Jakarta -
Setelah Si Kecil lahir, bukan berfaedah tubuh Bunda langsung kembali seperti sebelum hamil. Justru, ada masa pemulihan yang cukup panjang setelah persalinan. Mulai dari rahim yang perlahan mengecil, darah nifas, luka persalinan, perubahan hormon, sampai kondisi emosional yang naik turun.
Periode inilah yang dikenal sebagai masa postpartum alias masa setelah melahirkan. Lantas, berapa lama sebenarnya masa postpartum berlangsung?
Berapa lama masa postpartum berlangsung?
Secara umum, enam minggu pertama setelah melahirkan merupakan periode krusial dalam masa postpartum alias postnatal. World Health Organization (WHO) secara unik memberikan rekomendasi perawatan ibu dan bayi selama enam minggu pertama setelah persalinan. Namun, Bunda perlu tahu bahwa enam minggu bukan berfaedah tubuh sudah pulih sepenuhnya.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) memandang masa postpartum sebagai proses yang berkelanjutan. ACOG merekomendasikan kontak dengan tenaga kesehatan dalam tiga minggu pertama setelah persalinan dan pemeriksaan postpartum yang komprehensif paling lambat 12 minggu setelah melahirkan.
Jadi, proses pemulihan setiap Bunda bisa berbeda. Ada yang mulai merasa lebih segar dalam beberapa minggu, tetapi ada pula yang tetap mengalami perubahan bentuk dan emosional hingga berbulan-bulan.
Apa yang terjadi pada tubuh Bunda selama postpartum?
Setelah melahirkan, tubuh Bunda mengalami beragam perubahan untuk kembali ke kondisi sebelum hamil.
1. Rahim perlahan kembali ke ukuran semula
Selama kehamilan, rahim membesar untuk memberikan ruang bagi pertumbuhan Si Kecil. Setelah persalinan, rahim secara berjenjang berkontraksi dan mengecil.
Proses ini disebut involusi uterus. Bunda mungkin merasakan kram alias mulas, terutama ketika menyusui. Hal ini dapat terjadi lantaran hormon oksitosin membantu rahim berkontraksi.
2. Darah nifas mulai keluar
Bunda juga bakal mengalami lokia alias darah nifas, ialah keluarnya darah dan jaringan dari rahim setelah melahirkan. Pada awalnya, lokia biasanya berwarna merah dan jumlahnya lebih banyak. Seiring waktu, jumlahnya bakal berkurang dan warnanya dapat berubah sebelum akhirnya berhenti.
Perubahan ini merupakan bagian normal dari pemulihan. Namun, jika perdarahan tiba-tiba sangat banyak alias disertai pusing, lemas, demam, maupun nyeri hebat, Bunda perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.
3. Luka persalinan memerlukan waktu untuk sembuh
Bunda yang melahirkan secara normal mungkin mengalami robekan perineum alias menjalani episiotomi. Sementara itu, persalinan caesar meninggalkan luka sayatan di perut.
Luka tersebut memerlukan waktu untuk sembuh dan perlu dirawat dengan baik. WHO merekomendasikan pemeriksaan kondisi perineum maupun luka operasi caesar sebagai bagian dari perawatan setelah melahirkan.
4. Hormon mengalami perubahan
Setelah plasenta keluar, kadar hormon kehamilan mengalami perubahan secara drastis. Kondisi ini dapat memengaruhi suasana hati Bunda.
Tidak sedikit ibu yang merasa lebih sensitif, mudah menangis, lelah, alias kewalahan setelah melahirkan. Perubahan emosi ringan dapat terjadi, tetapi Bunda tetap perlu memperhatikan kondisi mental.
WHO merekomendasikan perhatian terhadap depresi dan kekhawatiran selama masa postpartum lantaran kesehatan mental merupakan bagian krusial dari pemulihan setelah persalinan.
Tahapan masa postpartum dari minggu ke minggu
Setiap Bunda tentu mempunyai pengalaman yang berbeda. Namun, secara umum, gambaran pemulihannya bisa seperti berikut.
Minggu pertama
Tubuh tetap berada dalam fase pemulihan awal. Darah nifas biasanya tetap keluar, rahim mulai berkontraksi, dan luka persalinan tetap terasa nyeri alias tidak nyaman.
Di waktu yang sama, Bunda juga mulai beradaptasi dengan menyusui, perubahan pola tidur, serta kebutuhan Si Kecil yang kudu dirawat nyaris sepanjang waktu.
Minggu kedua
Perdarahan nifas umumnya mulai berkurang. Rasa nyeri akibat persalinan juga perlahan membaik, meskipun beberapa Bunda tetap merasa mudah lelah. Bunda tetap perlu memperhatikan kondisi luka, perdarahan, demam, dan perubahan suasana hati.
Minggu ketiga hingga kelima
Sebagian Bunda mulai merasa lebih nyaman melakukan kegiatan sehari-hari. Namun, bukan berfaedah tubuh sudah sepenuhnya pulih.
Kelelahan, perubahan berat badan, perubahan payudara, masalah tidur, hingga perubahan emosional tetap dapat dirasakan.
Sekitar minggu keenam
Minggu keenam sering menjadi salah satu waktu krusial untuk pemeriksaan postpartum. Dokter alias tenaga kesehatan dapat mengevaluasi pemulihan tubuh, kondisi luka, perdarahan, menyusui, kesehatan mental, hingga kebutuhan kontrasepsi.
Namun, jika Bunda tetap mempunyai keluhan setelah enam minggu, bukan berfaedah kudu dibiarkan. Pemeriksaan lanjutan tetap dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Apakah setelah 6 minggu Bunda sudah pulih sepenuhnya?
Belum tentu, Bunda. Enam minggu lebih tepat dipahami sebagai periode krusial dalam perawatan awal setelah melahirkan, bukan pemisah waktu absolut bahwa seluruh tubuh Bunda sudah kembali seperti sebelum hamil.
ACOG apalagi memperkenalkan konsep “trimester keempat” untuk menggambarkan periode setelah persalinan. Dalam panduannya, perawatan postpartum tidak hanya dilakukan melalui satu kali kunjungan pada minggu keenam, tetapi merupakan proses berkepanjangan hingga setidaknya 12 minggu dan dapat berjalan lebih lama sesuai kondisi ibu.
Artinya, jika setelah enam minggu Bunda tetap merasa mudah lelah, belum nyaman beraktivitas seperti biasa, mengalami perubahan tubuh, alias tetap beradaptasi secara emosional, kondisi tersebut tidak otomatis berfaedah ada masalah. Yang terpenting adalah Bunda tetap mendapatkan pemantauan dan support medis jika diperlukan.
Kapan ibu perlu segera ke dokter?
Jangan menunggu agenda kontrol berikutnya jika muncul tanda ancaman setelah melahirkan.
Bunda perlu segera mendapatkan pertolongan medis jika mengalami perdarahan sangat banyak, demam, nyeri hebat, luka persalinan yang tampak terinfeksi, sesak napas, sakit kepala berat, gangguan penglihatan, kejang, alias perubahan kondisi mental yang sangat mengkhawatirkan.
Gangguan kesehatan mental setelah melahirkan juga tidak boleh disepelekan. Jika Bunda merasa sangat sedih, resah berlebihan, tidak bisa menjalani kegiatan sehari-hari, alias mempunyai pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi, segera cari support profesional.
WHO merekomendasikan perawatan setelah melahirkan dimulai pada 24 jam pertama, kemudian dilanjutkan dengan kontak pada 48–72 jam, hari ke-7–14, dan sekitar minggu keenam.
Sementara itu, ACOG merekomendasikan kontak dengan tenaga kesehatan dalam tiga minggu pertama dan pemeriksaan postpartum komprehensif paling lambat 12 minggu setelah persalinan.
Pemeriksaan tersebut bukan hanya untuk mengecek luka persalinan. Dokter juga dapat mengevaluasi tekanan darah, perdarahan, pemulihan rahim, kondisi menyusui, kesehatan mental, kontrasepsi, hingga masalah kesehatan lain yang mungkin muncul setelah melahirkan.
Berapa lama masa postpartum berlangsung?
Secara umum, enam minggu pertama setelah melahirkan merupakan periode postpartum alias postnatal yang sangat penting. Namun, proses pemulihan tubuh Bunda tidak mempunyai pemisah waktu yang sama untuk setiap orang.
WHO menggunakan enam minggu pertama sebagai periode krusial untuk perawatan setelah melahirkan, sementara ACOG menekankan bahwa perawatan postpartum merupakan proses berkepanjangan dan pemeriksaan komprehensif dilakukan paling lambat 12 minggu setelah persalinan.
Jadi, Bun, jangan merasa kudu langsung kembali seperti sebelum mengandung hanya lantaran sudah melewati 6 minggu. Tubuh baru saja melalui perjalanan panjang selama kehamilan dan persalinan. Beri waktu untuk pulih, cukup rehat sebisa mungkin, konsumsi makanan bergizi, minta support ketika membutuhkan, dan jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika ada keluhan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)