Picky eater dan selective eater berbeda. Kenali ciri, perbedaan, dan kapan anak perlu diperiksa ke master langsung dari ahlinya berikut ini!
Mommies, pernah gak merasa sudah masak beragam macam makanan untuk anak, tapi ujung-ujungnya yang dimakan hanya itu-itu lagi?
Hari ini mau nasi dengan telur. Besok telur lagi. Begitu ditawari sayur, langsung geleng-geleng kepala. Atau baru memandang makanan dengan warna, rasa, alias tekstur yang berbeda saja, anak sudah bilang, “Gak mau!”
Sebagai orang tua, situasi seperti ini tentu bisa bikin bingung. Apalagi jika memandang anak lain yang kelihatannya bisa makan apa saja, sementara daftar makanan yang boleh masuk ke mulut anak sendiri rasanya semakin lama semakin pendek. 😅
Perilaku pilih-pilih makanan pada anak sebenarnya cukup umum. Dalam pembahasan tumbuh kembang dan nutrisi anak, Mommies mungkin pernah mendengar istilah food neophobia, picky eating,sampai food selectivity.
Namun, istilah-istilah tersebut gak selalu mempunyai makna yang sama.
Menurut master ahli anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik, Dr. dr. Meta Herdiana Hanindita, Sp.A, Subsp. NMP(K), alias yang berkawan disapa Dokter Meta, perilaku pilih-pilih makanan memang mempunyai spektrum yang cukup luas.
Ada yang tetap termasuk bagian dari fase normal tumbuh kembang anak, tetapi ada pula kondisi yang perlu dicari tahu lebih lanjut lantaran bisa berangkaian dengan kondisi alias gangguan tertentu.
Jadi, sebelum buru-buru menyebut anak sebagai picky eater dan selective eater, yuk kenali dulu perbedaannya.
BACA JUGA: Hati-hati! Ternyata Ini Kesalahan Orang Tua yang Bikin Anak Jadi Picky Eater
Mengenal Food Neophobia pada Anak

Foto: Pexels
Sebelum membahas picky eater dan selective eater, ada satu istilah yang perlu Mommies kenali terlebih dahulu, ialah food neophobia.
Food neophobia adalah kecenderungan anak untuk takut, enggan, alias menolak mencoba makanan baru yang belum dikenalnya. Kondisi ini cukup umum pada masa kanak-kanak dan dapat menjadi bagian dari perkembangan normal.
“Fase neophobia ini adalah fase anak takut untuk mencoba makanan-makanan yang baru. Biasanya terjadi di usia 1 tahun ke atas.”
Menurut Dokter Meta, fase ini juga berangkaian dengan sistem pertahanan diri anak. “Food neophobia merupakan sistem pertahanan diri alias survival agar anak-anak tidak makan sesuatu yang bukan makanan,” jelasnya.
Jadi, ketika anak mulai menolak makanan baru setelah sebelumnya terlihat lebih terbuka mencoba beragam makanan, Mommies gak perlu langsung berpikir ada sesuatu yang salah.
Yang lebih krusial adalah memandang pola makan anak secara keseluruhan: makanan apa yang tetap mau dia makan, seberapa beragam pilihannya, serta apakah ada kesulitan lain yang menyertai.
Penelitian sistematis yang terbit pada akhir 2024 juga menunjukkan bahwa food neophobia dan picky eating pada anak dipengaruhi beragam faktor, termasuk aspek biologis, sosial, lingkungan, serta pengalaman dan pola pengasuhan dalam keluarga.
Apa Itu Picky Eater?
Nah, masuk ke istilah yang paling sering kita dengar: picky eater.
Menurut Dokter Meta, picky eater tetap dapat termasuk dalam fase normal pertumbuhan dan perkembangan anak.
Anak mungkin hanya makan dalam jumlah terbatas alias menolak makanan tertentu. Namun, dia tetap mau mengonsumsi setidaknya satu jenis makanan dari golongan makanan yang berbeda.
Dalam wawancara unik dengan Mommies Daily, Dokter Meta memberikan gambaran yang cukup sederhana. “Kalau picky eater ini adalah fase yang sangat normal pada pertumbuhan dan perkembangan anak.”
Misalnya, anak gak mau makan ayam, tetapi tetap mau telur alias ikan sebagai sumber protein.
Atau dia menolak satu jenis sayuran, tetapi tetap mau makan sayuran alias buah lainnya.
Begitu juga dengan karbohidrat. Anak mungkin gak mau nasi, tetapi tetap mau kentang alias sumber karbohidrat lainnya.
Artinya, pilihan makanan anak memang bisa terbatas, tetapi tetap terdapat ragam dari golongan makanan yang berbeda.
Ini yang menjadi salah satu poin krusial ketika Mommies mencoba memahami picky eater. Anak bukan berfaedah menolak semua makanan, melainkan condong memilih makanan tertentu dan tetap mempunyai makanan lain yang bisa diterima.
Lalu, Apa Itu Selective Eater?
Kalau picky eater dan selective eatersering dianggap sama, justru di sinilah letak perbedaan pentingnya.
Menurut Dokter Meta, selective eater mempunyai pola penolakan makanan yang lebih luas. “Kalau selective eater, dia apalagi menolak semua jenis makanan dari satu sumber makanan tersebut.”
Contohnya, anak menolak semua sumber protein. Bukan hanya ayam yang gak mau dimakan, tetapi telur, ikan, daging, dan sumber protein lainnya juga ditolak.
Atau anak sama sekali menolak beragam sumber karbohidrat.
