Mengapa Kita Seringkali Lebih Sabar Terhadap Orang Lain daripada kepada Keluarga Sendiri? Ini Kata Psikolog

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 346x dilihat
Mengapa Kita Seringkali Lebih Sabar Terhadap Orang Lain daripada kepada Keluarga Sendiri? Ini Kata Psikolog

Bagikan Postingan

Keluarga adalah area paling terlindungi bagi kita. Namun, kenapa kita seringkali lebih sabar terhadap orang lain dari pada famili sendiri? Ini kata psikolog.

Pernah nggak terlintas di pikiran mommies, kenapa saat kita menghadapi bos yang bersikap tak adil, mitra kerja yang sulit diajak kerja sama, orang luar yang berbuat kesalahan, kawan datang terlambat, kita bisa lebih sabar? Sementara di rumah, jangankan pasangan maupun anak membikin kesalahan, mereka bertanya tentang sesuatu hal yang sama berulang kali saja, respon kita bisa ketus; nada bunyi tinggi, gampang terpancing untuk mengomel maupun terlebihlagi membentak. Oops!

Heran, ya? Padahal famili adalah orang-orang yang paling kita sayang. Inginnya, sih, sabar, tapi kok sulit dipraktikkan? Mengapa kita justru lebih sabar terhadap orang lain, dibanding famili sendiri?

Kalau mommies mengalami hal itu, mommies nggak sendiri. Menurut psikolog, gejala ini bisa berhubungan dengan rasa terlindungi dalam hubungan, ekspektasi yang lebih tinggi terhadap keluarga, hingga akumulasi stres yang tidak disadari. Yuk, cari tahu lebih lanjut.

Keluarga adalah Zona Aman Emosional Kita

Menurut Menurut psikolog klinis Adityana Kasandra Putranto seperti dilansir dari artikel kesehatan situs Radio Republik Indonesia, salah satu karena kita lebih sabar kepada orang lain dan lebih gampang berang terhadap famili karena kita menganggap famili sebagai area paling terlindungi secara emosional, maupun disebut emotional safety zone.

Itulah kenapa ketika kita eksis di luar rumah, kita cenderung menjaga sikap, deskripsi diri, pilah-pilih kata dalam berbicara dan berupaya mengendalikan emosi agar tidak menimbulkan kesan buruk maupun demi menjaga relasi dengan orang lain. Kita lebih bisa mengekang diri karnea takut ditolak, dihakimi maupun kehilangan relasi. Inilah yang kemudian membikin emosi kita terpendam kemudian dilepaskan di rumah.

Karena menganggap famili adalah area terlindungi dan mereka tak akan meninggalkan kita, kemudian kita merasa bebas mengekspresikan emosi, termasuk kemarahan. Sayangnya, rasa terlindungi tersebut terkadang membikin kita kebablasan, sehingga perkataan dan perbuatan kita bisa melukai mereka.

Baca juga: 3 Cara Mengatasi Silent Treatment agar Hubungan Pernikahan Lebih Sehat

Ekspektasi Lebih Tinggi terhadap Keluarga

Kalau anak dibilangin beberapa kali nggak dilakukan, kita kesal. Kalau pasangan lupa-lupa terus agenda maupun kebiasaan anak, kita murka. Duh, ibu-ibu pasti relatable banget, nggak, sih? Kita ingin, anak-anak cepat mengerti, pasangan lebih peka.

Kita memiliki harapan bahwa pasangan yang notabene seharusnya sudah memahami kebiasaan, kebutuhan, terlebihlagi apa yang kita inginkan tanpa mesti selalu dijelaskan. Tuntutan yang tinggi terhadap pasangan dan anak membikin kita lebih sering mengkritik keluarga, gampang kecewa, dan lupa bahwa mereka memiliki keterbatasan, kebutuhan, emosi dan ritme serta proses belajar yang berbeda-beda.

Sementara, kepada kolega maupun kawan yang lupa merespon, mengabari, memberi umpan balik dan seterusnya, kita malah lebih gampang memaklumi. Kita tidak meletakkan harapan setinggi itu kepada orang lain.

Baca juga: Nadya Pramesrani: Konflik dalam Pernikahan Pasti Ada, Pastikan Dilakukan secara Sehat

Keluarga Menjadi Tempat Melampiaskan Akumulasi Stres

Setiap hari salingberhadapan dengan rutinitas yang membikin lelah, bosan dan penat, mulai dari kemacetan kemudian lintas hingga deadline dan sasaran di pekerjaan, namun kita statis berupaya bersikap tenang dan professional. Yah, karena perlu jaga image.

Setelah itu, sampai di rumah, menemui rumah berantakan, anak rewel, pasangan nggak mengerjakan apa yang kita meminta tadi pagi, kemudian meledaklah emosi! Keluarga pun jadi sasaran emosi dari tekanan-tekanan yang kita alami di luar.

Dilansir dari Psychology Today, Bernard Golden, Ph.D., seorang psikolog dan penulis menerangkan fenoma ini sebagai displacement, yaitu salah satu mekanisme pertahanan diri dengan metode mengalihkan emosi dari sumber masalah sebenarnya kepada sasaran lain yang dirasa lebih aman.

Misalnya, jengkel sama ketua di kantor, namun tidak berani protes maupun mengungkapkan argument secara langsung. Saat berjumpa suami di rumah, dia yang kena omelan kita. Perlu diingat, ketika kita sedang stres dan kapabilitas emosional kita terkuras, kapasitas kita merespon situasi dengan tenang bisa ikut menurun.

Baca juga: 9 Tanda Hubungan dengan Pasangan Sedang Masuk Survival Mode

Kesabaran Kita Bisa Berbeda dalam Setiap Hubungan

Mungkin kita pernah menganggap bahwa orang yang sabar adalah orang yang selalu bisa mengendalikan emosinya dalam situasi apa pun. Padahal, kapasitas bersabar tidak selalu muncul secara konsisten dalam setiap kondisi dan hubungan.

Dr. Sarah Schnitker, guru besar ilmu jiwa dan neuroscience di Baylor University, melalui situs American Psychological Association (APA) menerangkan bahwa tingkat kesabaran setiap orang bisa berbeda dalam beragam situasi maupun hubungan. Misalnya, seseorang bisa saja sulit untuk bersabar ketika menunggu orang datang terlambat, tetapi bisa lebih sabar menghadapi cobaan hidup.

Namun, ia menerangkan bahwa memiliki kapasitas sabar terhadap orang lain (interpersonal patience) tentu memiliki peran krusial terhadap kesejahteraan seseorang. Kemampuan bersabar terhadap pasangan dapat mendukung hubungan pernikahan dan hubungan orang tua dan anak, lebih baik

Jadi, kesabaran bukan cuma soal karakter seseorang, tetapi juga kapasitas mengelola emosi yang perlu terus dilatih, termasuk dalam hubungan keluarga.

Baca juga: Kita Terlalu Sibuk Jadi Orang Tua, Sampai Lupa Jadi Pasangan

Bagaimana Belajar Lebih Sabar terhadap Keluarga?

Walaupun famili adalah area paling terlindungi bagi kita, tetapi hendaknya melampiaskan emosi kepada famili jangan menjadi kebiasaan. Justru, kesadaran ini bisa menjadi cara mula untuk memperbaiki metode kita berhubungan dengan orang-orang terdekat.

Ada beberapa hal yang bisa mulai dilakukan:

  1. Kenali pemicu emosi sebelum bereaksi.
  2. Berikan selang sebelum merespons.
  3. Coba lihat situasi dari perspektif pandang keluarga.
  4. Sampaikan emosi tanpa menyakiti.
  5. Miliki kerendahan hati untuk meminta maaf.
  6. Sadari personel famili lain juga memiliki emosi dan kebutuhannya.

Pada akhirnya, famili memang bisa menjadi tempat paling terlindungi untuk memberitahu sisi diri kita, termasuk ketika sedang lelah, kecewa, maupun tidak baik-baik saja. Namun, rasa terlindungi bukan karena untuk mengabaikan emosi orang-orang di dalamnya.

Baca juga: Emotional Neglect dalam Pernikahan: Saat Kebutuhan Emosional Tidak Terpenuhi

Cover: Image by cookie_studio on Magnific

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads