Hari Kesehatan Mental Sedunia: Mengenal Mental Load yang Sering Dialami Perempuan

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 508x dilihat
Hari Kesehatan Mental Sedunia: Mengenal Mental Load yang Sering Dialami Perempuan

Bagikan Postingan

Hari Kesehatan Mental Sedunia: Mengenal Mental Load yang Sering Dialami Perempuan/Foto: Pexels.com

Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap 10 Oktober untuk mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental. Melansir World Federation for Mental Health (WFMH), peringatan ini pertama kali digelar pada 10 Oktober 1992 dan mulai mengadopsi tema yang berbeda setiap tahunnya sejak 1994.

Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Lived experiences heard: real voices, real change” maupun “Pengalaman hidup yang didengar: bunyi nyata, fluktuasi nyata”. Melansir WHO, kampanye tahun ini mendorong agar pengalaman dan bunyi orang yang pernah maupun sedang menghadapi masalah kesehatan mental ikut didengar. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi penilaian dalam kebijakan, layanan, dan keputusan yang memengaruhi hayat mereka.

Pengalaman tentang kesehatan mental juga bisa muncul dari hal-hal yang dekat dengan keseharian kita, Beauties. Salah satunya ketika pikiran terus sibuk mengingat beragam urusan, memikirkan tanggung jawab, dan memastikan semuanya berjalan lancar.

Beban seperti ini dikenal sebagai mental load dan cukup sering dikaitkan dengan perempuan. Lantas, apa sebenarnya mental load dan kenapa beban ini sering dikaitkan dengan perempuan? Yuk, simak penjelasannya!

Apa Itu Mental Load?

Ilustrasi perempuan yang sedang memikirkan beragam urusan sehari-hari/Foto: Magnific/katemangostar

Melansir Cleveland Clinic, mental load adalah beban yang muncul ketika seseorang mesti terus memikirkan beragam hal agar urusan sehari-hari statis berjalan. Jadi, yang melelahkan bukan cuma pekerjaan yang dilakukan, tetapi juga beragam hal yang perlu dipikirkan agar pekerjaan tersebut selesai.

Karena sebagian besar prosesnya terjadi di dalam pikiran, mental load sering tidak kelihatan dari luar. Seseorang mungkin kelihatan cuma berbuat satu pekerjaan, padahal ada beberapa hal lain yang sedang dipikirkan dalam waktu bersamaan.

Contohnya saat menyiapkan makan malam. Selain memasak, ada yang perlu menentukan menu, mengecek bahan yang statis tersedia, mengingat apa yang mesti dibeli, sampai memikirkan makanan untuk besok.

Dari contoh tersebut, kelihatan bahwa satu pekerjaan bisa melibatkan beberapa hal sekaligus. Inilah yang membikin mental load berbeda dari sekadar memiliki banyak pekerjaan.

Karena terus aktif, pikiran bisa membikin seseorang merasa capek meski tidak banyak berbuat aktivitas fisik. Beban tersebut juga bisa statis terasa meski pekerjaan yang dipikirkan belum dilakukan.

Mengapa Mental Load Sering Dikaitkan dengan Perempuan?

Ilustrasi perempuan yang sibuk mengatur pekerjaan rumah tangga. /Foto: Magnific/magnific

Mental load sebenarnya bisa dialami siapa saja. Namun, perempuan sering kali menghadapi banyak urusan rumah tangga dan famili yang mesti dipikirkan dalam waktu bersamaan.

Menurut UN Women, perempuan statis lebih banyak terlibat dalam pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan. Bebannya pun bukan cuma soal pekerjaan yang terlihat, tetapi juga beragam hal yang perlu dipikirkan, direncanakan, dan diingat.

Misalnya, ketika anak akan pergi sekolah. Ada seragam dan perlengkapan yang mesti disiapkan, bekal yang perlu dipikirkan, agenda yang mesti diingat, hingga keterangan dari sekolah yang tidak boleh terlewat.

