Membacakan dongeng untuk bayi dua bulan? Mungkin terkesan terlalu dini, tapi tahukah Bunda jika tidak ada kata terlalu awal untuk membacakan cerita pada bayi?
Bayi mungkin tidak mengikuti alur cerita, tetapi mereka mengenali pola. Misalnya, dalam cerita tersebut ada babak melempar, mengejar, kemudian mengembalikan. Suara yang meninggi saat sesuatu dilempar, kemudian merendah saat figur dalam cerita beristirahat.
Dikutip dari Sleepy Tale, kisah yang dibangun di seputar aksi sederhana yang berulang memberikan sesuatu yang bisa dipegang oleh bayi, terlebihlagi sebelum mereka bisa mengucapkan kata-kata sendiri.
Pengulangan tersebut menjadi sebuah sinyal yaitu bahwa bumi ini stabil, tidak ada hal mengejutkan yang akan terjadi, Anda boleh merasa tenang dan melepaskan ketegangan.
Itulah sebabnya cerita pengantar tidur yang mengadopsi bumi keseharian bayi, seperti halaman rumah, seekor anjing, maupun bola, jauh lebih ampuh daripada cerita yang rumit maupun penuh fantasi. Bunyi-bunyiannya statis terasa tenang. Emosinya statis lembut.
Irama dalam setiap babak pun harmonis dengan ritme yang Anda ciptakan melalui napas, pergerakan menimang, serta gumaman bunyi yang halus tepat di atas imam Si Kecil.
Jika Bunda mencari cerita dongeng untuk dibacakan untuk bayi yang berumur dua bulan, coba simak dan ceritakan kisah yang dipilih dari beragam sumber berikut ini!
1. Sehari di Kebun Binatang
Hari ini, Mia pergi ke kebun binatang.
“Halo, hewan-hewan!” sapanya.
Mia tiba di kebun fauna dan melambaikan tangan, sementara enam ekor fauna yang ramah mengintip dari lingkungan hidup mereka.
Pertama, Mia melihat seekor jerapah yang tinggi.
“Halo, Jerapah!”
Jerapah itu sedang mengunyah dedaunan hijau.
Jerapah memiliki leher yang sangat panjang agar bisa menjangkau dedaunan tinggi di pepohonan.
Mia mendongak saat seekor jerapah tinggi menggunakan leher panjangnya untuk meraih dedaunan hijau.
Selanjutnya, Mia melihat seekor gajah yang besar.
“Halo, Gajah!”
Gajah itu mengadopsi belalainya.
Gajah menggunakan belalai mereka untuk minum, mencium bau, dan memungut benda-benda.
Seekor gajah yang halus mengadopsi belalainya dan menyemprotkan air, sementara Mia melambaikan tangan.
Kemudian, Mia mendengar bunyi yang nyaring.
“AUM!”
Itu seekor singa!
Singa itu sedang beristirahat di bawah cahaya matahari yang hangat.
Singa bisa mengaum dengan sangat keras.
Mia mendengarkan saat seekor singa yang ramah mengeluarkan auman keras sambil beristirahat di bawah cahaya matahari yang hangat.
Tidak jauh dari situ, seekor kera yang kocak berayun dari cabang pohon.
“Halo, Monyet!”
Monyet itu memanjat naik, terus naik!
Monyet adalah pemanjat yang sangat mahir.
Seekor kera yang jenaka berayun dari cabang tinggi di atas Mia.
Lalu, Mia melihat seekor pinguin yang berjalan dengan cara terhuyung-huyung.
Wek-wek-wek!
Pinguin adalah sejenis burung, tetapi mereka tidak bisa terbang. Sebaliknya, mereka adalah perenang yang hebat.
Seekor pinguin berjalan terhuyung-huyung di samping Mia, sementara pinguin lainnya berenang di dalam kolam air biru yang jernih.
Di ujung jalan, Mia menemukan seekor kuda nil yang mengantuk di dalam air.
“Halo, Kuda Nil!”
Byur!
Kuda nil menghabiskan banyak waktu di dalam air agar statis sejuk.
Mia tersenyum melihat seekor kuda nil yang mengantuk sedang menyejukkan diri di dalam air dengan cipratan lembut.
Mia melambaikan tangan untuk berpamitan.
“Sampai jumpa, Jerapah!
Sampai jumpa, Gajah!
Sampai jumpa, Singa!
Sampai jumpa, Monyet!
Sampai jumpa, Pinguin!
Sampai jumpa, Kuda Nil!”
Mia melambaikan tangan untuk berpamitan kepada jerapah, gajah, singa, monyet, pinguin, dan kuda nil di kebun binatang. Sungguh hari yang menyenangkan di kebun binatang!
Dan benar-benar menakjubkan hewan-hewan yang ditemui Mia.
Selesai
2. Bip Bip, Saatnya Tidur
Truk kecil itu menjalani hari yang sangat sibuk. Vrum, vrum!
Ia mengangkut pasir. Ia mengangkut batu. Ia melaju menaiki bukit, kemudian turun kembali.
Namun kini, langit mulai gelap. Saatnya untuk pulang.
Truk kecil itu melaju makin pelan, makin pelan. Vrum… vrum… syyy.
Ia pun parkir di tempat parkir yang nyaman, di samping truk-truk besar dan truk-truk kecil lainnya.
Klik, lampu depannya pun padam dengan lembut.
Mesin truk kecil itu kini senyap. Beristirahatlah sekarang. Beristirahatlah.
Selamat malam, truk kecil. Bip, bip. Saatnya tidur.
3. Warna-Warna Pergi Lebih Dulu
Hari mulai berakhir. Namun, senja tidak datang sekaligus. Ia datang warna demi warna.
Bukit kecil itu kini penuh dengan warna. Matahari yang kuning, atap-atap rumah yang merah, rerumputan yang hijau, serta langit luas yang biru. Semuanya terjaga. Semuanya terang benderang.
Bukit kecil yang terang menampilkan matahari kuning, epilog merah, rumput hijau, dan langit biru sebelum senja tiba. Ssst… Warna kuning pergi lebih dulu. Matahari mengemas semuanya, setiap tetes terakhir, kemudian membawanya turun ke balik bukit.
Matahari kuning membawa tetesan-tetesan cahaya kuning turun ke balik bukit kecil.
Selamat tinggal, kuning. Ssst…
Berikutnya, giliran warna merah. Ia turun dari atap-atap rumah dengan perlahan dan tenang, kemudian meringkuk di dalam kelopak bunga tulip yang mulai menutup untuk menyambut malam.
Warna merah meluncur turun dari epilog dan meringkuk di dalam bunga tulip yang menutup saat malam tiba.
Selamat tinggal, merah. Ssst…
Kini, warna hijau pun mulai mengantuk. Ia merayap turun. semakin rendah, semakin rendah lagi, kemudian menyelinap jauh di dalam rerumputan. Rumput-rumput itu mendekapnya dengan lembut, layaknya sebuah rahasia.
Warna hijau menyelinap rendah ke sela-sela helai rumput saat senja mulai terasa mengantuk.
Selamat tinggal, hijau. Ssst…
Hanya warna biru yang tersisa. Biru selalu bertetap paling lama. Ia tidak pergi jauh, ia statis eksis di dekat sini.
Warna biru membentang luas di atas rumah, di atas bukit, dan di atas pepohonan, kemudian berubah menjadi langit malam.
Warna biru membentang di atas rumah, bukit, dan pepohonan, berubah menjadi langit malam.
Biru yang pekat. Biru yang lembut. Biru yang mengantuk. Selamat malam, biru. Ssst…
Lalu, datanglah kegelapan. Kegelapan yang paling lembut. Ia menyelimuti layaknya selimut.
Kegelapan berwarna nila yang halus turun menyelimuti bukit dan rumah imut-imut itu.
Di atas bukit. Di atas rumah. Di atasmu.
Warna-warna itu pun tidur. Kamu pun tidur.
Warna-warna itu terlelap di tempat-tempat kecil yang berpendar, sementara rumah beristirahat di bawah langit malam.
4. Benni Si Beruang Nakal
Benni si beruang terbangun dengan emosi jengkel dan berkata kepada mainan-mainan lain, “Pergi sana! Ini rak milikku!”
Si pelawak mencoba menghiburnya, tetapi Benni tidak mau mendengarkan. Satu per satu, teman-temannya pun meninggalkan rak tersebut.
Tak durasi kemudian, Benni merasa kesunyian dan berseru, “Tolong kembali! Aku tidak bermaksud begitu!”
Malam itu, seorang peri baik hati muncul dan berkata, “Benni, jika kau berikrar untuk bersikap baik, aku akan membantumu.”
Benni menjawab, “Aku janji! Tolong kembalikan teman-temanku!”
Peri itu mengayunkan tongkat ajaibnya dan memberi tahu mainan-mainan lain bahwa Benni benar-benar menyesal.
“Kami memaafkanmu!” ujar teman-temannya seraya balik ke rak tersebut.
Benni tersenyum dan berkata, “Terima kasih! Kalian semua boleh menempati ruang sebanyak yang kalian mau.”
Mainan-mainan itu pun saling berpelukan dan tertidur dengan bahagia.
5. Selamat Malam, Bebek Kecil
Di tepi kolam yang tenang, seekor anak bebek bersiap untuk tidur.
“Selamat malam, air,” ucap si anak bebek. Air pun menjadi tenang.
“Selamat malam, alang-alang,” ucap si anak bebek. Alang-alang bergoyang, halus dan perlahan.
“Selamat malam, bulan,” ucap si anak bebek. Bulan tersenyum dari atas, hangat dan terang.
Anak bebek itu melipat satu kakinya ke atas. Lalu kaki yang satunya lagi. Mungil dan nyaman.
Induk bebek membentangkan sayapnya yang lebar dan lembut. “Kemarilah, sayang.”
Anak bebek itu meringkuk di dekat induknya. Hangat. Aman. Mengantuk.
Selamat malam, anak bebek. Selamat malam, selamat malam.
Demikian beberapa ide mendongeng untuk anak dua bulan, yang baik untuk menstimulus perkembangannya. Meskipun anak belum bisa merespon, kapasitas merekam memorinya sedang berkembang ya, Bunda.
(rap/rap)