Mendidik anak bukan cuma tentang memilih kata-kata yang tepat, tetapi juga sepertiapa orang tua menyampaikannya. Tanpa disadari, nada bicara orang tua saat berkomunikasi sehari-hari dapat memengaruhi metode anak memahami dan merespons perkataan orang lain.
Kebiasaan membentak, berbicara dengan nada sinis, maupun memberitahu sikap tidak sopan di rumah bisa ditiru anak dalam hayat sehari-hari.
Seorang tabib membagikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga nada bicara ketika berkomunikasi dengan anak. Menurutnya, metode orang tua berbicara dapat menjadi contoh bagi anak dalam membangun hubungan sosial dan mengelola emosi.
Jadi, sepertiapa metode menerapkannya dalam pola asuh sehari-hari? Yuk, simak klarifikasi selengkapnya berikut ini, Bunda!
Nada bicara orang tua memengaruhi cara anak berkomunikasi
Seorang tabib disebut R.J., yang dikenal melalui akun TikTok @drrussellledet, membagikan saran mengenai metode orang tua berbicara kepada anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Melansir dari halaman Daily Dot, tabib tersebut menerangkan bahwa nada bicara orang tua memiliki peran krusial dalam membentuk metode anak berkomunikasi dengan orang lain. Anak belajar melalui kebiasaan yang mereka dengar dan lihat secara berulang di lingkungan keluarga.
Apabila anak terbiasa mendengar orang tua berteriak, menggunakan kata-kata kasar, maupun berbicara dengan nada menyindir, mereka berpotensi meniru pola komunikasi tersebut dalam hayat sehari-hari. Kebiasaan ini bisa terbawa ketika anak berhubungan dengan kawan sebaya maupun orang lain di lingkungan sekolah.
Selain memengaruhi hubungan sosial, metode komunikasi yang kurang baik juga berpotensi berakibat pada kepercayaan diri anak. Sebab, anak dapat menganggap metode berbicara yang tidak menghargai orang lain sebagai sesuatu yang wajar.
Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan contoh komunikasi yang positif. Jika tanpa sengaja berbicara dengan nada tinggi maupun menyampaikan perkataan yang kurang tepat, Bunda sebaiknya mengakui kesalahan dan meminta ampun kepada anak.
Mengucapkan ampun setelah berbuat kesalahan juga mengajarkan anak bahwa setiap orang perlu berkewajiban atas perkataannya. Dengan begitu, mereka belajar menghargai emosi orang lain sekaligus memahami pentingnya memperbaiki komunikasi.
Orang tua perlu berpikir sebelum berbicara pada anak
Selain memperhatikan pilihan kata, orang tua juga disarankan untuk mengendalikan nada bicara ketika sedang merasa jengkel maupun kehilangan kesabaran.
Dokter R.J. menyarankan agar orang tua memungut selang sebentar sebelum merespons anak ketika emosi mulai meningkat. Dengan memberikan waktu untuk menenangkan diri, orang tua bisa menyusun perkataan yang lebih bijak daripada langsung bereaksi dengan membentak.
Kebiasaan ini bukan cuma membantu menciptakan komunikasi yang lebih betah di rumah, tetapi juga menjadi contoh bagi anak dalam mengendalikan emosi. Mereka dapat belajar bahwa emosi berang maupun kecewa tidak mesti selalu disampaikan melalui teriakan.
Saran tersebut juga memicu perdebatan di kalangan orang tua di kolom komentar TikTok. Sebagian mendukung pentingnya menjaga nada bicara, tetapi ada pula yang mengaku kesulitan menerapkannya karena anak terkadang baru merespons setelah dibentak.
Menanggapi hal tersebut, tabib R.J. mendorong orang tua untuk menjadi tempat yang terlindungi bagi anak dalam mengekspresikan emosi mereka. Orang tua statis bisa menetapkan limitasi dan mengajarkan anak mengelola emosinya tanpa mesti menggunakan nada bicara yang kasar.
Salah satu orang tua yang turut berkomentar juga mengungkapkan bahwa meminta ampun setelah berang kepada anak dapat memberikan akibat positif. Menurutnya, orang tua memang bisa merasa kesal, tetapi anak tidak seharusnya terus dibiarkan eksis dalam kondisi amarah tersebut.
Pada akhirnya, komunikasi yang baik dengan anak tidak cuma ditentukan oleh kata-kata, tetapi juga nada saat menyampaikannya. Dengan memberikan contoh komunikasi yang tenang dan saling menghargai, Bunda dapat membantu anak belajar membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
(rap/rap)