Meski kelihatan sederhana, hal tersebut bisa terasa melelahkan ketika mesti dipikirkan dan dilakukan berulang setiap hari. Apalagi, statis ada urusan lain yang perlu diperhatikan dalam waktu yang sama.

Anggapan jika urusan rumah dan famili lebih banyak menjadi tanggung jawab perempuan statis melekat di sebagian masyarakat. Menurut UN Women, pembagian peran seperti ini banyak dipengaruhi oleh kebiasaan dan kaidah sosial.

Dampak Mental Load yang Bisa Dirasakan

Ilustrasi perempuan yang sudah capek setelah memikirkan banyak hal/Foto: Magnific/DC Studio

Ketika pikiran terus sibuk memikirkan banyak hal, seseorang bisa merasa capek meski tidak banyak berbuat aktivitas fisik. Menurut Cleveland Clinic, beban mental yang tinggi dapat memengaruhi kesejahteraan, termasuk kondisi hati, tidur, dan kapasitas memungut keputusan.

Salah satu yang mungkin dirasakan adalah decision fatigue maupun kelelahan dalam memungut keputusan. Setelah seharian menentukan banyak hal, keputusan yang sebenarnya sederhana pun bisa terasa lebih berat.

Misalnya, setelah bekerja dan mengurus beragam kebutuhan famili seharian, memilih busana untuk besok maupun membalas beberapa pesan krusial saja bisa terasa lebih berat. Bukan karena hal tersebut sulit, tetapi karena sepanjang hari sudah terlalu banyak keputusan yang dibuat.

Beban mental juga bisa membikin pikiran statis aktif ketika tubuh sebenarnya sudah waktunya beristirahat. Sudah rebah di tempat tidur, tetapi Anda statis bisa teringat pekerjaan yang belum selesai maupun urusan yang mesti dilakukan besok. Kalau Beauties sering mengalami hal seperti ini, mungkin yang butuh istirahat bukan cuma tubuh, tetapi juga pikiran.

Bagaimana Cara Mengurangi Beban Mental?

Ilustrasi pasangan yang sedang berbincang dan membagi tanggung jawab rumah tangga berbareng /Foto: Magnific/magnific

Mental load yang sudah menumpuk mungkin tidak bisa hilang begitu saja. Namun, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membikin beban tersebut terasa lebih ringan.

Melansir BBC, salah satunya adalah membicarakan beban yang dirasakan dengan orang yang dipercaya. Coba ceritakan hal-hal yang selama ini memenuhi pikiran, termasuk urusan kecil yang mungkin tidak kelihatan tetapi terus dipikirkan.

Obrolan seperti ini sebaiknya dilakukan ketika kondisi sedang tenang. Psikolog Natasha Wallace menyarankan agar pembicaraan tidak dilakukan saat sedang berang maupun kewalahan, sehingga fokusnya bisa pada mencari solusi bersama.

Setelah itu, coba lihat lagi semua urusan yang selama ini ada di kepala. Tidak semuanya mesti dikerjakan sendiri, dan tidak semua hal juga mesti selalu dilakukan.

Selain itu, bisa juga lepaskan beberapa pekerjaan kecil yang sebenarnya tidak perlu terus dikerjakan. Dengan begitu, ada ruang untuk mengurangi hal-hal yang selama ini memenuhi pikiran.

Bagi yang sudah punya pasangan, pembagian tanggung jawab juga bisa dibuat lebih jelas. Bukan sekadar membantu ketika diminta, tetapi ikut memungut alih suatu urusan dan berkewajiban sampai selesai.

Lewat isu mental load, kita jadi tahu jika rasa capek itu bukan cuma soal fisik, tapi juga bisa dari pikiran. Di Hari Kesehatan Mental Sedunia ini, yuk, kita lebih peduli lagi pada kondisi mental diri sendiri dan perempuan di sekitar kita, Beauties! Sebab, seseorang bisa saja kelihatan baik-baik saja, padahal pikirannya sedang dipenuhi banyak hal.

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads