Kincai Media – Perusahaan penambang Bitcoin (BTC) yang terdaftar di bursa dilaporkan menjual lebih dari 32.000 BTC sepanjang kuartal I 2026, jumlah yang melampaui total penjualan mereka di seluruh kuartal tahun 2025.
Sejumlah nama besar seperti MARA, CleanSpark, Riot, Cango, Core Scientific dan Bitdeer termasuk dalam golongan perusahaan yang melakukan penjualan besar-besaran tersebut. Lonjakan penjualan ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah industri mining modern.

Akar masalahnya terletak pada menurunnya hashprice, ialah ukuran pendapatan miner terhadap daya komputasi yang mereka jalankan. Saat ini, hashprice berada di bawah level yang dianggap sebagai titik lunas bagi banyak pelaku industri, terutama mereka yang tetap menggunakan mesin generasi lama.
Ketika pendapatan dari aktivitas mining tidak lagi cukup untuk menutup biaya operasional, perusahaan tidak punya banyak pilihan selain menjual persediaan Bitcoin yang sebelumnya disimpan di neraca mereka.
Tekanan ini datang dari beberapa arah sekaligus. Persaingan antara miner terus meningkat seiring naiknya total hashrate jaringan, sementara reward blok sudah berkurang dan kondisi makroekonomi belum betul-betul mendukung pemulihan profitabilitas.
Data juga menunjukkan bahwa jumlah Bitcoin yang disimpan oleh para miner terus menurun sejak 2023. JIka sebelumnya persediaan kolektif mereka berada di atas 1,86 juta BTC, sekarang jumlah itu turun menjadi sekitar 1,8 juta BTC.
Penurunan ini menandakan bahwa miner tidak lagi bisa mempertahankan strategi menyimpan Bitcoin sebanyak dulu. Dalam kondisi nilai yang belum cukup tinggi dan biaya daya yang meningkat, banyak operator terpaksa melepas aset untuk menjaga kelangsungan bisnis.
Baca Juga: Chainlink Meledak dari Zona Sempit, Sinyal Rally Besar?
Laporan kuartalan CoinShares apalagi menyebut kemungkinan bakal ada kapitulasi lanjutan dari operator dengan biaya tinggi pada paruh pertama 2026 jika nilai Bitcoin tidak segera pulih secara signifikan.
Kontras dengan Perusahaan Treasury Bitcoin
Menariknya, kondisi ini terjadi di saat perusahaan treasury Bitcoin justru terus melakukan akumulasi. Salah satu contohnya adalah Strategy, perusahaan yang dipimpin Michael Saylor, yang kembali memberi sinyal pembelian BTC saat nilai turun dari puncak lokalnya.
Kontras ini memperlihatkan perbedaan besar antara dua golongan pemain. Miner menjual Bitcoin untuk memperkuat hidup, sementara perusahaan treasury membeli Bitcoin sebagai strategi investasi jangka panjang.
Penjualan besar-besaran oleh miner sering dipandang sebagai tekanan tambahan bagi pasar, lantaran menambah pasokan BTC yang siap dijual. Namun di sisi lain, fase seperti ini juga bisa menjadi penanda bahwa industri sedang memasuki titik stres yang dalam.
Jika tekanan terhadap miner terus berlanjut, pasar bisa memandang lebih banyak penjualan dalam beberapa bulan ke depan. Tetapi jika nilai Bitcoin kembali menguat, tekanan itu bisa mulai mereda dan memberi ruang napas bagi industri mining.
Disclaimer: Semua konten yang diterbitkan di website Kincai Media ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan yang telah tayang di Kincai Media bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata duit digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. Kincai Media tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·