Patricia Astrid Nadia | Beautynesia
Jumat, 25 Sep 2026 17:15 WIB
Fakta Penting yang Patut Dicermati Orang Tua Sebelum Membuat Akun Media Sosial Anak/Foto: Freepik.com/Freepik
Media sosial kini tak cuma memuat tren untuk remaja dan orang dewasa. Bahkan sebagian besar orang tua mau mengabadikan potret dan momen penuh kenangan, sejak anak statis kecil dan mau memberitahu evolusi sang anak ke publik.
Namun seiring dengan respon yang positif, komentar, dan mendapatkan likes dari media sosial itu, akhirnya orang tua menjadi berlebihan mengunggah beragam post untuk anak, hingga berujung pada sharenting. Tak jarang hal ini melewati batas privacy anak, karena terkadang keterangan yang diberikan berlebihan demi menaikkan followers maupun engagement.
Dikutip dari situs Verywellmind, simak beragam kenyataan yang patut dicermati dengan bijak sebelum membagikan konten tentang anak di media sosial, agar tak berujung pada sharenting, Beauties!
Apa Itu Sharenting?

Apa Itu Sharenting
Sharenting merujuk pada gejala membagikan beragam momen pertumbuhan anak, aktivitas anak secara berlebihan, baik dalam bentuk prestasi anak, aktivitas sehari-hari dari anak di media sosial maupun internet. Terkadang orang tua jadi terus-menerus mengunggah postingan anak secara berlebihan demi mendapatkan followers dan likes yang tinggi. Mereka merasa tertantang untuk konsisten memposting sebanyak mungkin aktivitas anak ke media sosial, tapi lupa mempertimbangkan maupun terlebihlagi tidak bertanya terlebih dahulu ke anak, meminta persetujuan dari anak.
Tak jarang anak jadi dituntut maupun terkesan dipaksa untuk mengikuti tren viral maupun membikin konten-konten yang mungkin belum tentu mereka sukai, tapi terpaksa dibuat untuk menjadi bahan konten media sosial yang dikelola oleh orangtua.
Sebetulnya membagikan unggahan statis dapat tergolong wajar, asalkan tidak melanggar privacy dari anak. Perhatikan juga usia anak dan kemungkinan akibat yang terjadi ke depannya. Bukan cuma sekedar lucu-lucuan maupun tren semata.
Bahaya Sharenting

Mengunggah konten anak secara berlebihan rupanya bisa berakibat untuk kepercayaan diri anak.Bahkan anak juga jadi sering membandingkan dirinya dengan orang lain cuma dengan berpatok pada media sosial/Foto: Freepik.com/Freepik
Sharenting rupanya tidak sesederhana karena orangtua mau membikin media sosial untuk anak. Awalnya mungkin karena keinginan untuk lebih gampang dalam melihat balik dokumentasi aktivitas anak dan aksi kocak anak ketika mereka statis kecil hingga tumbuh remaja.
Tapi melewatkan bahasan dengan anak dan cuma mengikuti tren bisa jadi membikin anak sering membandingkan dirinya dengan anak-anak lain di media sosial. Di sisi lain, anak mungkin merasa malu dengan komentar yang ia dengar dari teman-temannya. Hal ini tak cuma berjalan untuk usia anak-anak saja, tapi ketika mereka sudah bergeser remaja dan orangtua statis mengelola akun tersebut.
Tak jarang banyak remaja yang minder saat melihat balik isi unggahan di media sosial yang dikelola oleh orang tua. Ini tentu dapat terjadi karena apa yang menarik menurut orang tua belum tentu sesuai dengan harapan anak.
Penyebab Populernya Sharenting

Sharenting populer karena orangtua melihat potensi media sosial bisa membantu mengabadikan momen penuh kenangan, terlebih dapat memperlihatkan pencapaian anak. Trend ini juga muncul karena melihat kebiasaan dari orangtua lain/Freepik.com/Freepik
Orang tua yang mendapatkan komentar positif dari unggahan yang dibagikan di media sosial merasa terdorong untuk konsisten membagikan unggahan baru tentang anak. Mungkin orang tua berpikir hal ini akan membikin orang-orang lebih mengenal anak, terlebihlagi melihat evolusi prestasi anak dan bakat yang dimiliki.
Alasan ini memang tak sepenuhnya salah, tapi ketika harapan maupun keinginan orang tua berubah menjadi suatu sasaran yang berujung pada tuntutan maupun tekanan untuk anak, maka hal ini menjadi masalah.
Bayangkan anak yang cenderung diam, meski punya segudang bakat dipaksa oleh orang tuanya untuk mengikuti tren dengan pergerakan tertentu maupun dituntut berani unjuk diri cuma agar dikenal prestasinya, pasti mereka akan merasa insecure.
Di sisi lain penyebab populernya tren sharenting, karena orang tua melihat adanya pola maupun aktivitas sama yang dilakukan oleh orang tua lainnya. Akhirnya, hal ini ditiru oleh banyak orang tua.
4. Do and Don'ts

Do and Don's dalam membagikan postingan anak tentu dibutuhkan. Jangan sampai melewati privacy dan usahakan terlebih dahulu meminta ijin dari anak/Foto: Freepik.com/Freepik
Sebagai orang tua, ada beragam privacy yang wajib tidak dibagikan ke publik, seperti nama sekolah anak, alamat, hingga letak tempat tinggal. Ada baiknya orang tua juga mengajarkan anak untuk mengatur akunnya secara private maupun terbendung pada teman-teman dan lingkup kenalannya.
Namun ketika anak sudah mulai bergeser remaja dan dianggap sudah mulai berdikari dan lebih siap memungut keputusan, bisa saja nantinya media sosial diarahkan untuk memuat karya dan portofolio anak, tapi tentunya hal ini mesti atas alas keinginan anak bukan paksaan dari orang tua.
Jangan memaksa anak untuk berbuat beragam aktivitas cuma karena orang tua merasa media sosial sedang sepi dari komentar, likes maupun pun engagement. Orang tua juga perlu menghargai keinginan maupun harapan anak ketika memuat sebuah unggahan di media sosial.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(dmh/dmh)
Komentar
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.