Jakarta -
Istilah prematur dan dismatur biasanya digunakan untuk menggambarkan karakter bentuk dan fisiologis yang belum matang pada bayi baru lahir dalam kaitannya dengan lamanya kehamilan. Simak dismatur, kenali penyebab, ciri-ciri, langkah mencegah & mengatasinya.
Prematur dan dismatur memang berbeda tipis lantaran karakter fisiknya serupa. Perbedaannya adalah pada kondisi prematur, bayi lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu dengan organ yang belum matang. Sementara pada bayi dismatur, kelahirannya cukup bulan namun berat badannya lebih rendah daripada usianya.
Mengenal bayi dismatur
Dismaturitas adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari berat badan yang semestinya untuk masa kehamilannya, ialah berat badan di bawah persentil 10 pada kurva pertumbuhan intra uterin, dan biasa disebut dengan bayi mini untuk masa kehamilan (KMK/SGA).
Bayi dismatur juga lahir dengan berat badan kurang dari semestinya untuk masa kehamilan yang menunjukkan bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauteri. Keadaan ini berasosiasi dengan gangguan sirkulasi dan efisiensi plasenta.
Kenali penyebab bayi dismatur
Ada beragam aspek yang bisa memengaruhi gangguan pertumbuhan intra uterin pada bayi. Berikut ini beberapa di antaranya ya, Bunda:
1. Faktor janin
Kelainan kromosom, jangkitan janin kronik, disotonomia familial, retardasi, kehamilan ganda, aplasia pankreas bisa menjadi penyebabnya.
2. Faktor plasenta
Berat plasenta kurang, plasenta berliang alias keduanya, luas permukaan berkurang, plasentitis vilus, infark tumor (korio angiona), plasenta yang lepas, sindrom transfusi bayi kembar juga bisa membikin kelahiran dismatur.
3. Faktor ibu
Pengaruh dari ibu mengandung juga mempunyai peran terjadinya gangguan ini seperti toksemia, hipertensi, penyakit ginjal, hipoksemi, penyakit jantung sionatik, penyakit paru), malnutrisi, anemia sel sabit, ketergantungan (obat narkotik, alkohol, rokok).
Gejala klinis bayi dismatur
Biasanya, bayi dismatur menunjukkan indikasi klinis tertentu yang bisa ditandai. Gejala klinis dari bayi dismatur sendiri sangatlah bervariasi lantaran dismatur dapat terjadi preterm, term, dan post-term. Bayi dismatur preterm bakal terlihat indikasi bentuk bayi prematur ditambah dengan indikasi retardasi pertumbuhan.
Pada bayi cukup bulan dan post-term dengan dismaturitas, indikasi yang menonjol adalah pelisutan. Gejala insufisiensi plasenta berjuntai pada berat dan lamanya bayi menderita defisit, retardasi pertumbuhan bakal terjadi jika defisit berjalan lama (kronis).
Defisit in uteri mengakibatkan darurat janin, dalam makna luas darurat janin dibagi menjadi 3 golongan ialah sebagai berikut:
1. Gawat janin akut
Defisit mengakibatkan adanya darurat perinatal tetapi tidak mengakibatkan retardasi pertumbuhan dan pelisutan.
2. Gawat janin subakut
Terjadi jika defisit tersebut menunjukkan tanda pelisutan tetapi tidak mengakibatkan retardasi pertumbuhan.
3. Gawat janin kronik
Gawat janin kronik terjadi andaikan bayi jelas menunjukkan retardasi pertumbuhan.
Stadium bayi dismatur
Ada jenjang stadium bayi dismatur yang perlu Bunda ketahui. Berikut ini level stadium bayi dismatur, Bunda:
1. Stadium pertama
Bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang, kulitnya longgar, kering seperti perkamen, tetapi belum terdapat noda mekonium.
2. Stadium kedua
Terdapat tanda stadium pertama ditambah warna kehijauan pada kulit plasenta dan umbilikus. Hal ini disebabkan oleh mekonium yang tercampur dalam amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit, umbilikus dan plasenta sebagai akibat dari anoksia intrauteri.
3. Stadium ketiga
Terdapat tanda stadium kedua ditambah dengan kulit yang berwarna kuning, begitu pula dengan kuku dan tali pusat, ditemukan juga tanda anoksia intra uterin yang lama seperti dikutip dari Buku Perawatan Bayi Risiko Tinggi yang ditulis Asrining Surasimi, Siti Handayani, Heni Nur Kusuma, dan diterbitkan EGC.
Cara merawat bayi dismatur
Perawatan bayi dismatur alias bayi dengan berat badan lahir rendah yang direkomendasikan WHO adalah dengan menjaga suhu BBLR. Menurut WHO, Perawatan Metode Kangguru (PMK) yang terdiri dari kontak kulit ke kulit secara terus menerus antara ibu dan bayi, gelombang menyusui lebih sering dan perencanaan pulang dari rumah sakit lebih awal seperti dikutip dari laman Keslan.kemkes.
Posisi PMK yang bisa dilakukan ialah dengan menempatkan bayi di antara kedua tetek ibu, dengan posisi tegak serta dada bayi menempel kedada ibu. Kepala bayi dimiringkan ke salah satu sisi dengan posisi sedikit ekstensi. Pertahankan posisi kepala bayi ekstensi untuk memastikan jalan napas terbuka dan terjadi kontak mata ibu dan bayi. Hindari kepala bayi menekuk dan menghadapkan muka ke atas.
Kemudian, bayi diberikan posisi 'kodok' dengan pinggul bayi posisi fleksi. Pertahankan pelekatan dengan optimal. Lakukan PMK minimal 1 jam ya, Bunda. Praktik PMK tersebut bisa dilakukan ibu, ayah alias personil family lainnya.
Selain itu, merawat bayi dismatur sebaiknya di bawah pengawasan dokter. Dan, Bunda bisa melakukan perawatan lanjutan setelah perawatan intensif dijalani, seperti berikut:
1. Memenuhi kebutuhan nutrisi dan ASI sesuai jadwal
2. Cukupi waktu rehat bayi
3. Tidak melewatkan agenda imunisasi
4. Memantau dengan jeli tumbuh kembang Si Kecil
5. Memberikan oksigen jika diperlukan untuk mengurangi ancaman hipoksia.
6. Menjaga kebersihan dengan mencuci tangan sebelum memegang bayi
Pencegahan agar bayi tidak dismatur
Setiap kehamilan tentunya melambungkan angan agar bayi yang dilahirkan sehat selalu dengan berat badan yang normal sesuai tahapan usianya ya, Bunda. Untuk itu, pencegahan agar terhindari dari akibat bayi dismatur memang perlu dilakukan. Berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan, Bun:
1. Rutin memeriksakan diri ke master selama kehamilan
Pemeriksaan selama kehamilan secara rutin krusial dilakukan ibu hamil. Di fase ini, master dapat memeriksa berat janin secara rutin untuk memandang apakah BB mereka sudah sesuai dengan usia kehamilan alias belum. Selain itu, pemeriksaan melalui USG juga menjadi kebutuhan untuk memantau kondisi janin, seperti dikutip dari laman Stanfordchildren.
2. Konsumsi makanan bergizi
Melakukan pola hidup sehat selama kehamilan menjadi prioritas ya, Bunda. Selain memasukkan makanan bergizi seimbang, pastikan juga asupan yang dikonsumsi dalam keseharian tepat sehingga berat badan Bunda selama kehamilan sesuai usia kehamilan serta janin yang ada di dalam kandungan bertumbuh sehat.
3. Tidak merokok dan minum alkohol
Kebiasaan jelek seperti merokok dan minum alkohol sebaiknya tidak dilakukan ya, Bunda. Sebab, kebiasaan tersebut dapat menyebabkan bayi terlahir dengan berat badan lahir rendah serta berisiko terkena masalah kesehatan.
Semoga informasinya membantu ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·