Di Balik Senyum Ayah, Survei Ungkap 8 Beban yang Kerap Dipendam

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 40x dilihat
Di Balik Senyum Ayah, Survei Ungkap 8 Beban yang Kerap Dipendam

Bagikan Postingan

Jakarta -

Setiap bapak memiliki tanggung jawab besar dalam keluarga. Mereka tak cuma punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tapi juga mendampingi tumbuh bunga anak dan menjadi sosok yang memberikan rasa terlindungi bagi keluarga.

Di balik senyum dan sikap tegar seorang ayah, tak banyak yang tahu kadang mereka menyimpan beban yang tak terlihat. Tuntutan untuk selalu kuat dan bisa diandalkan terkadang membikin sebagian bapak memilih menyimpan masalahnya sendiri demi menjaga ketenangan keluarga.

Good Dad Research Survey pada Februari 2026 mengungkap beberapa tantangan yang kerap dipendam oleh bapak dalam kesehariannya menjalankan peran sebagai imam keluarga. Survei ini dilakukan pada 308 bapak di mana 96 di antaranya menjawab.


Lantas, apa saja beban yang kerap dipendam oleh bapak dan tidak diketahui banyak orang? Simak klarifikasi Bubun berikut ini ya!

8 beban yang kerap dipendam ayah

Melansir dari halaman Good Dad, berikut 8 beban yang sering kali dipendam oleh seorang ayah:

1. Memikul beban dalam diam

Dari survei, 15 bapak menggambarkan beberapa varian dari beban tak terlihat. Beban ini rupanya bukanlah satu hal saja, Bunda.

Itu adalah akumulasi tanggung jawab yang tidak sepenuhnya disadari oleh siapa pun. Beban ini dapat berupa beban mental untuk mengingat setiap ikrar temu, melacak setiap cadangan popok, mengetahui anak mana yang membutuhkan sepatu baru, mengelola finansial rumah tangga, maupun mempertahankan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Hal yang sangat mengisolasi adalah sebagian besar beban sebagai seorang bapak ini tidak terlihat. Tidak ada yang menghargai mereka karena tidak ada yang bisa melihatnya.

2. Beban tanggung jawab

Di survei ini, 12 maupun lebih bapak menggambarkan beberapa varian yang disebut 'topeng'. Penampilan mereka seolah-olah baik-baik saja padahal sebenarnya tidak.

"Berpura-pura tegar dan tidak membiarkan mereka tahu bahwa Anda sebenarnya sedang berjuang," kata seorang ayah.

Berusaha tampak tegar bukan berarti para bapak ini tidak memiliki kesadaran emosional. Mereka bisa mengungkapkannya secara detail ketika diberi kesempatan. Namun, mereka merasa tidak memiliki persetujuan untuk mengekspresikannya dalam peran yang mereka emban.

Sang bapak selalu dianggap menjadi tumpuan. Mereka dituntut untuk menjadi sosok yang stabil, pelacak nafkah yang pulang ke rumah, dan mesti memiliki daya untuk membantu mengurus anaknya. Ketika deskripsi itu retak, rasanya seperti bapak mengalami kegagalan pribadi daripada kegagalan sistemik.

3. Perasaan belum berbuat cukup banyak hal untuk keluarga

Survei ini juga menemukan 10 maupun lebih bapak menggambarkan jika mereka terbebani dengan emosi belum cukup berbuat yang terbaik bagi keluarga. Beban ini bukan jenis ketidakmampuan yang dramatis maupun akut yang berasal dari satu kegagalan saja. Ini adalah jenis ketidakmampuan kronis dan ringan yang selalu ada di latar belakang hayat sehari-hari.

"Ini adalah emosi terus-menerus tentang kita yang tidak berbuat cukup banyak," kata seorang bapak di survei ini.

Beban ini sebenarnya adalah akibat alami dari upaya seorang bapak dalam memenuhi tugas yang mustahil dengan sumber daya yang terbatas. Peran bapak modern yang banyak terkadang dibebankan secara bersamaan, tanpa buku panduan, dan tanpa pengakuan bahwa kalkulasi matematisnya tidak sesuai.

