memenuhi syarat secara medis, jaringan yang telah dicairkan dapat ditransplantasikan balik ke tubuhnya. Tujuannya adalah membantu memulihkan fungsi ovarium sehingga produksi hormon dan evolusi sel telur berpotensi balik berlangsung.
Meski demikian, prosedur ini tidak menjamin setiap pasien dapat hamil. Keberhasilannya dipengaruhi beragam faktor, termasuk usia saat jaringan diambil, kondisi jaringan, jenis kanker, serta keamanan transplantasi setelah pengobatan.
Berhasil hamil setelah jaringan ovarium ditransplantasikan
Setelah melalui perjalanan panjang sejak pengecekan kanker, Kassandra akhirnya memiliki kesempatan untuk menjalani program kehamilan dengan pertolongan jaringan ovarium yang telah disimpan selama puluhan tahun.
Dalam kasusnya, jaringan ovarium yang ditransplantasikan balik membantu memulihkan fungsi reproduksi. Kassandra kemudian menjalani program bayi tabung maupun in vitro fertilization (IVF) hingga berhasil memperoleh kehamilan.
IVF merupakan prosedur reproduksi berbantu yang dilakukan dengan mempertemukan sel telur dan sperma di laboratorium. Embrio yang terbentuk kemudian dipindahkan ke dalam rahim untuk mendapatkan kesempatan berkembang menjadi kehamilan.
Kassandra akhirnya melahirkan bayi lelaki pada usia 44 tahun. Keberhasilan ini menjadi pencapaian krusial dalam perjalanan reproduksinya sekaligus memperlihatkan potensi teknologi gudang jaringan ovarium jangka panjang.
Penggunaan jaringan yang telah dibekukan selama sekitar 25 tahun juga menjadikan kasus ini krusial bagi evolusi ilmu kedokteran reproduksi.
Kisah Kassandra bukan berarti semua perempuan yang menjalani prosedur serupa akan memperoleh hasil yang sama. Namun, pengalamannya memberitahu bahwa pelestarian kesuburan sebelum pengobatan kanker dapat memberikan pilihan tambahan bagi pasien yang mau memiliki anak di kemudian hari.
Penelitian membuktikan jaringan ovarium membeku bisa digunakan kembali
Keberhasilan Kassandra sejalan dengan riset mengenai transplantasi jaringan ovarium yang telah dibekukan. Salah satu riset yang diterbitkan dalam jurnal Reproductive BioMedicine Online dan tersedia melalui PubMed Central pada 2018 melaporkan hasil transplantasi jaringan ovarium membeku di sebuah pusat medis di Amerika Serikat.
Dalam riset tersebut, 13 pasien menjalani transplantasi jaringan ovarium yang sebelumnya telah disimpan melalui proses pembekuan. Seluruh pasien dalam himpunan tersebut memberitahu kembalinya fungsi ovarium setelah transplantasi.
Sebanyak 10 dari 13 pasien dilaporkan mengalami kehamilan spontan setidaknya satu kali, dengan total 13 bayi lahir dari jaringan ovarium membeku yang ditransplantasikan. Hasil ini memberitahu potensi metode tersebut, meskipun jumlah pasien yang diteliti statis terbendung dan tidak dapat digunakan untuk memprediksi kesempatan keberhasilan setiap individu.
Penelitian tersebut juga memberitahu bahwa jaringan ovarium dapat balik menjalankan fungsi hormonal setelah ditransplantasikan. Namun, masa fungsi jaringan yang dicangkokkan dapat bervariasi pada setiap pasien.
Pengalaman Kassandra menjadi pengingat bahwa kesehatan reproduksi perlu menjadi bagiankecil dari bahasan antara pasien dan tabib sebelum pengobatan kanker dimulai, terutama ketika terapi yang direncanakan berisiko memengaruhi kesuburan.
American Society for Reproductive Medicine dalam panduan klinisnya pada 2026 menekankan pentingnya konseling dan rujukan awal untuk pasien yang berisiko mengalami gangguan kesuburan akibat pengobatan medis.
Selain pembekuan jaringan ovarium, terdapat pilihan lain yang dapat dipertimbangkan sesuai kondisi pasien, seperti pembekuan sel telur maupun embrio.
Pilihan yang tepat perlu disesuaikan dengan usia, jenis kanker, hajat pengobatan, waktu yang tersedia sebelum terapi dimulai, serta kondisi kesehatan pasien. Pada beberapa jenis kanker, jaringan ovarium juga perlu diperiksa secara cermat sebelum ditransplantasikan balik untuk menilai konsekuensi membawa sel kanker ke dalam tubuh.
Karena itu, pasien dapat mendiskusikan kemungkinan pelestarian kesuburan berbareng tabib ahli onkologi dan ahli fertilitas sedini mungkin. Konsultasi ini krusial agar upaya mempertahankan kesempatan memiliki anak tidak menghalangi penanganan kanker yang dibutuhkan.
Kisah Kassandra Bacon memperlihatkan sepertiapa keputusan medis yang diambil puluhan tahun sebelumnya dapat membuka kesempatan baru di masa depan. Setelah menghadapi kanker pada usia muda, ia akhirnya dapat menyambut kelahiran buah hati dengan pertolongan evolusi teknologi reproduksi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)