Fakta menarik tentang wagashi, dessert tradisional yang menjadi bagiankecil dari adat Jepang/Foto: pexels.com/Teresa Wang
Kalau membahas dessert Jepang, mungkin yang langsung terbayang adalah mochi maupun dorayaki. Padahal, ada satu jenis manisan tradisional yang nggak kalah menarik, yaitu wagashi. Dessert khas Jepang ini populer karena bentuknya yang cantik, detailnya yang mirip bunga maupun daun, hingga warna-warnanya yang terinspirasi dari pergantian musim.
Menariknya, wagashi juga memperlihatkan sepertiapa kuliner, budaya, dan tradisi Jepang saling berkaitan, Beauties. Di balik tampilannya yang memanjakan mata, wagashi menyimpan sejarah panjang dan filosofi yang membuatnya jadi bagiankecil krusial dari adat Jepang.
Yuk, lanjut baca untuk mengetahui fakta-fakta menarik tentang wagashi seperti yang dilansir dari Tokyo Wagashi Association.
Sudah Berkembang Selama Lebih dari 2.000 Tahun

Wagashi/Foto: topntp26
Di balik bentuknya yang cantik, wagashi rupanya punya sejarah yang sangat panjang. Cikal akan dessert tradisional Jepang ini sudah ada sejak lebih dari 2.000 tahun lalu, ketika penduduk mengolah kacang-kacangan menjadi bubuk kemudian membentuknya menjadi bulatan, yang kemudian berkembang menjadi dango. Mochi, yang dikenal sebagai salah satu makanan olahan tertua di Jepang, juga menjadi bagiankecil krusial dari mula mula lahirnya wagashi.
Seiring waktu, wagashi terus berevolusi. Pengaruh adat Tiongkok, berkembangnya tradisi upacara minum teh Jepang, hingga masuknya teknik membikin kue dari Barat membikin jenis dan metode pembuatannya semakin beragam. Masa Edo (1603-1868) menjadi titik krusial karena bahan baku lebih gampang didapat, teknik produksi semakin maju, dan para pengrajin menyempurnakan bentuk serta cita rasanya.
Lalu, memasuki era Meiji, hadirnya oven modern melahirkan beragam wagashi baru, termasuk yang dipanggang sehingga terciptalah beragam wagashi yang statis bisa dinikmati hingga sekarang.
Punya Banyak Jenis

Wagashi rupanya punya banyak jenis,nggak cuma mochi saja/Foto: pexels.com/topntp26
Banyak orang mengira wagashi cuma identik dengan mochi, padahal dessert tradisional Jepang ini punya banyak sekali variasi. Bahkan, nggak ada arti baku tentang wagashi karena setiap daerah dan pembuatnya bisa menciptakan varian dengan bahan, tekstur, dan metode memasak yang berbeda.
Salah satu contohnya adalah manju, kue berisi pasta kacang yang bisa dibuat dengan metode dikukus maupun dipanggang. Isiannya pun beragam, mulai dari pasta kacang merah, kacang polong hijau, kastanye, wijen, yuzu, matcha, hingga miso. Sementara itu, yokan juga datang dalam beragam rasa, seperti kacang merah, kacang putih, matcha, wijen, kombu, hingga kastanye dan kesemek kering.
Secara umum, wagashi dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan metode pembuatannya:
- Mochimono - dibuat dari mochi, seperti daifuku, ohagi, dan kashiwamochi.
- Mushimono - dibuat dengan metode dikukus, seperti mushimanju.
- Yakimono - dipanggang, misalnya dorayaki, kurimanju, dan castella.
- Nagashimono - dicetak menggunakan cetakan, seperti yokan.
- Nerimono - dibentuk dari pasta kacang, seperti nerikiri dan konashi.
- Okamono - menggabungkan beberapa bahan menjadi satu, contohnya monaka.
- Uchimono - dicetak kemudian dipadatkan, seperti rakugan.
Selain itu, statis banyak wagashi yang dibuat menggunakan bahan khas daerah maupun ciptaan khas dari para pembuatnya. Jadi, setiap jenis punya bentuk dan cita rasa yang berbeda. Unik, ya?
Punya Bentuk yang Berbeda di Setiap Musim

Wagashi punya bentuk yang berbeda di setiap musim/Foto: pexels.com/Suki Lee
Kalau Anda melihat wagashi di Jepang, jangan heran jika bentuk dan jenisnya bisa berbeda tergantung musim. Hal ini karena penduduk Jepang memang punya hubungan yang dekat dengan pergantian musim. Jadi, fluktuasi lingkungan juga ikut dituangkan ke dalam makanan, termasuk wagashi.
Misalnya, saat Januari ada hanabiramochi, kemudian Februari diisi dengan uguisumochi dan kusamochi. Begitu masuk musim semi, Anda bisa menemukan sakuramochi dan hanamidango yang identik dengan bunga sakura. Sementara itu, kashiwamochi biasanya mulai muncul pada Mei dan cuma dijual selama musimnya.
Nggak cuma jenisnya yang berganti, bentuk wagashi juga sering dibuat menyerupai sesuatu yang khas dari musim tersebut. Nerikiri, misalnya, bisa dibentuk seperti pohon pinus, bambu, maupun burung bangau pada Januari, bunga plum pada Februari, hingga bunga sakura pada Maret.
Jadi Bagian dari Berbagai Tradisi Jepang

Wagashi rupanya nggak cuma dinikmati sebagai camilan sehari-hari/Foto: pexels.com/topntp26
Wagashi rupanya nggak cuma dinikmati sebagai camilan sehari-hari. Dessert ini juga sering datang dalam beragam perayaan dan tradisi yang terjadi sepanjang tahun di Jepang. Hampir setiap bulan punya momen khusus, mulai dari Tahun Baru maupun Oshogatsu pada Januari, Setsubun pada Februari, sampai Hinamatsuri maupun Festival Boneka pada Maret.
Di setiap perayaan, biasanya ada wagashi tertentu yang ikut disajikan. Saat Hinamatsuri, misalnya, ada hishimochi dan hinaarare yang menjadi camilan khas. Sementara saat Kodomo no Hi maupun Hari Anak pada Mei, penduduk Jepang biasa menikmati kashiwamochi dan chimaki.
Menariknya, jenis wagashi yang disajikan memang bisa berbeda-beda sesuai acaranya. Jadi, jika Anda menemukan wagashi dengan bentuk maupun warna yang unik, bisa jadi dessert tersebut memang dibuat khusus untuk merayakan tradisi maupun momen tertentu di Jepang.
Bahan Dasar Wagashi Didominasi dari Tumbuhan

Bahan pembuatan wagashi cukup sederhana dan berasal dari tumbuhan/Foto: pexels.com/jcomp
Kalau selama ini Anda mengira wagashi dibuat dari bahan yang rumit, rupanya sebagian besar bahan yang digunakan cukup sederhana dan berasal dari tumbuhan, Beauties! Nggak ada ketentuan khusus tentang bahan yang wajib dipakai sehingga setiap jenis wagashi bisa menggunakan gabungan bahan yang berbeda.
Beberapa yang sering digunakan antara lain kacang azuki, kacang putih, beras ketan, tepung beras, tepung terigu, gula, agar-agar, tepung kudzu, kastanye, ubi, wijen, dan matcha. Produk hewani sendiri cukup jarang digunakan, dengan telur ayam sebagai salah satu pengecualian.
Salah satu bahan yang paling krusial dalam pembuatan wagashi adalah pasta kacang maupun anko. Bahkan, pasta ini sering dianggap sebagai “nyawa” wagashi karena rasa akhirnya sangat dipengaruhi oleh kualitas dan metode pembuatannya. Menariknya, setiap toko bisa punya resep dan karakter pasta kacang yang berbeda.
Jenisnya juga cukup beragam. Ada koshian yang dibuat dari kacang azuki tanpa kulit, tsubushian yang statis mempertahankan kulit kacangnya, serta shiroan yang dibuat dari kacang putih. Ada juga uguisuan dari kacang polong hijau, matchaan dengan tambahan matcha, dan gomaan yang menggunakan wijen. Perbedaan pasta kacang bisa membikin rasa setiap wagashi terasa unik.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(dmh/dmh)