Jangan Jadi Muslim Rajin Ibadah tapi Kasar kepada Sesama

Jangan Jadi Muslim Rajin Ibadah tapi Kasar kepada Sesama

 Jangan Menjadi Muslim yang Rajin Ibadah tetapi Kasar kepada SesamaJangan Jadi Muslim Rajin Ibadah tapi Kasar kepada Sesama

Khutbah Jumat ini mengajak kita menelaah kembali makna ibadah dalam Islam. Kesalehan sejati tidak hanya diukur dari intensitas ritual, melainkan harus tampak pula lewat tutur kata yang santun, hati yang penuh kasih, dan sikap yang memberi ketenangan bagi orang lain.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِبَادَاتِ مَوَاسِمًا لِلْتَّقْوَىٰ وَالْبَرَكَاتِ، وَجَعَلَ الشَّهْوَاتِ عَلَى بَعْضٍ بِالْحَكَمِ وَالْبَرَكَاتِ، وَجَعَلَ الشُّهُورَ شَهْرَانِ شَهْرٍ السَّلَامِ وَالِاعْتِدَالِ۔ اَلشُّهُودُ أَنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ﷺ۔

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menunaikan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan harus terlihat dalam hubungan kita dengan sesama; ibadah yang benar seharusnya memperhalus lisan, memperlembut perilaku, dan menumbuhkan empati.

Marilah kita renungkan bersama fenomena yang nyata: di satu sisi kesadaran beragama dan aktivitas keagamaan kian meningkat — masjid-masjid penuh, majelis ilmu berkembang, dan akses kajian agama semakin luas. Namun di sisi lain, sikap keras, saling menghakimi, dan ujaran kebencian justru makin sering muncul, termasuk di ruang digital.

Di sinilah persoalan penting: mengapa peningkatan praktik ibadah tidak selalu disertai perbaikan akhlak? Mengapa ada yang begitu khusyuk di hadapan Allah tetapi kasar terhadap manusia? Pertanyaan ini mengingatkan kita agar tidak memisahkan ibadah dari etika sosial yang menjadi tujuannya.

Sejak awal Al-Qur'an menegaskan keterkaitan ibadah kepada Allah dengan tanggung jawab sosial. Kesalehan ritual dan kesalehan sosial adalah dua aspek yang saling melengkapi. Ibadah yang benar mestinya melahirkan pribadi yang rendah hati, penyayang, dan bermanfaat bagi orang lain.

Allah Swt. berfirman:

اَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِۜ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۜ وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِۜ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَۜ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَۜ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَۜ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

Artinya; “Tahukah engkau orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat, ialah mereka yang lalai terhadap shalatnya, yang melakukan riya, dan enggan memberikan support kepada sesama.” (QS. Al-Ma’un [107]: 1–7).

Susunan ayat ini mengingatkan bahwa kerusakan keimanan sering bermula dari hilangnya kepedulian sosial. Allah menggambarkan mereka yang rutin beribadah namun hati dan perbuatannya jauh dari nilai-nilai kasih sayang yang seharusnya melahirkan ibadah itu.

Allah Swt. juga berfirman:

اِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

Artinya; “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan biadab dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 45).

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban ritual; ia berfungsi mendidik akhlak. Bila seseorang semakin rajin beribadah namun lisannya tetap melukai dan tindakannya menyakiti, berarti ibadahnya belum sepenuhnya menyentuh hati dan membentuk kepribadian yang mulia.

Rasulullah ﷺ pernah diberitahu tentang seorang wanita yang sangat tekun beribadah namun suka menyakiti tetangganya. Beliau bersabda:

هِىَ فِى النَّارِ

Artinya; “Dia berada di neraka.” (HR. Ahmad).

Dalam riwayat lain disebutkan seorang wanita yang ibadah sunnahnya lebih sedikit, tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangga dan gemar bersedekah. Rasulullah ﷺ berkata:

هِيَ فِى الْجَنَّةِ

Artinya; “Dia berada di surga.”

Hadis ini menegaskan bahwa banyaknya ibadah belum tentu menjadi tolok ukur utama keselamatan; akhlak kepada sesama justru menjadi penentu besar dalam pandangan Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (Muttafaq ‘Alaih).

Definisi ini menegaskan bahwa tanda keislaman terlihat dari kemampuan menghadirkan rasa aman bagi orang lain—tidak menakutkan, tidak menyakiti, dan menghormati hak-hak sesama.

Allah Swt. berfirman pula:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Artinya; “Maka berkah rahmat Allah engkau bertindak lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159).

Ayat ini menegaskan bahwa kelembutan adalah bagian dari metode dakwah dan akhlak kenabian. Ketaatan kepada Allah justru harus melahirkan kerendahan hati dan kelembutan dalam pergaulan sehari-hari, bukan sikap kasar atau merendahkan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbicara baik alias diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Pesan ini relevan sekali di era media sosial: lisan kini meluas menjadi komentar, unggahan, dan pesan yang dapat menjangkau banyak orang. Menjaga lisan berarti juga menjaga jari ketika menulis—setiap kata menandakan kualitas keimanan dan adab kita.

Semoga Allah menjadikan shalat dan ibadah kita sebagai pembentuk akhlak yang lembut, menahan lisan dari menyakiti, dan mendorong tindakan yang mendatangkan manfaat bagi sesama. آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِيمَا قَدَّمْنَا وَمَا تَأَخَّرْنَا مِنَ الْحَقِّ، وَنَسْأَلُ اللَّهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالسَّلاَمَةَ وَالثَّبَاتَ عَلَى الْحَقِّ، وَالْهُدَى وَالْثَّبَاتَ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ.

Khutbah Jumat II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ۔ اَلشُّهُودُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ﷺ۔

Wahai saudara-saudara, tentu kita rindu agar amal dan ibadah kita tidak hanya menjadi rutinitas ritual, melainkan membuahkan akhlak mulia. Iman yang benar menumbuhkan kasih sayang, kepedulian terhadap tetangga, dan kepekaan terhadap kaum yang membutuhkan.

Oleh karena itu, mari kita imani makna ibadah secara utuh: memperbaiki hubungan dengan Allah dan memperbaiki hubungan dengan manusia. Pelihara adab, hindari perkataan yang menyakiti, dan utamakan sikap ramah serta santun dalam setiap interaksi.

Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua agar ibadah yang kita lakukan menjadi penyebab kemaslahatan, memperkuat ukhuwah, dan menjadi jalan ampunan dan kemuliaan di dunia maupun akhirat. أَسْتَوْدِعُكُمُ اللَّهَ وَأَسْأَلُهُ لَنَا وَلَكُمْ التَّوْفِيقَ وَالثَّبَاتَ وَالْهُدَى.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّالِحِينَ وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا وَتَقَبَّلْ طَاعَاتِنَا، وَارْزُقْنَا الْقَلْبَ الْخَاشِعَ وَاللِّسَانَ الْذَّاكِرَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، فَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Artikel Lainnya Bincang Syariah