Jakarta -
Menyusui memang merupakan proses alami, tetapi bukan berfaedah selalu mudah bagi setiap ibu. Sebagian ibu bisa mengalami beragam tantangan, mulai dari produksi ASI yang dirasa kurang, pelekatan bayi yang sulit, hingga kondisi kesehatan tertentu yang dapat memengaruhi proses menyusui.
Kabar baiknya, peneliti sekarang mengembangkan perangkat skrining yang dapat membantu mengidentifikasi ibu yang berisiko mengalami kesulitan menyusui apalagi sejak masa kehamilan.
Penelitian tersebut dikembangkan oleh Dr Sharon Perrella dari Centre for Human Lactation Research and Translation, The University of Western Australia. Alat ini dirancang untuk membantu tenaga kesehatan mengenali aspek akibat laktasi yang sudah ada sebelum persalinan sehingga ibu bisa mendapatkan edukasi dan support lebih awal.
Kenapa kesulitan menyusui bisa diprediksi sejak hamil?
Menurut penelitian Perrella dan tim yang diterbitkan dalam Journal of Midwifery & Women's Health pada 2026, sejumlah kondisi yang sudah dimiliki ibu sejak sebelum alias selama kehamilan dapat berangkaian dengan akibat tidak memberikan ASI secara penuh setelah melahirkan.
Beberapa aspek yang diperhatikan dalam skrining antara lain glukosuria gestasional, polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS), indeks massa tubuh (BMI) sebelum mengandung yang tinggi, serta riwayat operasi payudara. Kondisi tersebut dapat berangkaian dengan masalah produksi ASI, termasuk produksi ASI yang lebih rendah.
Dengan mengetahui aspek akibat lebih awal, tenaga kesehatan dapat memberikan konseling laktasi secara lebih individual dan merencanakan support setelah persalinan. Artinya, skrining ini bukan untuk mengatakan bahwa seorang ibu pasti bakal kandas menyusui. Sebaliknya, hasil skrining dapat menjadi sirine agar ibu mendapatkan support lebih sigap jika memang membutuhkannya.
Bagaimana langkah kerja perangkat skrining ini?
Konsepnya cukup sederhana. Selama pemeriksaan kehamilan, tenaga kesehatan dapat menanyakan dan menilai sejumlah aspek yang berasosiasi dengan kesehatan ibu serta riwayat menyusui.
Informasi tersebut kemudian digunakan untuk mengidentifikasi apakah ibu mempunyai aspek yang dapat meningkatkan kemungkinan mengalami masalah laktasi.
Jika ditemukan risiko, ibu dapat diarahkan untuk mendapatkan edukasi menyusui alias berkonsultasi dengan konselor laktasi sebelum persalinan. Dengan begitu, ibu tidak kudu menunggu sampai mengalami masalah setelah bayi lahir untuk mencari bantuan.
Penelitian tersebut menyebut bahwa skrining sejak masa antenatal dapat membantu tenaga kesehatan memberikan konseling laktasi yang lebih individual, edukasi, serta perencanaan support menyusui setelah persalinan.
Bukan hanya kondisi bentuk yang perlu diperhatikan
Kesulitan menyusui sebenarnya cukup kompleks. Faktor bentuk memang penting, tetapi pengalaman ibu, kondisi psikologis, support sosial, hingga proses persalinan juga dapat berpengaruh.
Studi yang diterbitkan dalam Maternal & Child Nutrition pada 2026 menyoroti bahwa beragam faktor, termasuk stres psikososial, gangguan metabolik, dan intervensi saat persalinan, dapat berangkaian dengan gangguan laktasi. Peneliti juga menilai tetap dibutuhkan perangkat diagnostik yang lebih objektif untuk membantu mengidentifikasi masalah menyusui secara tepat.
Karena itu, skrining sebaiknya tidak dipahami sebagai langkah untuk menentukan apakah seorang ibu "bisa" alias "tidak bisa" menyusui. Hasilnya justru dapat menjadi dasar untuk menentukan support apa yang paling dibutuhkan ibu.
Gagasan melakukan skrining sebelum persalinan sebenarnya bukan perihal yang betul-betul baru. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Perinatal Education pada 2019 menggunakan Breastfeeding Attrition Prediction Tool (BAPT) untuk mengidentifikasi ibu yang berisiko berakhir menyusui lebih awal.
Hasilnya menunjukkan bahwa ibu dengan skor tertentu yang mengindikasikan akibat lebih tinggi condong mempunyai intensitas menyusui yang lebih rendah pada delapan minggu setelah persalinan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa skrining prenatal berpotensi membantu tenaga kesehatan mengenali ibu yang memerlukan support tambahan.
Penelitian lain oleh Kronborg dan Vaeth yang diterbitkan dalam Nutrients pada 2019 juga mengembangkan dan memvalidasi Breastfeeding Score, perangkat sederhana yang menggunakan beberapa pertanyaan mengenai pendidikan menyusui, pengalaman menyusui sebelumnya, kepercayaan diri, dan rasa kondusif ibu.
Dalam golongan validasi, perangkat tersebut menunjukkan keahlian yang cukup baik untuk membedakan ibu yang berisiko berakhir menyusui lebih awal.
Ada juga perangkat skrining untuk ibu setelah melahirkan
Selain skrining sejak kehamilan, peneliti juga mengembangkan perangkat yang bisa digunakan pada periode awal menyusui.
Studi yang diterbitkan dalam International Breastfeeding Journal pada 2025 mengembangkan Breastfeeding Education and Screening Tool (BEST), ialah perangkat skrining berdikari untuk membantu ibu mengenali masalah menyusui.
Awalnya perangkat tersebut terdiri dari enam aspek, termasuk posisi menyusui, corak puting, tetek bengkak, pelekatan bayi, keahlian bayi menelan, dan asupan bayi. Setelah proses validasi, perangkat tersebut menjadi lima item.
Dalam penelitian terhadap 58 ibu, sebagian besar peserta menilai perangkat tersebut mudah dipahami, relevan, dan bermanfaat. Analisis ROC menunjukkan nilai area under the curve (AUC) sebesar 0,79, dengan sensitivitas 86 persen dan spesifisitas 55 persen pada titik pemisah tertentu untuk mengidentifikasi kebutuhan rujukan ke konsultan laktasi.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa perangkat tersebut tetap memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keahlian prediktifnya dalam praktik klinis.
Adanya aspek akibat bukan berfaedah ibu pasti bakal mengalami masalah menyusui. Justru, info tersebut dapat membantu ibu dan tenaga kesehatan mempersiapkan strategi sejak lebih awal.
Misalnya, ibu yang mempunyai aspek akibat tertentu bisa mendapatkan edukasi tentang teknik menyusui, mempelajari posisi dan pelekatan yang tepat, berbincang mengenai riwayat kesehatan dengan master alias bidan, hingga mengetahui kapan perlu meminta support konselor laktasi.
Yang paling penting, ibu tidak perlu merasa kandas ketika proses menyusui rupanya tidak melangkah sesuai harapan. Kesulitan menyusui merupakan kondisi yang cukup kompleks dan memerlukan dukungan, bukan sekadar kemauan ibu.
Dengan adanya perangkat skrining seperti yang sedang dikembangkan para peneliti, harapannya masalah menyusui dapat dikenali lebih cepat, ditangani lebih tepat, dan ibu mendapatkan support apalagi sebelum Si Kecil lahir.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)