Banyak perusahaan yang sekarang menerapkan sistem hybrid. Namun untuk Bunda yang mau sigap dapat kerja, master menyebut kesediaan untuk work from office (WFO) bisa menjadi nilai tambah.
Di tengah persaingan pasar kerja yang semakin ketat, terutama bagi lulusan baru dan pekerja muda, elastisitas dalam memilih sistem kerja rupanya dapat menjadi aspek krusial untuk meningkatkan kesempatan diterima bekerja. Ketika banyak pencari kerja lebih memilih sistem hybrid alias bekerja dari rumah, kesediaan untuk datang penuh di instansi justru bisa menjadi nilai tambah di mata perusahaan.
Mengutip Market Watch, penemuan terbaru dari para peneliti di Federal Reserve Bank of New York menunjukkan bahwa meningkatnya tren kerja jarak jauh dan hybrid sejak pandemi turut menyulitkan pekerja muda dalam memasuki bumi kerja. Kondisi ini menjadi perhatian di tengah maraknya pembahasan mengenai akibat kepintaran buatan (AI) terhadap pasar tenaga kerja generasi muda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, jika Bunda alias punya anak fresh graduate mungkin bisa mencoba 'menambahkan' kesediaan diri bekerja penuh di instansi jika mau segera dapat pekerjaan. Hal ini dinilai bisa membuka kesempatan lebih besar agar sigap dapat kerja.
Sistem hybrid dinilai hambat calon pekerja diterima kerja
Berdasarkan penelitian di atas, sekitar 64 persen kenaikan tingkat pengangguran pekerja muda sejak pandemi berangkaian dengan meningkatnya praktik kerja jarak jauh. Para peneliti menulis bahwa waktu terjadinya lonjakan ini menunjukkan bahwa kerja jarak jauh, bukan AI, menjadi sebagian besar argumen kenaikan pengangguran kaum muda.
Sebelum pandemi, tingkat pengangguran pekerja berumur di bawah 29 tahun rata-rata sedikit di atas 3 persen pada periode 2017 hingga 2019. Namun pada rentang 2022 hingga 2025, nomor tersebut meningkat menjadi 3,7 persen.
Data Federal Reserve Bank of New York apalagi menunjukkan tingkat pengangguran pekerja usia 22 hingga 27 tahun mencapai 7,2 persen pada Maret, naik dibandingkan 6,1 persen pada Februari 2020 sebelum pandemi meluas. Meski demikian, sistem kerja hybrid tetap menjadi pilihan favorit bagi banyak pekerja muda.
Survei Gallup menemukan bahwa 71 persen pekerja generasi Z lebih menyukai pola kerja hybrid. Menariknya, generasi ini juga tidak sepenuhnya menginginkan bekerja dari rumah. Banyak dari mereka lebih memilih kombinasi dua hingga tiga hari bekerja di instansi dan sisanya dari rumah.
Perusahaan lebih tertarik terhadap tenaga kerja yang bersedia full WFO
Para peneliti New York Fed menilai perusahaan condong lebih berhati-hati merekrut lulusan baru untuk posisi yang minim hubungan langsung. Menurut mereka, perusahaan menghadapi tantangan lebih besar dalam mengajarkan keahlian dasar pekerjaan kepada tenaga kerja baru jika proses pembelajaran dilakukan dari jarak jauh.
Analisis terhadap pola perekrutan di salah satu perusahaan Fortune 500 menunjukkan bahwa kebijakan kembali bekerja penuh dari instansi memungkinkan perusahaan memberikan mentoring secara langsung dan tetap merekrut lebih banyak pekerja muda setelah pandemi. Temuan ini mengindikasikan bahwa kehadiran bentuk di instansi tetap mempunyai peran krusial dalam pengembangan pekerjaan tahap awal.
Meski begitu, ahli ekonomi Universitas Stanford, Nick Bloom, mengingatkan bahwa faedah sistem kerja hybrid juga tidak boleh diabaikan. Ia menilai elastisitas bekerja dari rumah telah membantu banyak golongan pekerja, termasuk penyandang disabilitas, orangtua dengan anak kecil, serta mereka yang mempunyai waktu tempuh perjalanan kerja yang panjang.
“Untuk kebijakan ketenagakerjaan, saya rasa kita tidak boleh hanya berfokus pada satu kelompok, lulusan perguruan tinggi saja, dan mengabaikan golongan lainnya,” kata Bloom kepada MarketWatch.
Kesediaan kerja full di instansi bisa kurangi persaingan pelamar
Di sisi lain, sejumlah pembimbing pekerjaan memandang kesempatan tersendiri bagi pencari kerja yang bersedia bekerja penuh di kantor. Pendiri Danzger Group, Neil Danzger, mengatakan bahwa posisi yang mewajibkan kehadiran penuh di instansi biasanya menarik lebih sedikit pelamar.
“Jika itu benar, pencari kerja yang terbuka terhadap kesempatan tersebut mungkin menghadapi persaingan lebih rendah lantaran mereka mempertimbangkan pekerjaan yang sudah dikesampingkan oleh kandidat lain,” ujar Danzger.
Danzger juga mendorong pekerja muda yang berada dalam skema hybrid untuk lebih sering datang ke instansi guna memaksimalkan kesempatan belajar dan membangun relasi profesional. Pendapat serupa disampaikan oleh pendiri MTV Coaching, Michelle Perchuk.
Menurutnya, kehadiran langsung di instansi membantu pekerja baru mengembangkan keahlian membangun jaringan, komunikasi, dan etika ahli yang sangat krusial untuk jenjang pekerjaan berikutnya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·