Idai Soroti Pemberian Sufor Dalam Program Mbg, Ingatkan Risiko Busui Berhenti Berikan Asi

May 21, 2026 03:20 PM - 1 bulan yang lalu 31648

Jakarta -

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan surat terbuka untuk menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG). Surat ini dibagikan di akun IG IDAI pada Rabu (20/5/26).

Surat terbuka ditujukan untuk para ketua Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk Ketua BGN, Dr. Ir. Dadan Hindayana, dan ketiga Wakil Kepala BGN, ialah Nanik Sudaryati Deyang, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung. Perlu diketahui, BGN adalah lembaga pemerintah yang mengelola MBG, Bunda.

Surat dari IDAI ini dibuka dengan pernyataan mengenai pentingnya pemenuhan gizi pada setiap anak di Indonesia. IDAI juga menyampaikan faedah dari pemberian Air Susu Ibu (ASI).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Selanjutnya, IDAI menyoroti tentang kebijakan pengedaran susu formula dalam program MBG. Menurut IDAI, pemberian susu formula bisa berisiko membikin para ibu berakhir menyusui anaknya.

"Pak Dadan, Bu Nanik, Pak Lodewyk, Pak Sony. Kamu percaya Bapak dan Ibu mau setiap bayi dan anak Indonesia terpenuhi kebutuhan gizinya. Dan Anda percaya Bapak dan Ibu tahu, tidak ada yang bisa menggantikan faedah utama Air Susu Ibu (ASI) untuk bayi dan anak kita," demikian tulis IDAI, dikutip dari IG @idai_ig.

"Namun, dengan penuh hormat kami sampaikan: Kebijakan pengedaran susu formula massal yang melangkah hari ini, tanpa pemeriksaan master dan indikasi medis, berisiko memuat ibu-ibu Indonesia berakhir menyusui. Dan begitu seorang ibu berakhir menyusui, nyaris tidak ada jalan untuk kembali."

IDAI lampau menjelaskan secara tentang faedah ASI yang dapat menjaga kekebalan tubuh bayi. Di sisi lain, susu formula dianggap tidak bisa menggantikan kandungan yang ada di ASI.

"Di dalamnya ada ratusan hingga ribuan komponen bioaktif yang bekerja melindungi bayi. Zat kekebalan tubuh dari ibu. Bakteri baik untuk usus. Sinyal pertumbuhan otak. Formula adalah yang terbaik yang bisa dibuat manusia hari ini. Tapi tidak ada satu pun dari komponen ASI di atas yang bisa digantikan olehnya," ungkap IDAI.

"Anak-anak kita butuh ASI. Jangan sampai kebijakan kita hari ini membuatnya kehilangan sesuatu yang penting."

Dalam surat terbuka ini, IDAI juga menjabarkan isi dari Undang-undang No. 17 Tahun 2023 dan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2024 tentang pemberian formula yang hanya boleh diberikan atas rekomendasi master dan indikasi medis. Selain peraturan tertulis, IDAI menegaskan tentang peringatan yang sudah diberikan Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) mengenai pengedaran formula.

"Kami berambisi BGN segera memperbaiki kebijakan ke arah yang benar," tulis IDAI.

Rekomendasi IDAI untuk program MBG

Melalui unggahan ini, IDAI memberikan empat rekomendasi untuk program MBG dan kebijakan mengenai susu formula. Berikut rekomendasinya:

  1. Harmonisasi Kebijakan Publik Badan Gizi Nasional dan Kementerian Kesehatan
  2. Mengembalikan Peruntukan Susu Formula Sesuai Rekomendasi Dokter & Indikasi Medis
  3. Memprioritaskan Kemandirian Pangan Lokal
  4. Melakukan Telaah Ulang dan Sinkronisasi Petunjuk Teknik Intervensi Gizi Nasional agar sesuai dengan:
  • Undang-Undang No.17 Tahun 2023
  • Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan
  • Pedoman Standar Gizi Kemenkes RI
  • Kode Internasional WHO tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI.

Di akhir surat terbuka, IDAI menyempaikan harapannya mengenai kebijakan gizi pada anak-anak. IDAI berambisi negara bisa datang sepenuhnya dalam melindungi anak-anak bangsa.

"Tugas kami hanya mengingatkan. Kami berambisi setiap kebijakan gizi yang ada betul-betul berpihak pada anak," tulis IDAI.

"Negara kudu datang sebagai pelindung, bukan perantara bagi industri yang mau mereduksi standar gizi anak bangsa."

Demikian isi surat terbuka dari IDAI tentang program MBG yang ditujukan kepada para ketua BGN.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Selengkapnya