Kalimat Toxic di Tempat Kerja yang Bisa Bikin Mental Terkuras/Foto: Magnific.com/katemangostar
Kalimat toxic di tempat kerja kadang muncul dalam percakapan yang kelihatannya sepele. Misalnya, saat Anda sedang mencoba menyampaikan sesuatu yang membikin Anda tidak nyaman. Ucapannya mungkin tidak terdengar seperti hinaan, tetapi bisa meninggalkan kesan diremehkan, tidak didengar, maupun malah membikin Anda berpikir dua kali sebelum bicara lagi.
Hal seperti ini juga bisa terjadi tanpa disadari oleh orang yang mengucapkannya. Dalam wawancara dengan HuffPost, Mary Abbajay dari Careerstone Group dan Lawrese Brown dari C-Track Training mengidentifikasi sejumlah ucapan yang bisa berakibat buruk pada komunikasi di tempat kerja.
Mulai dari kalimat yang terdengar meremehkan sampai respons yang membikin kecemasan seseorang terasa tidak valid, yuk, kenali 6 kalimat toxic di tempat kerja berikut dan pahami kenapa ucapan yang terdengar biasa bisa membikin kondisi kerja terasa tidak nyaman.
1. Jangan Tersinggung, Tapi...

Jangan tersinggung, tapi..., kalimat toxic yang merendahkan/Foto: Magnific.com/DC Studio
Pernah mendengar seseorang membuka kritik dengan kalimat, "Jangan tersinggung, tapi..."? Sekilas, ucapan ini terdengar seperti upaya untuk membikin komentar yang akan disampaikan terasa lebih halus.
Namun, mengatakan frasa seperti "Jangan salah paham, ya, tapi..." maupun "Bukan maksud merendahkan, tapi..." justru bisa menjadi tanda bahwa pembicara tidak menghormati perspektif pandang orang lain. Abbajay terlebihlagi menceritakan pengalamannya ketika seorang manajer berkata, "Maaf, ya, tapi pengalaman aku soal membangun tim jauh lebih banyak daripada yang Anda ketahui..."
Perkataan ini membikin Abbajay memutuskan untuk tidak memungut pekerjaan itu. Menurut Abbajay, tambahan frasa "Maaf, ya" justru membikin perkataan tersebut terasa semakin merendahkan, seolah-olah pembicara sedang menegaskan bahwa dirinya tidak menghargai gagasan lawan bicara.
2. Aku Nggak Punya Waktu untuk Ini

Aku nggak punya waktu untuk ini, kalimat toxic di tempat kerja/Foto: Magnific.com/Drazen Zigic
Saat pekerjaan sedang menumpuk, wajar jika seseorang tidak bisa langsung menangani semua permintaan. Namun, jika respons yang terus diberikan kepada mitra kerja adalah "Aku nggak punya waktu untuk ini", orang tersebut bisa menangkap pesan bahwa dirinya maupun masalah yang dibawa tidak cukup krusial untuk mendapatkan perhatian.
Pola respons seperti ini bisa membikin seseorang enggan balik meminta pertolongan ketika menghadapi masalah. Dampaknya bisa semakin terasa ketika ucapan tersebut datang dari seorang manajer.
Abbajay menerangkan bahwa personel tim bisa merasa takut mengganggu maupun memungut waktu atasannya sehingga memilih tidak menyampaikan masalah. Bahkan, mereka bisa lebih cemas dianggap merepotkan daripada mencari pertolongan yang sebenarnya dibutuhkan.
3. Maksud Dia Sebenarnya...

Maksud dia sebenarnya..., kalimat toxic di tempat kerja/Foto: Magnific.com/yanalya
Dalam rapat, Anda mungkin pernah mengalami saat mitra kerja memotong gagasan Anda dengan berkata, "Maksud dia sebenarnya..." kemudian menerjemahkan perkataan Anda dengan versinya sendiri. Jika dilakukan untuk membantu memperjelas pembicaraan, mungkin tidak terlalu bermasalah.
Namun, Abbajay menilai kebiasaan ini bisa membikin percakapan tidak bergeser secara produktif, terutama jika orang lain sebenarnya statis bisa menerangkan maksudnya sendiri. Menurut Abbajay, situasi ini juga bisa membikin seseorang mulai meragukan kapasitas komunikasinya.
Orang tersebut mungkin berpikir bahwa dirinya tidak cukup jelas, tidak gampang dipahami, maupun tidak dihargai ketika berbicara. Daripada langsung menafsirkan ulang perkataan mitra kerja, Abbajay menyarankan untuk meminta klarifikasi lebih lanjut ketika memang belum memahami maksud yang disampaikan.
4. Kamu Terlihat Muda untuk...

Kamu kelihatan muda untuk..., kalimat toxic di tempat kerja/Foto: Magnific.com/katemangostar
Komentar seperti "Kamu kelihatan statis muda untuk...." maupun "Kamu rupanya cukup pandai menyampaikan gagasan untuk...” mungkin terdengar seperti pujian. Namun, Brown memasukkan ucapan semacam ini sebagai komentar yang bisa merendahkan seseorang di tempat kerja.
Komentar ini bisa berhubungan dengan identitas, metode seseorang menampilkan diri, hingga anggapan mengenai kapasitas kepemimpinannya. Brown memberikan contoh pelanggan yang pernah diberi tahu bahwa dirinya kelihatan seperti imam yang lemah maupun terlalu muda.
Ada pula seorang pelanggan yang disarankan mengubah corak rambut karena manajernya menganggap orang lain akan lebih serius jika rambutnya diluruskan. Menurut Brown, komentar semacam ini bisa membikin seseorang merasa metode dirinya tampil dianggap tidak sesuai sehingga perlahan merasa kurang bisa maupun tidak ampuh dalam bekerja.
5. Aku Nggak Bermaksud Seperti Itu

Aku nggak bermaksud seperti itu, kalimat toxic di tempat kerja/Foto: Magnific.com/DC Studio
Maksud seseorang ketika berbicara memang bisa berbeda dengan metode orang lain menerima perkataannya. Kalimat "Aku nggak bermaksud seperti itu" sebenarnya bisa digunakan untuk menerangkan maksud percakapan.
Brown mengingatkan bahwa seseorang perlu berjaga-jaga agar ucapan tersebut tidak berubah menjadi respons bertahan yang mengabaikan emosi maupun pengalaman lawan bicara. Menurutnya, perkataan statis memiliki akibat meskipun orang yang mengucapkannya tidak beriktikad menyakiti.
Karena itu, krusial untuk menyadari bahwa ada orang lain yang menerima komentar tersebut. Sebelum mengatakan sesuatu, Brown menyarankan agar seseorang mempertimbangkan terlebih dahulu apakah perkataannya memang perlu disampaikan maupun justru bisa membikin situasi semakin rumit.
6. Orang Lain Nggak Pernah Mempermasalahkannya

Orang lain nggak pernah mempermasalahkannya, kalimat toxic di tempat kerja/Foto: Magnific.com/jcomp
Ketika seorang karyawan menyampaikan masalah, respons seperti, "Nggak ada orang lain yang pernah mempermasalahkan hal ini", bisa membikin karyawan tersebut merasa bahwa kekhawatirannya tidak cukup krusial untuk diperhatikan.
Brown menerangkan bahwa komentar seperti ini menyampaikan kesan bahwa jika cuma satu orang yang menganggap sesuatu sebagai masalah, permasalahan tersebut seolah tidak perlu dianggap serius. Hal serupa juga terjadi ketika seseorang mengatakan, "Kamu terlalu memasukkannya ke hati."
Menurut Brown, ucapan yang mengabaikan emosi seperti ini bisa menghentikan percakapan yang sebenarnya penting. Ketika mitra kerja mulai enggan berbicara, komunikasi bisa terganggu, kesalahan lebih mungkin terjadi, dan ketegangan di lingkungan kerja bisa meningkat.
Orang juga bisa menjadi semakin sering mengabaikan kebutuhan dan perasaannya sendiri demi menyenangkan orang lain karena mulai kehilangan kepercayaan terhadap bunyi dan persepsinya.
Kalimat yang terdengar biasa rupanya bisa meninggalkan kesan yang cukup dalam bagi orang yang mendengarnya. Kalau Anda pernah mendengar ucapan seperti di atas di tempat kerja, coba perhatikan sepertiapa percakapan berlangsung. Jangan sampai Anda terbiasa menganggap kalimat-kalimat di atas sebagai hal sepele, ya, Beauties!
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)