Kapan Single Parent Siap Membuka Hati Lagi? 7 Tanda Ini Bisa Jadi Jawabannya

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 4 menit 510x dilihat
Kapan Single Parent Siap Membuka Hati Lagi? 7 Tanda Ini Bisa Jadi Jawabannya

Bagikan Postingan

Kapan single parent siap pacaran lagi? Kenali 7 tanda yang menunjukkan Anda siap membuka hati dan menjalani hubungan baru.

Tidak ada deadline untuk jatuh cinta lagi. Yang penting, jangan sampai rasa sunyi disalahartikan sebagai tanda sudah siap.

Menjadi single parent bukan berfaedah kehidupan percintaan kudu berhenti. Namun setelah melewati perceraian alias hubungan yang berakhir, wajar jika muncul pertanyaan: “Aku sudah siap pacaran lagi belum, ya?”

Menurut psikolog klinis Greg Matos, PsyD, tidak ada patokan pasti bahwa seseorang kudu menunggu sekian bulan alias tahun setelah perceraian sebelum mulai dating. Tidak ada bukti empiris yang mendukung patokan kudu menunggu satu tahun sebelum kembali dating. Yang lebih krusial adalah kesiapan emosional dan argumen di kembali kemauan untuk menjalin hubungan baru.

BACA JUGA: Tips Dating untuk Usia 40-an, Menyenangkan dan Anti Gagal

Lantas, apa tandanya?

1. Ingin punya pasangan, bukan sekadar mengusir kesepian

Kalau argumen utamanya adalah “aku nggak mau sendirian”, mungkin tetap perlu waktu. Berbeda ketika Anda merasa hidup Anda sudah cukup baik, tetapi mau punya seseorang untuk berbagi.

Matos juga menempatkan motivasi sebagai salah satu petunjuk krusial kesiapan untuk dating lagi. Apakah mau mengenal seseorang lantaran memang siap menjalani pengalaman baru, alias sekadar mau menghindari rasa sepi, takut sendirian, alias mencari pengesahan setelah hubungan berakhir?

2. Hubungan masa lampau sudah tidak mengendalikan hidup kita

Bukan berfaedah kudu melupakan mantan. Apalagi jika tetap kudu co-parenting. Namun, Anda sudah bisa memandang hubungan tersebut sebagai pengalaman yang bisa dipelajari, bukan luka yang terus menentukan pilihan Anda.

Photo by Matt W Newman on Unsplash

3. Tahu apa yang kita mau

Setelah pengalaman sebelumnya, Anda mungkin semakin tahu boundaries, nilai, dan karakter pasangan yang cocok dengan kehidupan Anda—termasuk kehidupan sebagai orang tua.

Pengalaman dari hubungan sebelumnya juga bisa membantu seseorang memandang kembali pola hubungan, langkah berkomunikasi, batasan, hingga red flags yang mungkin sebelumnya terlewat.

4. Kita tidak mencari “penyelamat”

Pasangan baru bukan obat untuk semua masalah. Anda boleh memerlukan support, tetapi hubungan sebaiknya menjadi tempat bertumbuh dan berbagi, bukan satu-satunya sumber kebahagiaan.

BACA JUGA: Pengalaman Seru Mencoba Dating Apps, Ada yang Sampai ke Pelaminan

5. Tidak buru-buru melibatkan anak

Dating boleh saja. Tapi tidak semua orang yang dikencani kudu langsung dikenalkan kepada anak.

American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org menyarankan orang tua tidak memperkenalkan setiap pasangan dating kepada anak. Tunggu sampai hubungan terasa cukup serius lantaran anak bisa membangun attachment dengan pasangan baru. HealthyChildren.org juga memberikan pedoman umum sekitar enam bulan setelah berpisah sebelum mulai dating, meski mereka mencatat bahwa dating bisa terjadi lebih sigap dan setiap family mempunyai kondisi yang berbeda.

Jadi, membuka hati lagi bukan berfaedah anak kudu langsung dilibatkan dalam setiap tahap kehidupan romantis kita. Ada proses dan pertimbangan yang perlu disesuaikan dengan kondisi family dan kesiapan anak.

6. Tidak lagi merasa bersalah mau punya kehidupan romantis

Menjadi orang tua bukan berfaedah berakhir menjadi individu. Anda tetap boleh flirting, dating, pergi dinner, apalagi menikmati kehidupan seksual—selama semuanya dijalani secara sehat dan tidak mengorbankan kebutuhan anak.

Photo by Alexander Sinn on Unsplash

7. Siap menerima bahwa hubungan baru belum tentu berhasil

Siap membuka hati bukan berfaedah percaya orang baru adalah “the one”. Anda siap mengenalnya, menikmati prosesnya, dan menerima jika rupanya tidak cocok.

Kesiapan untuk dating lagi juga bukan berfaedah seseorang kudu merasa sudah “sembuh total” alias percaya hubungan berikutnya pasti berhasil. Yang lebih krusial adalah bisa menjalani proses dengan kesadaran diri dan kematangan emosional, bukan menjadikan hubungan baru sebagai langkah untuk melarikan diri dari ketidaknyamanan.

BACA JUGA: Kenalan dengan Exer-Dating, Gaya Kencan yang Bikin Tubuh Sehat

Jadi, kapan single parent siap membuka hati lagi?

Tidak ada nomor pasti berapa bulan alias tahun yang kudu dilewati sebelum seorang single parent kembali dating. Kesiapan lebih terlihat dari gimana kita menjalani hidup setelah hubungan berakhir: apakah sudah bisa berbaikan dengan masa lalu, tahu apa yang diinginkan, tidak mencari pasangan hanya untuk mengusir kesepian, dan tetap bisa menempatkan kebutuhan anak sebagai pertimbangan penting.

Kalau beberapa tanda di atas mulai terasa familiar, mungkin memang tidak ada salahnya memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mengenal seseorang lagi. Pelan-pelan saja. Tidak perlu buru-buru menemukan pasangan baru, lantaran membuka hati juga berfaedah memberi ruang untuk mengenal diri sendiri dalam jenis yang sekarang.

Yang krusial bukan seberapa sigap kita jatuh cinta lagi, tetapi apakah kali ini kita memilih hubungan lantaran memang mau berbagi kehidupan, bukan lantaran takut menjalani kehidupan sendirian.

Cover: Photo by Priscilla Du Preez 🇨🇦 on Unsplash

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads