Jakarta -
Menjalani program bayi tabung alias in vitro fertilization (IVF) biasanya identik dengan rutinitas pemeriksaan, suntikan hormon, kontrol ke dokter, hingga menunggu hasil tes kehamilan. Namun, bagi sejumlah pasangan di Amerika Serikat (AS), proses promil sekarang dikombinasikan dengan perjalanan ke Eropa.
Fenomena ini menjadi sorotan setelah The Washington Post memberitakan pasangan-pasangan AS yang memilih menjalani perawatan IVF di Eropa sekaligus menikmati liburan. Salah satu negara yang menjadi tujuan adalah Yunani, yang dikenal mempunyai jasa fertilitas untuk pasien internasional.
Fenomena tersebut sebenarnya bukan metode promil baru. Praktik berjalan ke negara lain untuk mendapatkan perawatan kesuburan dikenal sebagai cross-border reproductive care (CBRC) alias fertility tourism. Namun, kombinasi antara perawatan IVF dan liburan membikin kejadian ini semakin menarik perhatian.
IVF di Eropa sekaligus liburan
Dikutip dari The Washington Post, Emilie dan Justin Solomon dari Florida, AS awalnya mendapatkan perkiraan biaya sekitar US$40.000 untuk satu siklus IVF di Florida. Mereka kemudian memilih menjalani perawatan di Athena, Yunani.
Menurut laporan tersebut, biaya perawatan IVF mereka di Yunani, termasuk obat-obatan, proses fertilisasi, penyimpanan embrio, dan transfer embrio, berada di kisaran US$12.000, belum termasuk biaya perjalanan.
Menariknya, perjalanan tersebut tidak hanya diisi dengan agenda medis. Pasangan ini juga mengunjungi sejumlah letak wisata di Yunani, termasuk Pulau Milos. Mereka kemudian kembali ke Yunani untuk menjalani tahap transfer embrio.
Kisah tersebut menggambarkan gimana sebagian pasangan mencoba menjadikan perjalanan menjalani IVF sebagai pengalaman yang tidak sepenuhnya berpusat pada tekanan pengobatan.
Kenapa memilih IVF di luar negeri?
Biaya menjadi salah satu aspek yang membikin pasangan mempertimbangkan perawatan fertilitas di luar AS. Selain itu, perbedaan regulasi, akses terhadap jenis perawatan tertentu, waktu tunggu, serta persepsi mengenai kualitas jasa juga dapat menjadi pertimbangan.
Fenomena ini sebenarnya sudah diteliti selama bertahun-tahun. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Human Reproduction pada 2010 melibatkan 1.230 pasien dari 49 negara yang mendapatkan perawatan reproduksi lintas negara di enam negara Eropa.
Peneliti menemukan bahwa argumen pasien berjalan ke luar negeri cukup beragam. Sebanyak 54,8 persen menyebut argumen norma alias regulasi, sementara 43,2 persen mempertimbangkan kualitas jasa dan 29,1 persen mempunyai riwayat kegagalan perawatan sebelumnya.
Artinya, keputusan menjalani IVF di negara lain tidak selalu berangkaian dengan harga. Ada pasien yang mencari akses terhadap prosedur tertentu, patokan yang lebih fleksibel, waktu tunggu yang lebih singkat, alias jasa yang menurut mereka lebih sesuai dengan kebutuhan.
Yunani jadi salah satu tujuan fertility tourism
Yunani termasuk negara yang semakin dikenal sebagai tujuan perawatan kesuburan bagi pasien internasional.
Studi internasional yang dipublikasikan pada 2024 meneliti pasien yang berjalan ke Yunani untuk mendapatkan perawatan fertilitas. Dari 99 responden, tiga argumen utama yang dilaporkan adalah ketidakpuasan terhadap jasa di negara asal, persepsi mengenai tingkat keberhasilan yang lebih tinggi di Yunani, serta izin yang dianggap lebih fleksibel. Para responden juga menilai biaya dan waktu tunggu di Yunani lebih baik dibandingkan negara asal mereka.
Meski begitu, hasil penelitian tersebut tidak berfaedah IVF di Yunani secara otomatis lebih berhasil. Data tersebut menggambarkan pengalaman dan persepsi pasien yang memilih menjalani perawatan di sana, bukan bukti bahwa berjalan ke Yunani meningkatkan kesempatan kehamilan untuk semua orang.
Walaupun sekarang kembali ramai dibicarakan, fertility tourism sebenarnya sudah berjalan cukup lama. Sebuah studi oleh European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) menemukan bahwa pasien dari beragam negara Eropa telah berjalan ke negara lain untuk mendapatkan perawatan reproduksi. Peneliti apalagi memperkirakan setidaknya 11.000–14.000 pasien per tahun melakukan perjalanan lintas negara untuk mendapatkan perawatan reproduksi berasas informasi pada periode penelitian tersebut.
Kajian sistematis lainnya juga menyebut cross-border reproductive care sebagai kejadian dunia yang berkembang dan mempunyai dimensi medis, ekonomi, hukum, serta etika. Jadi, istilah “tren baru” dalam konteks pasangan AS lebih tepat dipahami sebagai kejadian yang semakin mendapat perhatian, bukan berfaedah IVF sembari liburan baru saja ditemukan.
Apakah IVF sembari liburan bisa lebih santai?
Sekilas, konsepnya memang terdengar menarik. Daripada menghabiskan seluruh waktu di klinik, pasangan bisa menyempatkan diri menikmati letak wisata ketika kondisi tubuh dan agenda pengobatan memungkinkan.
Namun, IVF tetap merupakan prosedur medis yang memerlukan pemantauan ketat.
Stimulasi ovarium, pemeriksaan kadar hormon, USG, pengambilan sel telur, fertilisasi, perkembangan embrio, hingga transfer embrio mempunyai agenda yang tidak bisa sepenuhnya disesuaikan dengan agenda wisata. Karena itu, pasangan yang menjalani IVF di luar negeri tetap perlu menempatkan perawatan medis sebagai prioritas utama, bukan sebaliknya.
Menjalani IVF di negara lain juga mempunyai sejumlah tantangan. Pasangan kudu mempertimbangkan perjalanan udara, koordinasi dengan klinik, komunikasi dengan tenaga medis, perbedaan sistem kesehatan, hingga rencana perawatan setelah kembali ke negara asal.
Penelitian kualitatif terhadap 51 pasien yang menjalani perawatan fertilitas lintas negara menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mempunyai pengalaman positif. Namun, mereka juga menghadapi tantangan berupa logistik dan koordinasi perawatan, ketidakpastian, serta perbedaan budaya.
Hal ini krusial lantaran perawatan tidak selalu selesai ketika pasangan meninggalkan klinik di luar negeri. Pasien mungkin tetap memerlukan pemeriksaan alias konsultasi lanjutan setelah pulang.
Jangan hanya tergiur nilai lebih murah
Biaya yang lebih rendah memang bisa menjadi daya tarik. Tetapi pasangan sebaiknya tidak memilih klinik hanya berasas harga.
Sebelum memutuskan IVF di luar negeri, krusial untuk mencari tahu kredensial master dan klinik, jenis prosedur yang tersedia, tingkat keberhasilan yang dilaporkan dengan metode pengukuran yang jelas, patokan mengenai embrio dan donor, hingga gimana koordinasi perawatan dilakukan setelah pasien kembali ke rumah.
Pasangan juga perlu menghitung biaya keseluruhan, bukan hanya biaya paket IVF. Tiket pesawat, hotel, transportasi lokal, makanan, obat-obatan tambahan, pemeriksaan, kemungkinan memperpanjang masa tinggal, dan perjalanan kembali untuk transfer embrio dapat menambah pengeluaran.
Fenomena yang diberitakan The Washington Post menunjukkan bahwa bagi sebagian pasangan AS, Eropa bukan hanya menjadi destinasi liburan, tetapi juga tempat untuk mencari jasa fertilitas yang dianggap lebih sesuai dari sisi biaya, akses, alias regulasi.
Bagi Bunda yang sedang menjalani promil, yang paling krusial bukan di mana IVF dilakukan alias seberapa menarik destinasi wisatanya, melainkan memastikan keputusan tersebut dibuat berbareng master ahli fertilitas dan berasas info medis yang dapat dipercaya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)