Film Aku Sebelum Aku akan tersedia di Netflix mulai 16 Juli 2026. Drama keluarga ini menghadirkan cerita yang dekat dengan pengalaman banyak rumah tangga.
Aku Sebelum Aku menampilkan aktor dan aktris ternama Indonesia, antara lain Ringgo Agus Rahman, Prastiwi Dwiarti, Bimasena, Aming, dan Widuri Puteri. Disutradarai oleh Gina S. Noer, film ini menyorot hubungan rumit antara ayah dan anak yang dibayangi ekspektasi serta tekanan untuk berprestasi.
Sinopsis film Aku Sebelum Aku
Film Aku Sebelum Aku berkisah tentang Jati (Bimasena), seorang siswa SMA berprestasi yang menjadi kebanggaan keluarga. Meski punya sederet pencapaian, Jati justru merasakan beban berat karena tuntutan dan ambisi sang ayah, Jaya (Ringgo Agus Rahman), yang mendorongnya terus mencapai prestasi sesuai harapan keluarga.
Suatu ketika Jati mengalami serangan panik yang mengubah arah hidupnya. Melihat kondisi putranya, Ambu Asih (Prastiwi Dwiarti) mencoba membantu dengan memperkenalkan lingkungan baru yang memungkinkan Jati bertemu teman-teman sebaya dan menjelajahi pengalaman berbeda untuk menemukan kembali identitasnya.
Ketika Jati mulai berubah, ketegangan dengan ayahnya justru memuncak. Jaya yang masih menyimpan luka masa lalu kesulitan menerima transformasi putranya dan terus menempatkan standar tinggi pada prestasi akademis Jati. Saat hubungan keluarga semakin renggang, Jati menemukan sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan Jaya, memicu babak baru dalam perjalanan keluarga mereka.
Ringgo tentang perannya sebagai Jaya di movie Aku Sebelum Aku
Ringgo Agus Rahman menjadi salah satu pemeran sentral dalam Aku Sebelum Aku. Aktor berusia 43 tahun ini mengaku karakter Jaya sangat dekat dengan pengalaman dirinya sebagai ayah, termasuk pergulatan batin, kekhawatiran, dan keinginan memberi yang terbaik bagi anak.
"Sama seperti saya di kehidupan original tuh juga punya kebingungan yang sama, lantaran waktu pertama kali baca skenario terlalu relate ke banyak orang tua terutama saya," kata Ringgo kepada media, belum lama ini.
"Saya juga punya persoalan yang sama. Misalnya, anak saya lagi tanding basket. Di satu sisi saya mau memberikan motivasi, tapi motivasi yang seperti apa ya? Apakah kudu marah ketika dia bermain jelek? Apakah memang kudu bagus alias bagaimana? Kalau saya mau dia juara di basket, apakah itu ambisi saya yang dulu enggak bisa basket tapi suka olahraga ini. Apakah saya mau memandang anak saya pintar, kudu apa, apakah dimarahi agar bisa kasih dorongan? Saya enggak tahu sampai batasannya seperti apa," sambungnya.
Ringgo menyatakan film ini mengubah pandangannya tentang peran orang tua. Baginya, menjadi orang tua bukan hanya memberi arahan, tetapi juga berusaha memahami apa yang dialami anak; mendengarkan dan melihat dari sudut pandang anak sangat penting untuk membangun hubungan keluarga yang sehat.
"Sama seperti karakter Jaya di movie Aku Sebelum Aku, di mana dia punya kebingungan yang sama, malah condong naif. Sadar sekali tujuannya baik, tapi bahasa yang dikeluarkan dan bahasa anaknya berbeda, sehingga perselisihannya sama seperti kehidupan nyata," ungkap Ringgo.
"Kalau lihat movie ini kayak berkaca sekaligus ada tamparan, hati-hati ya, sebenarnya Anda itu pengin anak memberikan yang terbaik, alias anak hanya sebagai pelengkap saja untuk bisa dibanggain di depan orang lain. Itu sama dengan yang saya hadapi. Jadi movie ini membikin saya banyak berkaca dan menjaga diri agar enggak kelewatan ke anak," lanjutnya.
Ringgo menyebut Aku Sebelum Aku menyampaikan pesan mendalam mengenai dinamika keluarga, mendorong penonton untuk lebih mengenal setiap anggota keluarga, termasuk latar, perasaan, dan pengalaman yang membentuk mereka.
"Saya suka sekali dengan pandangan di movie ini, di mana setiap manusia yang berinteraksi di movie ini, apalagi keluarga, itu kudu memahami dan mengenal sekali personil keluarganya," ungkapnya.
Bimasena sebagai Jati di Film Aku Sebelum Aku/ Foto: Netflix Indonesia
Bimasena tentang bentrok anak remaja yang diangkat di film
Penampilan Bimasena sebagai Jati menarik perhatian karena menggambarkan remaja pendiam yang menanggung tekanan dan ekspektasi dari orang tua. Bimasena melihat konflik batin karakter tersebut sebagai cerminan situasi yang dialami banyak remaja saat ini.
Bimasena menilai pola komunikasi keluarga memengaruhi cara remaja mengekspresikan emosi; ketika komunikasi tidak efektif, anak cenderung menyimpan perasaan atau mencari tempat lain untuk berbagi.
Dalam kehidupan pribadinya, Bimasena juga merasa lebih leluasa bercerita kepada teman sebaya daripada kepada orang tua karena merasa lebih dipahami oleh teman.
"Kalau dari pandangan saya sebagai anak remaja, kenapa sih kita lebih nyaman cerita sama kawan daripada family sendiri? Kadang ada batas di mana kayaknya Mama dan Papa enggak usah tahu dulu, malu gitu," kata Bimasena.
"Selain itu, ada di saat kita cerita sebenarnya enggak butuh saran, hanya mau didengarkan. Tapi di beberapa kasus, kita cerita ke orang tua itu ada nasihatnya, itu yang bikin agak males. Tapi bukan lantaran kita enggak sayang alias enggak mau cerita. Cuma ada batasannya saja. Ada beberapa titik kudu di-keep sendiri, tapi dengan kita dikasih tanggung jawab, dan gimana caranya kita enggak menghancurkan tanggung jawab itu," tuturnya.
Pratiwi Dwiarti perankan sosok ibu yang selalu ada untuk anak
Prastiwi Dwiarti, yang akrab disapa Tiwi, memerankan Ambu Asih, sosok ibu penyayang dan penuh perhatian. Lewat perannya, Tiwi mengaku memperoleh pelajaran berharga tentang luka dan latar setiap anggota keluarga.
"Kalau dari movie ini sendiri, sebenarnya yang bikin saya lebih berkaca lagi adalah kita itu enggak bisa memilih keluarga. Misalnya, apakah orang tua punya luka di masa lalunya alias sedang menghadapi trauma? Tapi mungkin kita bisa bertanya sama keluarganya, kenapa sih kok bapak kayak gini ya? Jadi mungkin dari situ kita bisa lebih mengenalnya," ujar Tiwi.
Peran Ambu pada film ini menggambarkan upaya seorang ibu sebagai penengah yang memberi ruang bagi setiap anggota keluarga untuk mengungkapkan emosi secara terbuka, tanpa memihak.
"Kalau untuk karakternya Ambu sendiri, di sini gimana caranya dia bisa menjadi penengah dan memberikan ruang masing-masing agar setiap orang tuh punya tempat berkomunikasi secara terbuka agar bisa menyampaikan perasaannya sendiri," kata Tiwi.
Film Aku Sebelum Aku/ Foto: Netflix Indonesia
Film Aku Sebelum Aku hadirkan tantangan menjadi orang tua
Aku Sebelum Aku cocok ditonton orang tua yang sedang belajar menjalani peran dalam keluarga. Menurut sutradara Gina S. Noer, film ini merefleksikan tantangan terbesar saat berkonflik dengan anak dan bagaimana memperbaiki hubungan setelahnya.
Melalui hubungan ayah dan anak, film ini membahas masalah ekspektasi, komunikasi, serta proses menerima anak apa adanya.
"Jadi orang tua itu tantangan terbesar. Orang tua tuh sebenarnya butuh keberanian untuk percaya jika anak adalah perseorangan sendiri dan mereka bakal punya perjalanan yang enggak bisa kita atur, kita hanya bisa temenin. Orang pasti kandas dan bikin kesalahan yang mungkin luar biasa banget, tapi kan di situ tantangannya. Apa Anda tetap bisa mencintainya meski tidak sempurna? Kalau mencintai orang yang sempurna kan gampang," kata Gina.
Gina menekankan pentingnya kemampuan memperbaiki hubungan pasca-konflik, sesuatu yang kerap sulit dijalankan oleh banyak keluarga meski berkonflik itu sendiri mudah terjadi.
"Menurut saya yang banyak banget kandas di family adalah repair alias gimana memperbaiki setelah konflik. Berkonflik dan kasih solusi sih gampang, tapi memperbaiki setelahnya itu susah," ungkap Gina.
Gina menambahkan bahwa langkah awal memperbaiki hubungan sering dimulai dari keberanian mengakui kesalahan dan mengucapkan maaf—kata sederhana yang punya peran besar dalam membangun kembali kepercayaan dan kedekatan keluarga.
"Makanya 'maaf' tuh jadi krusial banget. Kata yang jarang diomongin tapi ketika kita kudu ngucapin, make sure jika itu di momen yang berbobot dan memang perlu," tuturnya.
Itulah sinopsis serta gambaran peran para pemain di film Aku Sebelum Aku yang tayang di Netflix pada 16 Juli 2026.