Ngaji Jawahirul Qur’an: Menggali Mutiara Makrifat Dan Retorika Kosmis

Jun 30, 2026 01:42 PM - 5 hari yang lalu 6642
 Menggali Mutiara Makrifat dan Retorika KosmisNgaji Jawahirul Qur’an: Menggali Mutiara Makrifat dan Retorika Kosmis

Kincai Media Dalam lanskap pemikiran Islam klasik, Kitab “Jawahirul Qur’an” karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali merupakan sebuah peta epistemologis yang berupaya memetakan struktur terdalam dari pesan-pesan Ilahi.

Al-Ghazali membagi ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam dua kategori besar: jawahir (mutiara) yang menuntun manusia pada pengenalan prinsip (dzat), sifat, dan tindakan-tindakan Tuhan (af’alullah); serta durar (permata) yang mengarah pada jalan petunjuk dan orientasi praktis kehidupan.

Ketika KH. Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) mengkontekstualisasikan kitab ini dalam serial ngajinya, khususnya pada bagian ke-27, kita tidak sedang diajak untuk sekadar mengeja teks profetik secara verbal. Lebih dari itu, kita sedang diajak menyelami samudera teologi kosmis dan ilmu jiwa eksistensial manusia.

Pada bagian kali ini, konsentrasi kajian tertuju pada jalinan ayat dari tiga surah krusial: Al-A’raf, At-Taubah, dan Yunus. Melalui jalinan ayat-ayat ini, Al-Ghazali (dan secara bergerak diulas oleh Gus Ulil) memperlihatkan gimana Tuhan “memperkenalkan diri-Nya” bukan sebagai entitas yang pasif dan jauh, melainkan sebagai Aktor Kosmis Utama yang tindakan-Nya (af’al) bergetar di setiap jengkal realitas.

Tulisan kali ini bakal mengulas secara mendalam jalinan makna dari ayat-ayat tersebut, membedahnya menjadi kategori mutiara ketuhanan, serta memandang gimana tindakan Tuhan berkelindan dengan respons eksistensial manusia.

Teologi Kosmik: Membaca Af’alullah dalam Hamparan Alam Raya

Dunia modern sering kali menjebak manusia dalam langkah pandang sekuler yang mekanistik; memandang alam semesta sekadar sebagai mesin raksasa yang bergerak tanpa jiwa.

Namun, dalam pembacaan Al-Qur’an surah Al-A’raf dan Yunus yang diuraikan dalam bagian ini, alam semesta adalah panggung teofani, tempat di mana tindakan Tuhan (af’alullah) mewujud secara visual. Allah SWT berfirman:

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًا ۙ وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍ بِۢاَمْرِهٖ ۗ اَلَا لَـهُ الْخَـلْقُ وَالْاَمْرُ ۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

Artinya: “Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lampau Dia berdomisili di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala pembuatan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-A’raf [7]: 54).

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْاَمْرَ ۗ مَا مِنْ شَفِيْعٍ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ اِذْنِهٖ ۗ ذٰ لِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya Tuhan Anda Dialah Allah yang menciptakan langit dan Bumi dalam enam masa kemudian Dia berdomisili di atas Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat selain setelah ada izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah Anda tidak mengambil pelajaran?” (QS. Yunus [10]: 3).

Pernyataan teologis ini bukan sekadar info kronologis tentang kosmologi purba, melainkan sebuah maklumat tentang keteraturan (order). Tuhan menampakkan diri-Nya sebagai Pengatur Segala Urusan (yudabbirul amr).

Siklus siang dan malam, rotasi matahari, serta pendaran sinar bulan bukanlah kebetulan fisika murni, melainkan tanda-tanda yang sengaja dihamparkan agar manusia bisa membaca “hitungan waktu” dan “jumlah tahun”.

Di sinilah sains dan spiritualitas bertemu: alam semesta adalah kitab terbuka (ayat kauniyah) yang menuntut pembacaan logis sekaligus kontemplatif.

Lebih jauh, tindakan Tuhan mewujud dalam mikrokosmos penopang kehidupan manusia, seperti yang digambarkan dalam metafora angin, awan, dan air hujan. Pertama, angin sebagai pembawa berita gembira: Tuhan menggerakkan angin sebagai pertanda rahmat-Nya.

Kedua, awan tebal dan tanah tandus: air diturunkan di atas tanah yang meninggal untuk menumbuhkan vegetasi dan buah-buahan. Ketiga, afinitas kebangkitan: melalui siklus hidrologi ini, Al-Qur’an memberikan afinitas logis tentang gimana kehidupan setelah kematian (ba’ats) bekerja.

Gus Ulil dalam beragam kesempatan sering menekankan bahwa bagi seorang arif (orang yang bijak), memandang hujan turun bukan sekadar memandang kejadian meteorologi, melainkan menyaksikan jemari Tuhan yang sedang menyuapi makhluk-Nya dengan rezeki.

Tanah yang baik bakal merespons hujan dengan kesuburan, sementara tanah yang jelek menolak kehidupan. Ini adalah sindiran tajam bagi hati manusia: apakah hati kita adalah tanah subur yang menerima wahyu, ataukah tanah gersang yang bebal?

Dialog Musa dan Batasan Rasio Manusia di Hadapan Transendensi Ilahi

Salah satu puncak dramatisasi spiritual dalam Al-Qur’an yang termaktub dalam surah Al-A’raf adalah kisah munajat Nabi Musa di bukit Thursina. Kisah ini laksana sebuah mutiara epistemologis yang memperlihatkan pemisah akhir dari rasio dan persepsi indrawi manusia ketika berhadapan dengan kemutlakan Dzat Tuhan.

Ketika Musa memohon, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah diri-Mu kepadaku, agar saya dapat melihat-Mu,” itu bukanlah permintaan yang didasari oleh keraguan, melainkan kerinduan eksistensial seorang kekasih yang mau menatap Yang Dikasihi. Namun, jawaban Ilahi meruntuhkan batas itu: “Engkau tidak bakal dapat melihat-Ku…” (lan tarani).

Dengan bahasa dan kata lain, kerinduan manusia adalah mau memandang Dzat, batas eksistensial adalah “lan tarani”, solusi kosmis adalah tajalli (manifestasi) pada gunung, dan dampaknya adalah gunung runtuh serta Musa pingsan.

Peristiwa runtuhnya gunung ketika Tuhan menampakkan keagungan-Nya (tajalli) merupakan simbolisasi bahwa materi sekuat apa pun tidak bakal bisa menampung keabadian dan kemutlakan Dzat Tuhan tanpa perantara. Manusia, dengan segala keterbatasan sensorik dan kognitifnya, bakal hancur jika dipaksa menembus pemisah transendensi tersebut.

Ketika Musa sadar dari pingsannya dan berkata, “Maha Suci Engkau! Aku bertaubat kepada-Mu…”, di sanalah letak mutiara makrifat yang sesungguhnya. Taubat di sini bukanlah taubat dari dosa moral, melainkan taubat dari kelancangan rasio yang mencoba mengurung Yang Tak Terbatas ke dalam batas indrawi yang terbatas.

Tauhid Sosial dan Eksklusivitas Cahaya Kebenaran: Refleksi Surah At-Taubah

Bergerak ke surah At-Taubah, kategori mutiara Al-Qur’an beranjak dari dimensi kosmologis-metafisik menuju dimensi sosiologis-ideologis. Di sini, tindakan Tuhan mewujud dalam corak pengawalan terhadap kebenaran sejati melalui risalah kenabian. Allah SWT berfirman:

يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّطْفِـئُــوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّٰهُ اِلَّاۤ اَنْ يُّتِمَّ نُوْرَهٗ وَلَوْ كَرِهَ الْـكٰفِرُوْنَ

Artinya: “Mereka hendak memadamkan sinar (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkemauan menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai.” (QS. At-Taubah [9]: 32).

Ayat ini berbincang tentang dialektika sejarah antara kebenaran (al-haqq) dan kebatilan (al-bathil). Usaha manusia untuk mereduksi, mendistorsi, alias apalagi melenyapkan nilai-nilai ketuhanan digambarkan secara ironis: seperti seseorang yang mencoba meniup sinar mentari dengan mulutnya. Sebuah tindakan yang sia-sia dan menggelikan.

Melalui ayat ini, Al-Ghazali mengingatkan kita bahwa salah satu tindakan utama Tuhan adalah menjaga kontinuitas kebenaran di muka bumi. Diutusnya Rasul dengan membawa petunjuk (huda) dan kepercayaan yang betul (dinul haqq) adalah agunan logis bahwa kegelapan spiritual tidak bakal pernah menang secara permanen atas sinar Ilahi.

Bagi pembaca kontemporer, ayat ini memberikan optimisme eksistensial. Di tengah gempuran nihilisme, skeptisisme akut, dan krisis moral modern, prinsip kebenaran kepercayaan bakal selalu menemukan jalannya untuk menyempurnakan diri, melampaui segala corak resistensi ideologis manusia.

Determinisme Kebenaran, Kebebasan Berpikir, dan Tanggung Jawab Insani

Salah satu bagian paling menantang dalam teks surah Yunus yang dibahas dalam ngaji ini adalah ketegangan teologis antara kehendak absolut Tuhan (masyi’ah) dan kebebasan manusia (free will). Al-Qur’an menyatakan:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًا ۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

Artinya: “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beragama semua orang di Bumi seluruhnya. Tetapi apakah Anda (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?” (QS. Yunus [10]: 99).

Ayat ini meruntuhkan segala corak radikalisme dan pemaksaan dalam beragama. Tuhan, dalam kemutlakan kuasa-Nya, sengaja merancang bumi ini penuh dengan pluralitas pilihan.

Jika Tuhan mau, Dia bisa saja menciptakan manusia seperti malaikat yang terprogram untuk alim tanpa pilihan. Namun, tindakan Tuhan justru memberikan ruang bagi kebebasan memilih, lantaran di sanalah letak nilai dari ujian eksistensial manusia.

Namun, kebebasan ini datang dengan akibat epistemologis yang berat. Pertama, penggunaan akal: Tuhan menimpakan kenajisan spiritual (al-rijs) kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya (la ya’qilun). Artinya, ketaatan dalam Islam bukan sekadar kepatuhan buta, melainkan hasil akhir dari proses berpikir yang jernih.

Kedua, objektivitas kebenaran: kebenaran telah datang dari Tuhan (qad ja’akumul haqq). Siapa yang memilih petunjuk, dia beruntung; siapa yang memilih kesesatan, dia menanggung kerugiannya sendiri.

Ketiga, prinsip non-koersi: nabi pun ditegaskan bukan sebagai penjaga (wakil) yang bertanggung jawab atas pilihan ketaatan manusia. Tugas nabi, dan tugas para dai hari ini, hanyalah menyampaikan (tabligh) dan bersabar menanti keputusan norma terbaik dari Allah (wasybir hatta yahkumallah).

Tak hanya itu, Tuhan juga menegaskan ke-Maha Hadiran-Nya dalam setiap kegiatan sekecil apa pun melalui kesaksian-Nya yang mutlak. Dinyatakan dalam Al-Qur’an:

وَمَا تَكُوْنُ فِيْ شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰنٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِ ۗ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَآءِ وَلَاۤ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَاۤ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

Artinya: “Dan tidaklah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an serta tidak pula Anda melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika Anda melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu walaupun sebesar zarrah, baik di Bumi maupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih mini dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yunus [10]: 61).

Ayat ini merupakan agunan bahwa keadilan Tuhan bekerja pada level kuantum: tidak ada tindakan manusia, sekecil kebaikan alias keburukan seberat atom, yang luput dari radar pengawasan dan pembalasan Ilahi.

Menemukan Mutiara Hidup di Tengah Kedangkalan Modernitas

Melalui tadarus mendalam atas bagian ke-27 Ngaji “Jawahirul Qur’an” ini, kita diajak oleh Gus Ulil untuk merekonstruksi kembali langkah kita memandang Tuhan, alam semesta, dan diri kita sendiri. Teks-teks Al-Qur’an yang dinarasikan “Jawahirul Qur’an” tentu saja bukan sekadar lembaran dogma masa lalu, melainkan sebuah pedoman untuk membaca realitas hari ini.

Syahdan. Ketika kita merangkum mutiara-mutiara dari surah Al-A’raf, At-Taubah, dan Yunus, kita menemukan sebuah konklusi besar: tindakan Tuhan adalah orkestrasi agung yang menuntut respons kesadaran dari manusia.

Pertama, Dimensi: tindakan Tuhan (Af’alullah) adalah respons eksistensial manusia. Kedua, Kosmologis: menciptakan alam, mengatur siang-malam, dan menurunkan hujan, implementasinya adalah bersyukur, bertafakur, menolak kerusakan di bumi.

Ketiga, Epistemologis: menampakkan keagungan secara terbatas (tajalli) dengan penerapan menyadari pemisah rasio, bertobat dari keangkuhan intelektual. Keempat, Sosiologis: menjaga sinar kebenaran dan mengutus Rasul, Implementasinya menggunakan akal, menolak pemaksaan, konsisten dalam iman.

Secara tidak langsung, membaca “Jawahirul Qur’an” dan tindakan-tindakan Tuhan adalah sebuah undangan untuk hidup dengan penuh kesadaran (mindfulness). Menyadari bahwa di setiap hembusan angin, di setiap perubahan waktu, dan di setiap ketetapan takdir yang menyapa kehidupan kita (baik berupa nikmat maupun musibah) ada kehendak dan kasih sayang Tuhan yang sedang bekerja. 

Tugas kita hanyalah satu: mengikutinya dengan penuh kesabaran, menggunakan logika dengan jernih, hingga kelak Dia, Sang Hakim Terbaik, memberikan keputusan-Nya kepada kita semua. Wallahu a’lam bisshawab.

—–

*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya