Dulu Sulit Punya Anak, Perempuan Ini Hamil Usai Jalani Transplantasi Hati dan Ginjal

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 505x dilihat
Dulu Sulit Punya Anak, Perempuan Ini Hamil Usai Jalani Transplantasi Hati dan Ginjal

Bagikan Postingan

Perjalanan menjadi seorang Bunda rupanya bisa datang dengan metode yang tidak pernah disangka. Seperti yang dialami seorang perempuan asal Somerset, Inggris, Keeleigh John.

Sejak statis kecil, Keeleigh sudah menghadapi masalah kesehatan serius hingga mesti menjalani transplantasi hati dan ginjal. Bahkan, keluarganya pernah diberi tahu bahwa ia mungkin tidak bisa bertetap hidup hingga remaja dan kemungkinan tidak dapat memiliki anak.

Namun, hayat berkata lain. Bertahun-tahun setelah menjalani transplantasi, Keeleigh justru mendapatkan berita yang begitu membahagiakan. Di usia 28 tahun, ia kini tengah hamil anak pertamanya.


Berikut kisahnya dikutip dari People.

Dulu diberi tahu mungkin tidak bisa punya anak

Kisah Keeleigh dimulai ketika ia statis berumur 14 bulan. Saat itu, ia didiagnosis mengalami kondisi yang memengaruhi hati dan ginjal.

Ketika berumur 12 tahun, kondisi ginjalnya diketahui sudah mengalami kerusakan serius. Keeleigh kemudian menjalani transplantasi hati dan ginjal melalui jasa transplantasi organ NHS di Inggris.

Sebelum mendapatkan transplantasi, keluarganya terlebihlagi sempat mendapat keterangan bahwa kondisi Keeleigh sangat serius. Dokter mengestimasi ia mungkin tidak dapat bertetap hingga usia 12 tahun.

Setelah transplantasi, tantangan Keeleigh belum berakhir. Ia juga pernah diberi tahu bahwa kemungkinan dirinya memiliki anak sangat kecil. Namun, berita tersebut rupanya bukan akhir dari perjalanan Keeleigh sebagai seorang perempuan yang mau menjadi ibu.

Kini Keeleigh tengah mengandung

Setelah bertahun-tahun menjalani hayat dengan organ hasil transplantasi, Keeleigh akhirnya mendapatkan berita bahwa dirinya hamil. Ia mengetahui kehamilannya ketika sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit setelah mengalami empat kali sepsis pada tahun ini.

Saat diwawancarai BBC pada September 2026, usia kehamilan Keeleigh telah mencapai 14 minggu. Pemeriksaan tabib juga memberitahu janinnya dalam kondisi baik.

"Sekarang sudah 14 minggu. Bayi kelihatan sehat dan aku juga baik-baik saja," kata Keeleigh, dikutip dari PEOPLE.

Kehamilan tersebut tentu menjadi momen yang sangat berarti bagi Keeleigh dan keluarganya. Pasalnya, dahulu mereka terlebihlagi tidak percaya Keeleigh dapat menjalani hayat hingga dewasa. Kini, ia justru bersiap menyambut anaknya.

Punya pandemi yang memengaruhi hati dan ginjal sejak kecil

Keeleigh diketahui mengalami congenital hepatic fibrosis dan autosomal recessive polycystic kidney disease (ARPKD).

ARPKD merupakan kelainan genetik yang menyebabkan terbentuknya banyak kista pada ginjal. Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi ginjal dan pada sebagian pasien dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang berat.

Sementara itu, congenital hepatic fibrosis merupakan kondisi yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada hati dan dapat memengaruhi saluran empedu serta fungsi hati.

Kondisi Keeleigh diketahui ketika ia statis kecil. Saat berumur 12 tahun, pengecekan memberitahu fungsi ginjalnya sudah sangat rendah sehingga ia akhirnya membutuhkan transplantasi.

Berkat transplantasi hati dan ginjal, Keeleigh mendapatkan kesempatan untuk menjalani hayat yang lebih panjang dan kini terlebihlagi tengah mempersiapkan diri menjadi seorang ibu.

Apakah perempuan bisa hamil setelah transplantasi?

Kisah Keeleigh mungkin membikin Bunda bertanya-tanya, apakah perempuan yang pernah menjalani transplantasi organ statis bisa hamil?

Jawabannya, kehamilan setelah transplantasi memang memungkinkan. Namun, kehamilan tersebut termasuk kondisi yang membutuhkan pemantauan lebih ketat karena memiliki konsekuensi tertentu.

Sebuah riset yang diterbitkan dalam American Journal of Gastroenterology pada 2021 menganalisis 1.131 kehamilan pada 838 perempuan yang pernah menjalani transplantasi hati.

Peneliti menemukan sekitar 80,4 persen kehamilan berakhir dengan kelahiran hidup. Meski demikian, penerima transplantasi hati memiliki konsekuensi lebih tinggi mengalami beberapa komplikasi kehamilan, termasuk persalinan prematur, preeklamsia, dan persalinan melalui operasi caesar.

Penelitian lain terhadap lebih dari 1.000 perempuan penerima transplantasi hati juga menemukan bahwa kehamilan setelah transplantasi dapat menghasilkan kelahiran bayi yang sehat. Namun, kondisi seperti hipertensi, preeklamsia, kencing manis gestasional, dan kelahiran prematur statis perlu diperhatikan.

Artinya, transplantasi organ tidak otomatis membikin seorang perempuan kehilangan kesempatan untuk memiliki anak. Namun, kondisi kesehatan dan fungsi organ perlu dinilai secara menyeluruh sebelum kehamilan.

Kehamilan perlu direncanakan berbareng dokter

Perempuan yang telah menjalani transplantasi biasanya perlu mengonsumsi obat imunosupresan. Obat ini berguna membantu mencegah tubuh menolak organ yang ditransplantasikan.

Karena itu, kehamilan setelah transplantasi tidak sebaiknya direncanakan tanpa konsultasi terlebih dahulu.

Dokter biasanya akan memastikan kondisi organ yang ditransplantasikan cukup stabil dan menyesuaikan pengobatan yang digunakan. Beberapa obat juga perlu dievaluasi karena tidak semuanya terlindungi digunakan selama kehamilan.

Tinjauan ilmiah mengenai kehamilan setelah transplantasi hati merekomendasikan konseling sebelum kehamilan. Kehamilan umumnya juga disarankan setelah kondisi pasien dan organ transplantasi benar-benar stabil.

Pemantauan selama kehamilan pun dapat melibatkan beberapa tabib sekaligus, termasuk tabib transplantasi dan tabib kandungan.

Tak melupakan famili pendonor

Di balik kehamilan yang tengah dijalaninya, Keeleigh juga selalu mengingat famili yang telah memberikan kesempatan kedua untuknya melalui donor organ. Ia mengaku sangat bersyukur kepada famili pendonor yang bersedia mendonorkan organ di tengah masa kehilangan yang tentu tidak mudah.

Keeleigh terlebihlagi aktif mengikuti British Transplant Games dan berhasil meraih sejumlah lencana dalam beberapa cabang olahraga, termasuk tolak peluru, panahan, dan lempar cakram.

Kini, perjalanan hidupnya memasuki babak baru. Perempuan yang dahulu diperkirakan tidak akan bisa bertetap hingga dewasa dan disebut mungkin tidak dapat memiliki anak itu kini sedang menantikan kelahiran anaknya.

Bagi Keeleigh dan keluarganya, kehamilan ini menjadi sebuah perjalanan yang sangat berarti. Bukan cuma tentang menjadi seorang ibu, tetapi juga tentang kesempatan hidup kedua yang ia dapatkan setelah menjalani transplantasi hati dan ginjal.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads