Jakarta -
Bunda, kejuaraan sering kali dianggap sekadar arena untuk meraih kemenangan. Padahal, kegiatan seperti ini mempunyai peran besar dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.
Dari proses latihan hingga keberanian tampil di depan publik, anak belajar banyak perihal tentang usaha, disiplin, serta langkah menyikapi hasil dengan bijak.
Nilai-nilai tersebut tercermin dalam Festival & Lomba Kreasi Al-Azhar (FELKA) 2026 yang kembali digelar pada 17-18 April di YPI Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Acara tahunan ini diikuti peserta tingkat TK hingga SD dari beragam daerah di Indonesia, sekaligus menjadi ruang untuk menunjukkan keahlian dalam suasana yang edukatif dan menyenangkan.
Festival & Lomba Kreasi Al-Azhar (FELKA) 2026
FELKA merupakan program yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah YPI Al-Azhar sebagai wadah untuk menyalurkan bakat, kreativitas, sekaligus mempererat tali silaturahmi antar siswa.
Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Sekolah SD Islam Al Azhar 1 Kebayoran Baru, H. Nardiyanto, M.Pd., yang menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberi ruang bagi anak mengasah keahlian sekaligus belajar melalui pengalaman nyata.
“Festival Lomba & Kreasi Al-Azhar tujuan utamanya adalah memupuk jiwa kejuaraan dari anak-anak. Jadi, anak-anak itu sudah belajar, sudah berlatih. Kemudian, kita berikan arena lomba. Di samping itu, juga selain mengembangkan talenta dan minat anak-anak, juga mau memupuk silaturahmi,” ujar Nardiyanto kepada HaiBunda, Jumat (17/4/2026).
Tanamkan kejuaraan sehat sejak dini

Lebih dari sekadar perlombaan, pagelaran ini menjadi sarana untuk menambahkan nilai-nilai krusial dalam kehidupan. Di antaranya adalah semangat juang, kejujuran, dan jiwa kesatria.
“Nilai dan karakter yang mau ditanamkan kepada peserta di antaranya ada semangat juang. Selain itu, juga kejujuran. Banyak mungkin pemula-pemula yang mengedepankan ketidakjujuran, yang krusial juara. Kami tidak,” ujar Nurdiyanto.
Anak-anak diajarkan untuk berupaya maksimal, tetapi tetap menjunjung tinggi kejujuran dalam setiap proses. Selain itu, mereka juga dibimbing agar bisa mengelola emosi saat menghadapi hasil akhirnya.
“Anak-anak tidak boleh terlalu sombong jika juara dan jangan berkecil hati nangis terpuruk jika kalah. Artinya, anak-anak kudu siap menerima kekalahan dan mengakui kelebihan musuh dan tetap rendah hati ketika menjadi juara,” tutur Nurdiyanto.
Kemampuan menerima kekalahan serta menghargai kelebihan orang lain menjadi pelajaran krusial yang terus ditekankan. Melalui kejuaraan ini, anak-anak belajar bahwa kemenangan bukan segalanya, melainkan sebagai proses dan sikap yang ditunjukkan selama perjalanan perjalanan tersebut.
Pengalaman peserta FELKA
Pengalaman berkesan juga dirasakan langsung oleh salah satu peserta, berjulukan Shafa Queensha Purwandana, yang mengikuti lomba dai cilik.
Ia mengaku menjalani masa persiapan yang cukup intens selama kurang lebih dua hingga tiga bulan. Dalam proses tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang kudu dihadapi, terutama dalam membagi waktu antara latihan dan kegiatan sekolah.
“Tiga alias dua bulanan (persiapan). Kesulitannya jika lagi ulangan. (cara mengatasinya) dengan motivasi-motivasi dari guru,” ungkap Queensha.
Bukan hanya latihan, Queensha juga merasakan support penuh dari para pembimbing yang turut mendampingi selama proses persiapan. Bahkan, ada momen tertentu ketika dia bisa bercerita langsung untuk menjaga semangat tetap stabil, Bunda.
“Kan belajar juga sembari persiapan lomba. Biasanya sih ada beberapa sesi curhat gitu. Terus jadinya, saya bisa terbuka buat ngasih tahu curhatan-curhatan aku,” ungkap Queensha.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·