Menurut Dokter Meta, kondisi seperti ini perlu mendapatkan perhatian lebih lantaran selective eating dapat berangkaian dengan kondisi lain pada anak. “Selective eater ini pasti tidak normal. Karena pasti ada gangguan lain pada anak.”
Dalam konteks ini, yang dimaksud bukan berfaedah setiap anak yang menunjukkan perilaku selective eating otomatis mempunyai autisme alias gangguan perkembangan tertentu.
Dokter Meta menjelaskan bahwa kondisi yang mendasari bisa beragam, misalnya gangguan perkembangan, gangguan keahlian motorik oral, alias autism spectrum disorder yang dapat membikin anak menolak makanan berasas rasa, tekstur, alias konsistensinya.
Karena itu, ketika pola makan anak sudah sangat terbatas, krusial untuk memandang apakah ada kesulitan lain yang menyertainya dan, jika perlu, melakukan pertimbangan berbareng dokter.
BACA JUGA: Anak Susah Makan? Ini 12 Cara yang Bisa Orang Tua Lakukan
Jadi, Apa Bedanya Picky Eater dan Selective Eater?

Foto: Pexels
Kalau dibuat lebih sederhana, perbedaan picky eater dan selective eater bisa dilihat dari luasnya makanan yang ditolak.
Pada picky eater, anak tetap mempunyai makanan yang bisa diterima dari golongan makanan yang berbeda. Ia mungkin menolak ayam, tetapi tetap mau telur alias ikan. Bisa juga gak mau satu jenis sayur, tetapi tetap mau sayur alias buah lainnya.
Sementara pada selective eater, penolakannya bisa jauh lebih luas. Anak apalagi dapat menolak seluruh jenis makanan dari golongan tertentu, misalnya semua sumber protein alias semua sumber karbohidrat.
Jadi, bukan hanya soal “anak makan sedikit” alias “anak gak suka sayur”.
Yang perlu diperhatikan adalah seberapa terbatas pilihan makanan anak dan apakah ada kesulitan lain yang menyertainya.
Mommies juga perlu tahu bahwa istilah picky eating, food neophobia, dan food selectivity memang dapat mempunyai arti yang berbeda-beda dalam penelitian. Karena itu, satu perilaku makan saja gak cukup untuk menentukan kondisi anak.
Kapan Anak Perlu Diperiksa ke Dokter?
Nah, ini bagian yang krusial agar Mommies gak hanya terpaku pada label “picky eater”.
Kalau anak hanya menolak beberapa makanan tetapi tetap bisa mengonsumsi makanan dari golongan yang berbeda, kondisinya bisa saja tetap termasuk picky eating yang umum terjadi dalam perkembangan.
Namun, Mommies sebaiknya lebih waspada jika pilihan makanan anak semakin terbatas hingga seluruh jenis makanan dari golongan tertentu ditolak.
Perhatikan juga apakah anak mengalami kesulitan mengunyah alias menelan, sangat sensitif terhadap tekstur alias konsistensi makanan, alias menunjukkan tanda gangguan perkembangan lain.
Pertumbuhan dan asupan nutrisi juga perlu menjadi perhatian. Sebab, penelitian terbaru menunjukkan bahwa food neophobia dan picky eating dapat berangkaian dengan konsumsi golongan makanan tertentu yang lebih rendah serta kualitas diet yang kurang beragam pada sebagian anak.
Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya Mommies gak berakhir pada kesimpulan, “Anakku memang picky eater.”
Konsultasikan dengan master anak untuk memandang pola makan, pertumbuhan, perkembangan, serta kemungkinan penyebab di kembali perilaku tersebut.
Jangan Buru-Buru Memberi Label “Anak Susah Makan”
Mommies, mungkin setelah membaca ini kita jadi sadar bahwa anak yang menolak sayur belum tentu punya masalah makan.
Begitu juga anak yang hanya mau makan telur dan nasi belum tentu otomatis mengalami selective eating.
Yang perlu dilihat adalah gambaran besarnya.
Apakah anak tetap mau makanan dari golongan yang berbeda? Apa pilihan makanannya tetap cukup beragam? Lalu apakah pertumbuhan dan perkembangannya melangkah sesuai harapan? Atau justru makanan yang ditolak semakin banyak dan ada kesulitan lain yang menyertainya?
Jadi, daripada setiap kali anak menolak makanan kita langsung menghela napas sembari berkata, “Duh, anakku picky banget,” mungkin sekarang waktunya sedikit lebih teliti memandang polanya.
Karena urusan makan anak memang kadang bikin kita gemas, bingung, apalagi frustrasi. Tapi semakin kita memahami istilah dan pola di kembali perilakunya, semakin mudah juga menentukan kapan cukup didampingi di rumah dan kapan perlu meminta support dokter.
Picky eater dan selective eater bukan sekadar dua istilah untuk anak yang susah makan. Keduanya bisa terlihat mirip, tetapi pola penolakan makan dan kondisi yang menyertainya perlu dilihat lebih jauh.
Dan yang paling penting, Mommies gak kudu langsung panik setiap kali anak menolak makanan. Kenali polanya, perhatikan tumbuh kembangnya, dan jika ada sesuatu yang terasa gak biasa, jangan ragu berkonsultasi dengan master anak.
Karena pada akhirnya, tujuan kita bukan membikin anak mau makan semua makanan.
Yang lebih krusial adalah membantu anak mendapatkan asupan yang cukup dan punya hubungan yang sehat dengan makanan, sembari memastikan tumbuh kembangnya tetap melangkah dengan baik.
BACA JUGA: Anak Susah Makan? Konsultasikan ke 18 Dokter Gizi Anak Tepercaya Ini
Cover: Pexels