Jakarta -
Selama ini, banyak orang beranggapan bahwa ibu yang bekerja dari rumah alias work from home (WFH) bakal lebih mudah memberikan ASI kepada bayinya. Pasalnya, ibu dianggap mempunyai lebih banyak kesempatan untuk berada dekat dengan Si Kecil, menyusui langsung, maupun memompa ASI di sela-sela pekerjaan.
Namun, sebuah studi terbaru justru menemukan hasil yang berbeda. Ibu WFO lebih konsisten menyusui hingga mencapai sasaran enam bulan dibandingkan ibu yang bekerja dari rumah.
Mengutip laman INC, sebuah penelitian yang dilakukan para mahir dari Washington State University (WSU) menemukan bahwa ibu yang bekerja secara langsung di tempat kerja alias on-site lebih sering sukses mempertahankan pemberian ASI selama 24 minggu. Periode tersebut sesuai dengan rekomendasi pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi.
Menariknya, kedua golongan ibu yang bekerja tersebut juga mempunyai tingkat keberhasilan menjalani program menyusui selama 6 bulan yang jauh lebih tinggi dibandingkan ibu yang tidak bekerja dan sepenuhnya berada di rumah.
Namun, kondisi tersebut berubah seiring berjalannya waktu. Peneliti menemukan bahwa “pembalikan terjadi pada minggu ke-24,” sehingga ibu yang bekerja di luar rumah justru mengalami emosi yang lebih positif. Perubahan ini turut membantu mereka mempertahankan rutinitas menyusui hingga akhir periode enam bulan.
Studi yang diterbitkan dalam Western Journal of Nursing Research tersebut mengungkap adanya perbedaan keberhasilan menyusui berasas kondisi pekerjaan ibu.
- Ibu yang Bekerja di Kantor (WFO): Mengukir tingkat keberhasilan tertinggi, ialah mencapai 70 persen.
- Ibu yang Bekerja dari Rumah (WFH): Menempati posisi kedua dengan tingkat keberhasilan sebesar 60 persen.
- Ibu Rumah Tangga (Tidak Bekerja): Memiliki persentase keberhasilan paling rendah, ialah sebesar 37 persen.
Penyebab ibu WFO lebih konsisten menyusui
Mengapa ibu yang bekerja secara on-site di instansi justru mempunyai tingkat konsistensi menyusui yang lebih tinggi? Berdasarkan kajian para ahli, terdapat beberapa aspek utama yang mempengaruhinya:
1. Struktur, rutinitas, dan konsentrasi yang jelas
Menurut Natsuko Wood, asisten guru besar di College of Nursing, Washington State University (WSU), lingkungan kerja di instansi memberikan batas jam kerja dan rutinitas yang terstruktur.
Setelah melewati fase penyesuaian di awal, struktur ini membantu ibu menyusui mempunyai agenda memompa ASI (pumping) yang lebih teratur dan konsentrasi dibanding saat berada di rumah.
2. Perubahan emosi positif seiring berjalannya waktu
Pada masa-masa awal, ibu yang memompa ASI di tempat kerja memang melaporkan tingkat emosi negatif yang lebih tinggi. Hal ini umumnya disebabkan oleh rasa canggung alias kekhawatiran terhadap respons rekan kerja saat kudu mengambil jarak rehat pribadi. Namun, penelitian menunjukkan terjadinya pembalikan emosional pada minggu ke-24, dengan ibu WFO merasa jauh lebih positif dan mantap mempertahankan rutinitas menyusui mereka.
3. Kerentanan tersembunyi pada Ibu rumah tangga
Tinggal di rumah secara bentuk dekat dengan bayi rupanya tidak menjamin kelancaran menyusui. Ibu rumah tangga menghadapi tuntutan pengasuhan dan pekerjaan rumah tanpa henti selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Tanpa adanya batas waktu kerja yang jelas, jam rehat yang teratur, alias support formal, tingkat stres dapat meningkat dan memengaruhi konsistensi pemberian ASI.
Dengan adanya agenda yang pasti, support izin di tempat kerja, serta rutinitas harian yang teratur, ibu WFO lebih konsisten menyusui hingga mencapai sasaran 6 bulan penuh. Faktor struktur dan jam kerja yang jelas terbukti menjadi kunci krusial pendukung keberhasilan ASI eksklusif bagi ibu pekerja.
Semoga informasinya berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)