Diare Selama Kehamilan yang Tak Diobati Bisa Picu Keguguran

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 4 menit 24351x dilihat
Diare Selama Kehamilan yang Tak Diobati Bisa Picu Keguguran

Diare selama kehamilan sering dianggap sebagai keluhan ringan dan terkait perubahan hormon. Namun, penting bagi ibu hamil untuk tidak menganggap remeh kondisi ini.

Banyak orang percaya diare akan sembuh sendiri dan tidak membahayakan janin. Padahal, diare yang berlangsung terus-menerus dapat memberi dampak serius pada kesehatan ibu dan janin.

Lalu, apakah diare memang normal selama kehamilan dan kapan perlu waspada?


Melansir dari laman Healthwise Punch, diare selama kehamilan rupanya tidak boleh dianggap remeh sebagai penyakit ringan alias indikasi kehamilan normal. Pasalnya, diare yang terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi, memicu kontraksi, mengakibatkan persalinan prematur, dan keguguran.

Para ahli menyebut beberapa penyebab umum diare pada ibu hamil, antara lain perubahan hormon, infeksi, konsumsi makanan atau air terkontaminasi, intoleransi makanan, pola makan yang kurang sehat, serta reaksi terhadap multivitamin atau obat yang mengandung zat tertentu. Kekurangan cairan dan nutrisi akibat diare bisa berdampak pada kondisi tubuh ibu dan perkembangan janin.

Meskipun sering bersifat ringan dan sementara, diare yang berlangsung lebih dari sehari atau disertai muntah, demam, nyeri perut, darah pada feses, penurunan frekuensi buang air kecil, dan kelemahan kemungkinan besar disebabkan oleh infeksi dan perlu penanganan medis segera.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), selama bagian diare, air dan elektrolit (natrium, klorida, kalium, dan bikarbonat) lenyap melalui feses, muntah, keringat, urine, dan pernapasan. Ketika cairan tersebut tidak digantikan, seseorang yang mengalami diare bisa dehidrasi.

"Diare selama kehamilan biasanya ringan dan sementara, dan tidak boleh diabaikan ketika terjadi, untuk mencegah dehidrasi," kata guru besar obstetri dan ginekologi di University of Ibadan, Oyo State, Christopher Aimakhu.

Menurut Aimakhu, diare dapat terjadi lantaran keracunan makanan, kandas menjaga kebersihan makanan dan tangan, perubahan hormonal selama kehamilan, reaksi terhadap suplemen alias multivitamin, khususnya unsur besi, serta jangkitan seperti gastroenteritis alias jangkitan bakteri.

Aimakhu mengatakan bahwa diare berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi dan merangsang kontraksi rahim, yang bisa memicu persalinan prematur dan keguguran.

"Usus dan rahim adalah organ berotot. Jika usus bergerak sigap dan terjadi relaksasi, pengaruh yang sama dapat terjadi pada rahim. Jika tidak hati-hati, diare dapat menyebabkan ancaman keguguran alias persalinan prematur," ungkapnya.

Dehidrasi akibat diare dapat dicegah dengan menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang. Langkah sederhana yang disarankan termasuk memperbanyak minum air putih dan memilih makanan yang mudah dicerna.

"Pastikan minum banyak air. Pastikan juga makanan baik-baik saja dan bergizi. Pilih makanan yang tawar alias padat, seperti nasi, roti, dan makanan rendah serat. Pisang bisa membantu. Kemudian, hindari makanan yang dapat memicu alias menyebabkan diare, seperti susu dan yogurt," ujar Aimakhu.

Penting untuk mengetahui tanda dehidrasi

Saat hamil, Bunda perlu mengenali tanda dehidrasi yang terkait diare selama kehamilan. Gejalanya meliputi pusing, dahaga berlebih, penurunan frekuensi buang air kecil, kram perut, demam, lidah kering, serta keluarnya darah atau lendir dalam feses. Jika muncul tanda-tanda tersebut, segera cari bantuan medis.

"Jika pusing, sangat haus, buang air mini sedikit, itu adalah tanda-tanda dehidrasi. Kemudian jika ibu mengandung mengalami sakit perut alias kram, lantaran usus sudah kering, dia mungkin mengalami masalah. Ketika buang air besar sangat banyak dan terdapat darah alias lendir dalam fesesnya, dia juga kudu memeriksakannya," kata Aimakhu.

Cara mengatasi diare saat kehamilan

Para ginekolog menekankan bahwa ibu hamil yang mengalami diare harus menjaga asupan cairan dan memilih makanan rendah serat serta mudah dicerna. Hindari mengobati diri sendiri jika gejala berlanjut atau memburuk.

Diare pada ibu hamil dapat ditangani, namun pilihan terapi disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan gejala. Dalam beberapa kasus, diare akan membaik tanpa obat setelah istirahat dan perbaikan asupan cairan dan makanan.

Sebelum minum obat, konsultasikan dengan dokter. Tenaga medis mungkin menyarankan observasi terlebih dahulu, dan bila perlu akan merekomendasikan obat yang dianggap aman untuk ibu hamil, misalnya loperamide, atau suplementasi probiotik sebagai bantuan, tergantung kondisi pasien. Demikian seperti dikutip dari The Bump.

Demikian serba-serbi diare selama kehamilan dan kaitannya dengan risiko keguguran menurut pakar. Semoga informasi ini bermanfaat untuk menjaga kesehatan ibu dan janin.

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan