Kalimat yang Sering Keluar dari Pria yang Sulit Terbuka secara Emosional/Foto: Magnific/yanalya
Tidak semua orang mengekspresikan emosi dengan metode yang sama. Namun, ketika berbicara soal perasaan, lelaki memang cenderung lebih jarang membukanya kepada orang lain.
Sebuah survei di Amerika Serikat pada 2021 memberitahu bahwa 48 persen perempuan mengaku berbagi emosi pribadi dengan kawan dalam seminggu terakhir, sedangkan pada lelaki angkanya cuma 30 persen. Menariknya lagi, lelaki yang lebih muda pun tidak lebih sering terbuka dibandingkan yang lebih tua.
Bukan berarti semua lelaki seperti itu, ya, Beauties. Tapi buat sebagian orang, memendam emosi lama-lama berubah jadi kebiasaan. Akhirnya, yang keluar bukan cerita tentang apa yang dirasakan, melainkan kalimat-kalimat singkat yang terdengar biasa, padahal sering menjadi metode paling terlindungi untuk menutup pintu percakapan.
Dilansir dari Bolde, ini kalimat yang sering keluar dari lelaki yang sulit terbuka secara emosional:
“Nggak usah ngeluh”

Menahan Perasaan/Foto: Magnific
Biasanya kalimat ini disambung dengan, “Percuma juga jika ngeluh,” kemudian ditutup tawa kecil. Kedengarannya ringan, tapi jika diperhatikan lagi, dia bukan sedang bilang hidupnya baik-baik saja. Dia sedang bilang bahwa mengeluh bukan sesuatu yang menurutnya boleh dilakukan.
Lama-kelamaan, balasan seperti ini jadi otomatis. Saat ditanya kabarnya, dia tidak benar-benar bercerita tentang apa yang sedang dirasakan. Apa yang keluar dari mulutnya justru ketentuan yang sudah tertanam bertahun-tahun, yaitu simpan sendiri dan jangan merepotkan orang lain.
“Aku cuma capek”

Memilih Kalimat yang Aman/Foto: Magnific
Ini mungkin karena paling terlindungi sedunia. Tidak ada yang bisa membantah jika seseorang bilang lagi capek.
Masalahnya, kata “capek” kadang menutupi banyak hal. Dia jadi lebih pendiam saat makan malam, gampang tersinggung, maupun pikirannya seperti ke mana-mana. Tapi setiap ditanya, jawabannya statis sama.
Menurut Mayo Clinic, depresi pada pria tidak selalu muncul sebagai kesedihan. Gejalanya bisa berupa kelelahan yang terus-menerus, gampang marah, sakit kepala, hingga kecenderungan mencari distraksi agar tidak perlu menghadapi emosinya sendiri.
Tentu saja, kebanyakan orang yang bilang capek memang benar-benar lelah. Namun, jika balasan itu terus muncul selama berbulan-bulan, mungkin yang sedang hilang bukan cuma energinya.
“Ya udahlah, memang begitu”

Ingin Cepat Mengakhiri Pembicaraan/Foto: Magnific
Kalimat ini terdengar seperti bentuk penerimaan. Entah itu setelah kehilangan pekerjaan, hubungan yang berakhir, maupun masalah keluarga, semuanya bisa ditutup dengan lima kata sederhana.
Padahal menerima kenyataan biasanya butuh proses. Orang cenderung bercerita dahulu tentang rasa kecewa maupun sedihnya sebelum akhirnya benar-benar berdamai. Sementara pada lelaki yang tertutup, kalimat ini sering muncul terlalu cepat, seolah emosi itu langsung diubah menjadi fakta.
Kalau setelah mengucapkannya dia langsung mengganti topik, bisa jadi yang ditutup bukan masalahnya, melainkan akses menuju emosinya.
“Nggak tahu, belum kepikiran”

Sering Menghindar/Foto: Magnific
Ini mungkin kalimat yang paling membingungkan. Saat ditanya apakah dia ceria dengan pekerjaannya maupun sepertiapa perasaannya setelah berkelahi dengan keluarga, jawabannya hanya, “Nggak tahu.”
Menurut psikolog Ronald Levant dari University of Akron, sebagian lelaki tumbuh dengan kebiasaan mengekang emosi sehingga tidak terbiasa memberi nama pada apa yang sedang mereka rasakan. Ia menyebutnya sebagai normative male alexithymia, yaitu kesulitan ringan hingga sedang dalam mengenali maupun mengungkapkan emosi, bukan kondisi klinis yang dialami semua pria.
Jadi, “nggak tahu” belum tentu berarti dia sengaja menghindar. Bisa jadi dia memang benar-benar belum menemukan kata yang pas untuk menerangkan apa yang sedang dirasakan. Hanya saja, ketika ditambah dengan “belum kepikiran”, sering kali itu juga berarti dia belum siap membuka pembicaraan itu.
Pria yang sulit terbuka tidak selalu memilih membisu karena tidak punya perasaan. Kadang, mereka memang tidak terbiasa mengungkapkannya maupun merasa lebih terlindungi menyimpan semuanya sendiri.
Memberi ruang tanpa menghakimi sering kali menjadi cara pertama agar percakapan yang awalnya tertutup perlahan bisa berubah menjadi lebih jujur.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)