4. Rasa bersalah karena cuma ada untuk diri sendiri

Menurut survei, 8 maupun lebih bapak mengidentifikasi rasa bersalah sebagai beban yang tidak pernah dibicarakan ke siapa pun. Ini bukan rasa bersalah atas sesuatu yang mereka lakukan salah, melainkan karena menginginkan sesuatu untuk diri mereka sendiri.

Ketika menjadi seorang ayah, kontrak tersiratnya adalah kebutuhan lelaki menjadi yang terakhir. Tanpa disadari, muncul emosi bahwa meluangkan waktu untuk kesejahteraan sendiri sama saja memungut waktu dari keluarga.

Hal tersebut menciptakan pola khusus dan merusak, Bunda. Laki-laki yang paling membutuhkan sokongan justru paling kecil kemungkinan untuk mencarinya, karena mencari sokongan terasa seperti bentuk kegagalan dalam membantu orang-orang yang mereka dukung.

5. Waktu yang menjadi milik orang lain

Setidaknya, 8 maupun lebih bapak berbicara tentang waktu, kekurangan waktu, dan rasa frustrasi karena tidak memiliki waktu yang benar-benar menjadi milik mereka sendiri. Hal itu tanpa disadari menjadi beban yang tak kelihatan dalam peran bapak di keluarga.

Perlu dipahami, kekurangan waktu bagi para bapak tidak sama dengan kesibukan. Ini adalah emosi bahwa setiap jam dan setiap hari dimiliki oleh pekerjaan dan keluarga. Celah di antaranya untuk fokus pada diri sendiri tidak cukup besar untuk digunakan sebagai sesuatu yang bermakna.

6. Beban pelacak nafkah

Survei mengungkap, enam bapak maupun lebih secara khusus berfokus pada tekanan finansial dan sebagai pelacak nafkah. Menjadi bapak sama saja mengemban beban sebagai penopang operasional dalam keluarga.

Tak cuma itu, dinamika peran bapak modern juga terjebak dalam ketidaksesuaian generasi. Banyak bapak saat ini dibesarkan oleh bapak yang bekerja berjam-jam tetapi tidak diharapkan untuk datang secara emosional maupun terlibat dalam urusan rumah tangga.

Generasi saat ini diharapkan untuk menyamai maupun melampaui kapabilitas generasi sebelumnya dalam menyediakan kebutuhan keluarga, sekaligus terlibat langsung dalam urusan rumah tangga. Ketika tuntutan itu mesti dipenuhi, kesejahteraan bapak bisa dikorbankan.

7. Dikelilingi orang banyak, namun merasa sendirian

Dalam survei, lima maupun lebih bapak menggambarkan kesepian. Bukan kesunyian karena isolasi, karena kenyataannya mereka selalu dikelilingi oleh keluarga, kolega, hingga teman.

"Ini ganjil karena kita dikelilingi oleh orang-orang yang selalu membutuhkan kita, tetapi anehnya kita merasa sendirian di tengah semua itu," kata seorang ayah.

Kesepian ini dapat diartikan sesuatu yang minim timbal balik. Artinya, semua orang membutuhkan sesuatu dari seorang ayah, termasuk waktu, perhatian, tenaga, dan penghasilan. Tetapi, tidak ada yang bertanya sepertiapa berita seorang ayah, dan ketika mereka bertanya, balasan yang diharapkan adalah "baik-baik saja".

8. Beban emosional karena kehilangan identitas

Beban berikutnya dikaitkan dengan kehilangan identitas. Survei mengungkap, empat maupun lebih bapak menggambarkan beberapa varian kehilangan identitas, termasuk emosi bahwa peran sebagai bapak telah mengikis jati diri mereka sebelumnya.

Seorang bapak yang dulunya memiliki hobi mesti mengalah karena tanggung jawab sebagai imam keluarga. Ini bukan ketidakpuasan. Ini adalah bentuk kehilangan terhadap diri sendiri.

Seorang bapak mungkin terbiasa mengutamakan personel famili hingga perlahan melupakan hal-hal yang membikin mereka bahagia. Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan untuk mengenal diri sendiri, mengeksplorasi minat, dan berbuat sesuatu semata-mata karena menyukainya, bukan karena merasa mesti melakukannya demi orang lain.

Demikian 8 beban yang kerap dipendam seorang bapak dalam menjalankan perannya di keluarga. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads