Kandungan ASI Ini Terbukti Sudah Mampu Lawan Bakteri Jahat sejak Zaman Purba

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 40x dilihat
Kandungan ASI Ini Terbukti Sudah Mampu Lawan Bakteri Jahat sejak Zaman Purba

Bagikan Postingan

Jakarta -

Air Susu Ibu (ASI) populer dengan kandungan nutrisi dan manfaatnya dalam mendukung daya tahan tubuh bayi. Tahukah Bunda bahwa salah satu protein pelindung di dalamnya rupanya sudah memiliki kapasitas melawan mikroba sejak era purba?

Protein yang dimaksud adalah laktoferin, Bunda. Melansir StudyFinds, para ilmuwan menemukan bahwa bagiankecil pelawan mikroba dalam protein ini sudah berguna sekitar 160 juta tahun lalu, ketika dinosaurus statis hidup. Ini tercantum dalam riset yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Biology. 

Untuk mengetahuinya, para ilmuwan mengestimasi formasi bagiankecil protein tersebut pada mamalia purba berdasarkan keterangan genetik. Bagian protein itu kemudian dibuat balik dan diuji di laboratorium untuk melihat kemampuannya melawan bakteri.


Mengenal laktoferin, kandungan ASI yang membantu melindungi bayi

Laktoferin merupakan protein pengikat zat besi. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), protein ini memiliki sifat bakteriostatik, yaitu menghalangi pertumbuhan bakteri.

Caranya dengan mengikat zat besi yang dibutuhkan sejumlah mikroba untuk tumbuh, termasuk Staphylococcus dan Escherichia coli. Ketika akses terhadap zat besi terbatas, pertumbuhan mikroba tersebut dapat terhambat.

IDAI juga menerangkan bahwa kadar laktoferin paling tinggi terdapat pada kolostrum, yaitu ASI mula yang keluar setelah persalinan. Selain laktoferin, ASI hamil elemen pelindung lain, seperti lisozim, sel kekebalan, dan antibodi. Jadi, perlindungannya melibatkan banyak elemen yang saling mendukung, Bunda.

Penelitian menelusuri kapasitas antibakteri sejak era purba

Penelitian yang ditulis Titas Sil berbareng tim, termasuk Matthew F. Barber dari University of Oregon, diterbitkan pada 25 Agustus 2026. Tim menggunakan keterangan genetik untuk mengestimasi urutan protein leluhur, kemudian membikin fragmennya di laboratorium. Pendekatan ini membantu mereka menelusuri fluktuasi fungsi protein sepanjang evolusi.

Fokusnya adalah laktoferisin, bagiankecil kecil di dalam laktoferin yang memiliki aktivitas antimikroba. Hasil pengetesan memberitahu bahwa varian leluhur laktoferisin sudah dapat merusak membran bakteri. Pada beberapa varian yang muncul kemudian, kapasitas membunuh bakterinya menjadi lebih kuat.

Bagaimana bagiankecil protein ini melawan bakteri?

Laktoferin memiliki lebih dari satu metode untuk menghadapi kuman. Selain membatasi kesiapan zat besi, protein ini menyimpan bagiankecil antimikroba yang dapat melubangi membran bakteri.

Bayangkan membran sebagai pembatas yang menjaga isi sel mikroba statis eksis di tempatnya. Ketika pembatas tersebut rusak, fungsi sel mikroba ikut terganggu.

Dalam klarifikasi resmi University of Oregon, Titas Sil, penulis utama riset sekaligus mahasiswa doktoral di laboratorium Barber, mengatakan peptida antimikroba sebagai bagiankecil krusial dari pertahanan mula tubuh. Kemampuannya menghadapi beragam patogen membikin himpunan molekul ini menarik untuk diteliti bagi pengembangan terapi.

Perubahan kecil bisa memengaruhi kekuatan melawan bakteri

Peneliti juga menemukan bahwa fluktuasi pada satu posisi asam amino dapat memengaruhi aktivitas laktoferisin terhadap mikroba tertentu.

Meski demikian, evolusi tidak membikin setiap varian protein selalu lebih kuat terhadap semua bakteri. Efeknya bersandar pada formasi peptida dan mikroba yang dihadapi.

Temuan semacam ini memberi instruksi untuk riset obat. Matthew F. Barber, associate professor sektor biologi di University of Oregon, menerangkan bahwa mempelajari sifat yang terbentuk dan terseleksi melalui evolusi dapat membantu ilmuwan mendesain alat antimikroba baru.

Dengan kata lain, mempelajari protein masa dahulu dapat membuka ide untuk menghadapi permasalahan infeksi pada masa kini.

Apa arti temuan ini untuk Bunda dan Bayi?

Penelitian tersebut menguji bagian protein di laboratorium. Hasilnya belum membuktikan bahwa peptida purba sudah bisa digunakan sebagai obat infeksi pada manusia.

Untuk keseharian, khasiat menyusui statis mengacu pada bukti kesehatan yang lebih luas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerangkan bahwa ASI hamil antibodi yang membantu melindungi bayi dari beragam pandemi yang lazim terjadi pada anak.

WHO dan UNICEF merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Setelah itu, bayi mulai mendapatkan MPASI yang terlindungi dan memadai sambil melanjutkan menyusui hingga usia dua tahun maupun lebih.

Apabila Bunda menghadapi hambatan menyusui, sokongan tenaga kesehatan dapat membantu mengatasi masalah dan memantau pertumbuhan bayi.

Di balik kandungan ASI yang kita kenal hari ini, rupanya tersimpan perjalanan evolusi yang dahsyat panjang, Bunda. Penelitian tentang laktoferin pun memberi kita kesempatan untuk memahami lebih jauh sepertiapa perlindungan alami tubuh terbentuk.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads