Kenali 10 tanda anak kurang percaya diri yang sering gak disadari orang tua, dari takut mencoba hingga sering merendahkan diri sendiri.
Mommies, pernah gak memandang anak remaja yang dulu cerewet dan mudah cerita, tiba-tiba jadi lebih sering diam? Atau anak yang biasanya berani mencoba sesuatu, sekarang sedikit-sedikit bilang, “Aku gak bisa,” “Aku jelek,” alias “Percuma, pasti gak sebagus yang lain”?
Kadang perubahan seperti ini terlihat sepele. Namanya juga remaja, mungkin kita berpikir mereka sedang masuk fase mencari jati diri, lebih sensitif, alias memang lagi malas ngobrol dengan orang tua.
Padahal, bisa saja ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Masa remaja memang menjadi periode krusial dalam pembentukan langkah anak memandang dan menilai dirinya sendiri. Di fase ini, hubungan dengan orang tua, lingkungan sosial, pengalaman di sekolah, serta langkah anak memandang dirinya dapat saling berangkaian dengan kondisi emosionalnya.
Penelitian pada remaja di Indonesia juga menemukan adanya hubungan antara self-esteem, keterikatan dengan orang tua, dan masalah emosional maupun perilaku. Peneliti menyimpulkan bahwa membangun self-esteem sekaligus hubungan yang hangat dengan orang tua dapat menjadi bagian krusial dalam mendukung kesehatan mental remaja.
Jadi, jika Mommies merasa ada perubahan pada anak, gak ada salahnya mulai lebih peka.
BACA JUGA: Tips Jitu Bantu Remaja Bebas FOMO dan Lebih Percaya Diri, Mommies Harus Tahu!
10 Tanda Anak Kurang Percaya Diri

Foto: Magnific
1. Sering Bilang “Aku Gak Bisa” Sebelum Mencoba
“Ah, saya gak bisa.”
“Aku pasti gagal.”
“Ngapain ikut? Yang lain lebih jago.”
Kalau sesekali mengucapkan perihal seperti ini mungkin memang biasa. Tetapi jika anak mulai sering meragukan kemampuannya apalagi sebelum mencoba, Mommies bisa mulai memperhatikannya.
Anak yang sedang mengalami masalah dengan rasa percaya diri bisa merasa dirinya gak cukup bisa untuk menghadapi tantangan. Akibatnya, dia memilih mundur lebih dulu daripada menghadapi kemungkinan gagal.
American Academy of Pediatrics juga mencantumkan kebiasaan menghindari tantangan tanpa mencoba sebagai salah satu pola yang dapat muncul pada anak dengan low self-esteem.
Padahal, kandas sebenarnya bagian dari proses belajar. Yang perlu dibangun bukan kepercayaan bahwa anak kudu selalu berhasil, tetapi kepercayaan bahwa dirinya bisa mencoba dan belajar dari hasilnya.
2. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
“Dia kok bisa, sih?”
“Kenapa saya gak kayak dia?”
“Lihat teman-temanku, semuanya lebih keren.”
Kalau kalimat seperti ini mulai sering terdengar, coba dengarkan lebih jauh.
Remaja memang sangat dipengaruhi lingkungan sosialnya. Apalagi sekarang mereka bisa memandang pencapaian, penampilan, pertemanan, apalagi kehidupan orang lain hanya dalam hitungan detik lewat media sosial.
Dan yang terlihat biasanya hanya bagian bagusnya.
Ketika anak mulai terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain dan selalu merasa berada di posisi yang lebih rendah, jangan langsung dianggap sebagai rasa iri biasa. Bisa jadi, ada masalah dengan langkah dia memandang dirinya sendiri.
3. Takut Mengemukakan Pendapat
Anak sebenarnya punya pendapat, tetapi memilih tak bersuara lantaran takut salah.
Saat ditanya di meja makan, jawabannya cuma, “Terserah.”
Saat berbincang di kelas, dia memilih gak angkat tangan meskipun sebenarnya tahu jawabannya.
Atau ketika berbareng teman, dia selalu mengikuti keputusan orang lain lantaran takut pendapatnya ditolak.
Mommies mungkin awalnya menganggap anak hanya pemalu. Tetapi jika perubahan ini cukup signifikan dibandingkan kebiasaannya dulu, ada baiknya diperhatikan.
Percaya diri bukan berfaedah anak kudu selalu menjadi orang yang paling vokal. Namun, dia semestinya merasa cukup kondusif untuk mempunyai dan menyampaikan pendapatnya.
4. Sangat Takut Membuat Kesalahan
Namanya remaja, salah tentu tetap sangat mungkin terjadi.
Tetapi anak yang sedang mengalami masalah dengan rasa percaya dirinya bisa menganggap kesalahan mini sebagai bukti bahwa dirinya memang gak mampu.
Nilai ulangan turun sedikit langsung merasa dirinya bodoh. Salah menjawab pertanyaan di kelas lampau gak mau bicara lagi. Gagal dalam pertandingan kemudian memutuskan gak mau ikut kegiatan tersebut lagi.
Di sinilah Mommies perlu membantu anak memisahkan antara “aku melakukan kesalahan” dan “aku adalah orang yang gagal.”
Keduanya jelas berbeda.
5. Mendadak Menghindari Kegiatan yang Dulu Disukai
Dulu anak semangat ikut basket, les musik, menggambar, organisasi, alias kegiatan sekolah.
Sekarang?
“Aku gak mau ikut lagi.”
Kalau terjadi sekali alias dua kali, mungkin anak memang sedang bosan. Tetapi jika dia mulai meninggalkan banyak kegiatan yang sebelumnya disukai, coba cari tahu alasannya.
Bisa jadi dia merasa gak cukup bagus dibandingkan teman-temannya alias takut dinilai.
American Academy of Pediatrics juga menyebut berkurangnya minat terhadap kegiatan yang biasanya disukai serta menarik diri dari kawan sebagai perubahan yang perlu diperhatikan ketika orang tua memandang kemungkinan masalah pada self-esteem.
Jadi, jangan langsung memaksa anak kembali ikut kegiatan yang sama. Cari tahu dulu apa yang membuatnya mau berhenti.

Foto: Magnific
6. Terlalu Khawatir dengan Penampilan
“Gendut, gak, sih?”
“Jerawatku terlihat banget, gak?”
“Aku jelek jika pakai baju ini.”
Mommies mungkin pernah mendengar anak mengomentari penampilannya seperti ini.
Perhatian terhadap penampilan memang cukup umum pada masa remaja. Namun, jika anak sampai terus-menerus merasa dirinya kurang menarik, menghindari difoto, gak mau pergi lantaran merasa penampilannya buruk, alias sangat terpaku pada kekurangan fisiknya, jangan buru-buru dianggap drama.
Kekhawatiran berlebihan terhadap pendapat orang lain juga termasuk salah satu pola yang dapat muncul pada anak dengan low self-esteem.
Ini bukan berfaedah setiap anak yang sering mengomentari penampilannya pasti sedang mengalami masalah kepercayaan diri. Yang lebih krusial adalah memandang seberapa sering, seberapa intens, dan apakah perihal tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-harinya.
7. Selalu Membutuhkan Validasi dari Orang Lain
“Bagus gak?”
“Menurut Anda saya keren gak?”
“Kalau saya upload ini, orang bakal suka gak?”
Mencari pendapat orang lain sesekali tentu normal. Namun, jika nyaris setiap keputusan anak memerlukan persetujuan dari teman, keluarga, alias followers, bisa jadi dia belum merasa cukup percaya dengan penilaiannya sendiri.
Anak mungkin mulai susah mempercayai keputusan yang dibuatnya tanpa mendapatkan pengesahan dari orang lain.
Di sinilah kesempatan Mommies untuk perlahan mengajarkan anak bahwa pendapat orang lain memang penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran nilai dirinya.
BACA JUGA: Validasi Perasaan Anak dengan 6 Teknik Ini Untuk Redakan Emosi
8. Jadi Terlalu Perfeksionis
Ini agak tricky.
Anak yang selalu mau mendapatkan nilai sempurna alias melakukan sesuatu dengan sangat baik belum tentu kurang percaya diri. Bisa saja dia memang punya standar tinggi.
Tetapi coba lihat apa yang terjadi ketika hasilnya gak sesuai harapan.
Kalau sedikit kesalahan saja membikin anak menangis, marah pada dirinya sendiri, langsung menyerah, alias merasa dirinya gak berharga, mungkin ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar perfeksionisme.
Anak perlu tahu bahwa dirinya tetap berbobot meskipun hasil ulangan gak sempurna, kalah lomba, alias melakukan kesalahan.
9. Lebih Sering Menarik Diri
Anak remaja memang memerlukan ruang sendiri. Jadi, jangan langsung panik hanya lantaran anak lebih sering masuk kamar.
Yang perlu diperhatikan adalah perubahannya.
Kalau sebelumnya anak tetap senang ngobrol dengan family alias berjumpa teman, lampau sekarang semakin sering menghindari interaksi, membatalkan janji dengan teman, dan terlihat gak tertarik pada kegiatan sosial, Mommies bisa mulai mengajaknya bicara.
American Academy of Pediatrics mencantumkan menarik diri dari kawan dan keluarga, kehilangan minat, serta perubahan dalam kegiatan sehari-hari sebagai beberapa perihal yang perlu diperhatikan ketika menilai kondisi emosional anak.
Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa anak pasti sedang mengalami masalah kepercayaan diri. Perubahan seperti ini juga bisa berangkaian dengan beragam kondisi emosional lainnya.
10. Lebih Sering Merendahkan Diri Sendiri
Nah, ini yang jangan sampai dilewatkan.
“Aku bodoh.”
“Aku gak berguna.”
“Gak ada yang suka sama aku.”
“Aku memang gak pernah bisa melakukan apa-apa.”
Kalau anak mulai sering berbincang seperti ini, jangan langsung dibalas dengan, “Ah, Anda tuh pandai kok!”
Mungkin niatnya mau menyemangati. Tetapi anak bisa saja justru merasa bahwa orang tua gak betul-betul memahami apa yang sedang dia rasakan.
American Academy of Pediatrics juga memasukkan komentar yang sangat kritis terhadap diri sendiri, merasa gak disukai, alias menganggap orang lain lebih pandai sebagai tanda yang dapat muncul pada low self-esteem.
Coba gali lebih jauh.
“Kenapa Anda merasa begitu?”
“Ada sesuatu yang terjadi di sekolah?”
“Siapa yang membikin Anda merasa seperti itu?”
Kadang, satu pertanyaan yang tenang bisa membuka cerita yang selama ini disimpan anak.
Kenapa Rasa Percaya Diri Remaja Bisa Menurun?

Foto: Magnific
Penyebabnya tentu gak hanya satu.
Bisa lantaran masalah pertemanan, tekanan akademik, pengalaman gagal, perubahan tubuh, bentrok keluarga, perundungan, hubungan romantis, alias terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain.
Bahkan, penelitian pada remaja di Indonesia menemukan bahwa self-esteem berangkaian dengan masalah emosional dan perilaku. Studi tersebut juga menemukan hubungan antara keterikatan dengan orang tua dan kondisi emosional remaja. Penelitian tentang self-esteem dan keterikatan orang tua pada remaja di Indonesia
Artinya, kehadiran Mommies tetap punya peran penting.
Bukan untuk membikin anak selalu merasa dirinya hebat, tetapi membuatnya tahu bahwa dia tetap diterima apalagi ketika sedang gagal, bingung, alias belum menemukan jawabannya.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan Mommies?
Hal pertama: jangan buru-buru menghakimi.
Kalau anak tiba-tiba berkata, “Aku gak bisa,” mungkin respons pertama kita adalah, “Kamu belum coba kok sudah bilang gak bisa?”
Padahal, mungkin yang dia butuhkan justru didengarkan.
Mommies bisa mulai dengan kalimat sederhana seperti:
“Kayaknya Anda lagi gak percaya sama diri sendiri, ya?”
“Mau cerita gak kenapa Anda merasa begitu?”
“Gak apa-apa jika sekarang belum bisa. Kita cari tahu pelan-pelan.”
Yang gak kalah penting, berikan anak kesempatan untuk mengambil keputusan sesuai usianya. American Psychological Association menjelaskan bahwa rasa percaya diri dan persepsi terhadap keahlian diri dapat membantu anak lebih berani mengambil langkah dalam proses belajar serta bangkit ketika menghadapi kegagalan. Karena itu, Mommies bisa memberikan ruang bagi anak untuk mencoba, mengambil keputusan, dan belajar dari kesalahan sesuai dengan usianya.
Jadi, jangan semua keputusan langsung diambil alih oleh Mommies hanya lantaran kita takut anak salah.
Kadang, anak memang perlu mengalami salah, mencoba lagi, lampau menemukan sendiri bahwa rupanya dia bisa.
BACA JUGA: 13 Kebiasaan Orang Tua yang Bisa Membuat Anak Tidak Percaya Diri
Percaya Diri Bukan Berarti Anak Harus Selalu Berani
Pada akhirnya, anak yang percaya diri bukan berfaedah anak yang selalu paling berani, paling pintar, paling cantik, paling populer, alias paling banyak prestasinya.
Percaya diri lebih dekat dengan keahlian anak untuk mengatakan, “Aku mungkin belum bisa, tapi saya mau mencoba.”
Dan jika sekarang Mommies memandang anak mulai sering meragukan dirinya sendiri, jangan langsung menganggapnya sebagai fase remaja yang bakal lenyap begitu saja.
Perhatikan polanya, ajak bicara tanpa menghakimi, dan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Kalau perubahan perilaku semakin berat, berjalan terus-menerus, mengganggu sekolah, pertemanan, tidur, makan, alias kegiatan sehari-hari, jangan ragu meminta support profesional. Low self-esteem juga gak selalu berdiri sendiri dan dapat melangkah berbareng masalah emosional lainnya.
Karena mungkin yang dibutuhkan anak bukan pidato panjang tentang sungguh hebatnya dirinya.
Kadang, mereka hanya perlu tahu satu hal:
“Mama tetap percaya sama kamu, apalagi ketika Anda sendiri lagi belum bisa percaya sama dirimu.”
Cover: Magnific